Kisah Cinta Pinggiran Desa

21

Juni 3, 2010 oleh sedjatee

Kriiing… Kriiiiiinggg… hanya sempat dua kali berdering di pagi buta, telfon itu segera diangkat.
“Hey.., Ryan… jangan keras-keras donk.!” Kata si pengangkat telefon itu sembari celingukan kiri-kanan. Sepertinya pengangkat telefon tadi menyalahkan si penelfon yang menyebabkan pesawat telfon itu bersuara keras. Padahal dering kuat itu karena setelan volume dering yang dimaksimalkan. Lalu sambil cekikikan pelan ia menyambung “Ntar kedengeran sama si beruang besar, mampus gue…” dan setelah beberapa menit berhaha-hihi dan bla-bla-bla sana-sini, akhirnya keluar juga kata penutup percakapan pagi itu “oke dehh… sampai jumpa nanti yaaa.., bye…”

“Ada apa Bik..?” tiba-tiba seorang gadis remaja berbusana tidur mendekat dari arah belakang. Hmm.., mungkin inilah si beruang besar itu, ah tidak, bisa jadi ini beruang kecilnya. “eh… enggak Non, anu… salah sambung” jawab yang ditanya sambil menunduk malu tapi mulutnya klecam-klecem. Beruang mengantuk itu percaya saja, sepertinya ia hanya menaruh celana dalam kotor di keranjang cucian, membuang bekas pembalut lalu kembali ke kamarnya.

Pagi yang sebenarnya pun dimulai. Bedinde bernama Mary itu menunaikan segenap tugas dan kewajibannya pagi ini dengan penuh semangat. Sang Nyonya yang keluar kamar agak kesiangan, kagum dengan kinerja Mary pagi ini. Rumah telah bersih dan rapi, air panas untuk mandi sang suami dan si Nona yang masih mendengkur juga sudah ada. Kopi, roti, selai dan mentega tersedia di meja. Halaman telah tersapu bersih, tanaman juga sudah basah kuyup disemprot air, padahal pak Min belum datang.

Jam enam pak Min datang, Mary langsung menyajikan teh hangat dan roti. Pak Min tahu sebagian tugasnya telah diselesaikan oleh Mary, kini ia tinggal berurusan dengan kedua mobil majikannya.
“Mimpi apa aku.. kok tumben kamu baik hati pagi ini…” kata pak Min sambil membuka pintu garasi,
“mau kemana to Nduk.., pagi-pagi kok sudah moblong-moblong begitu…?”
“Alaaaah.., pak lek ini mau tahu aja urusan anak muda…” jawab Mary sambil senyum-senyum.

Jam tujuh si Tuan berpamitan pada isterinya untuk berangkat kerja. “Sepertinya Mama belum sembuh benar, kalo gitu nggak usah dipaksakan datang, istirahat di rumah aja ya Ma…” si Nyonya menangguk. Dan anggukan itulah yang membuat Mary tiba-tiba lemas. Sebuah rencana telah hancur berantakan. Ia menutup gerbang depan dengan bibir monyong beberapa sentimeter, dan bibir itu tetap monyong walau pak Min menyapa dengan klaksonnya… tiin-tiiin…

Jam setengah sepuluh. Si Nona telah berangkat kuliah, dan Nyonya agak gemuk yang batal pergi itu memilih berleha-leha sambil memelototi telenovela. Ketika gerbang depan berbunyi tek-tek-tek dan terdengar siulan suiiit, suiiiit, Mary segera berlari ke depan. Lalu sambil clingak-clinguk kiri-kanan ia berbisik “Aduh sori yaa, hari ini nggak bisa, beruang besar sialan itu gak jadi pergi. Besok aja ya..”

********

Lima bulan lalu. Itulah awal mula wanita itu berdinas di belantara ibukota. Bermukim di perumahan kelas menengah, namun cukup mentereng, membuat dia banyak bergaul dengan kalangan yang maju, berpendidikan dan kehidupan yang cukup-cukup mapan.

Suatu pagi ia tiba-tiba lari sekencang-kencangnya mirip orang dikejar anjing. Usut punya usut rupanya ia benar-benar dikejar kirik ketika pagi itu ia hendak membuang sampah yang didalamnya terdapat tulang lutut sapi sisa sup tadi malam.

“Lontong… eh.. tolooong..”
“Ups… minggat loe…” lalu “kaing.., kaing…” binatang itupun balik kanan kemudian mengambil langkah seribu persis kirik dikejar setan. Dan pahlawan yang mengusir anjing itu ternyata seorang pria berkumis tipis dengan kunci mobil Toyota Camry di tangan kanannya.
“Udah… anjingnya udah lari mbak. Nggak usah takut” ujar pria itu dengan penuh simpati.
Matur nuwun ya Mas. Kalo nggak ada Mas, nggak kebayang deh…”

“Lho, bisa basa jawa to? Asalnya dari mana to Mbak?”.
“Saya dari Ngalengko… tetapi saya di kampungnya, dusun Kalipeteng.”
“Wooo. Ternyata tetangga to. Saya juga dari Ngalengko lho Mbak..! Dusun Alaskobong. Kenalkan nama saya Ryan. Mbak siapa?”
“Mary”. “Disini tinggal dimana?”.
“Nomer tiga puluh satu itu lho Mas. ”
Lalu bla-bla-bla, ngalor-ngidul dan akhirnya Ryan dengan segudang pengalaman berhasil meminta nomor telefon rumah nomor tiga puluh satu itu sekaligus membuat janji bahwa suatu saat dia akan berkunjung ke sana. Namun dengan catatan bahwa ia tidak akan datang kesana dengan Toyota Camry karena alasannya jarak yang cukup dekat bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Pertemuan itu membuat Mary berbunga-bunga. Betapa tidak, ia telah berkenalan dengan seorang yang mengaku bekerja di salah satu Bank Pemerintah, dan pria itu akan mengunjunginya. Seterusnya kedua orang itu acap bertemu di rumah nomor tiga puluh satu ketika rumah itu penghuninya, yang oleh babunya terkadang dijuluki beruang jantan, beruang besar dan beruang kecil, bepergian sekitar jam sepuluh pagi. Biasanya mereka hanya duduk-duduk di depan tivi sambil tertawa cekikikan.

************

Bulan Rajab ini Mary dan Ryan pulang kampung bareng-bareng. Maklum tetangga kampung. Mary begitu bangga karena Ryan bisa “cuti” dari kerjanya untuk mengantar dia pulang. “di desaku bulan Rejep ini ada nyadran , rame lho mas, biasanya ada acara wayangan dan campur sari segala.” Maka selera kampungan mereka kembali menggelora untuk melihat ritual-ritual itu dengan suka cita.

Malam purnama. Adegan Goro-goro dalang kampung Ki Suro Watoncarito belum juga kelar. Ryan menggandeng Mary lalu berhenti di dangau pematang sawah pinggiran desa yang jauh dari keramaian itu. Berbagai rayuan gombal mulai meluncur dari bibir Arjuna itu lewat lagu-lagu dangdut yang dinyanyikan dengan nada slendro. Mary hanya menimpalinya dengan tertawa kecil.

Senandung di tengah sawah gung liwang-liwung pinggiran kampung itu berakhir ketika di remang malam keduanya terlihat saling tindih lalu sesekali terdengar suara mirip lenguhan sapi dari mulut mereka. Lenguhan panjang pula yang menutup adegan perang baratayudha mereka. Lalu keduanya nglumpruk di atas jerami itu seperti orang yang baru saja menyantap pecel kangkung empat bungkus sekaligus. Mereka baru sadar dan bergegas bangkit ketika pantat mereka digigit semut geni. Ryan mengantar Mary kerumahnya sambil mengingatkan bahwa seminggu kedepan mereka bareng-bareng balik ke ibukota. Setelah itu ia balik ke dusunnya.

Seminggu kemudian, di dusun Alaskobong, “Bapak balik ke Jakarta dulu ya Le, kamu makan yang banyak ya, biar lekas besar dan bisa bantu emakmu ngarit menyabit rumput..” ucap Ryan pada bocah laki-laki berambut kuncung usia dua setengah tahun. “Yem, aku berangkat ya. Pulangnya nanti pas mau lebaran, ya sekitar dua bulan lagi.” Tuyem mengangguk melepas suaminya yang bekerja sebagai sopir pribadi salah satu petinggi bank pemerintah. Maka anaknya yang masih cadel menambahkan “belikan montol-montolan ya Pak.” si bapak hanya menjawab “Iyaa.. le”

Dalam bus malam menuju ibukota, Ryan duduk bersebelahan dengan Mary sambil ngobrol segala macam cerita. Tengah malam ketika mereka tengah terlelap, tiba-tiba Ryan membuka resleting celana dan memasukkan tangannya ke celana dalamnya sambil meringis. Ketika Mary bertanya ada gerangan apa? Ryan menjawab “biji anuku digigit tengu” mungkin binatang itu terbawa saat pergumulan di atas jerami.

Menjelang pagi giliran Mary yang awalnya berkedap-kedip tiba-tiba terbelalak lalu memerosotkan celana dalam dari dalam roknya. Hanya dilihatnya sebentar kemudian bersandar dengan wajah sedikit gugup. Ketika Ryan bertanya ada gerangan apa? Mary menjawab “harusnya haidku sudah keluar dua hari lalu, ini kok belum keluar-keluar juga”

*****************

Lebaran ini Ryan tidak pulang ke Alaskobong. Menurut Tuyem, Kang Yanto tugas piket. Tetapi dalam sebuah keramaian di sebuah desa di Kalipeteng, yang tak seberapa jauh dari Alaskobong, terlihat Ryan dengan busana sipil lengkap jas dan dasi. Majikannya hadir. Sedangkan Mary, dengan pakaian khas seorang jawa, digandeng sang ibu untuk duduk di sebuah meja kecil yang disitu telah menunggu Ryan dan seorang pencatat nikah.

“Saudara Sriyanto alias Ryan.”
“Saya pak…”
“Aku nikahkan anakku, Maryatun alias Mary binti Pailul, mas kawinnya sebuah cincin lima gram tunai”

Tiba-tiba muncul di dekat mereka seorang bocah Dusun Alaskobong yang datang dengan salah satu kerabatnya. Bocah berambut kuncung yang kira-kira berusia dua setengah tahun lebih dua bulan itu tiba-tiba berwajah ceria lalu berkata pada pengantin pria dengan suara cadel “Ee.. bapak kok disini. Montol-montolan dali jakalta-nya mana pak”

sedj – Rajab 1427
sumber gambar : pixdaus.com

21 thoughts on “Kisah Cinta Pinggiran Desa

  1. bundamahes mengatakan:

    ga enak mo komen pak!

  2. rista mengatakan:

    sebenernya bagus banget alur penuturannya pak…
    tapi saya sebagai paramedis merasa aneh ya… seminggu setelah kejadian di pinggir sawah itu (sensored. hehe) kok dihubungkan dengan telat haid??? emang bisa konsepsi secepat itu terdeteksi (dihubungkan dengan telat haid)???
    hehe maaf ya pak….

  3. INA mengatakan:

    wuih serem bacanya…mr!

  4. novi mengatakan:

    wah cerita dewasa nih mr… ^^

  5. Rudini Silaban mengatakan:

    wah jadi teringat sama ibu di kampung….

    nice post bro…

  6. HALAMAN PUTIH mengatakan:

    Saya sangat terkesan dengan bulan punamanya. Mengingatkanku pada masa kecil sewring main bersama teman2 di bawah terangnya sinar bulan.

  7. Chef Lamanda mengatakan:

    ceritanya bagus bgt nih mas, tapi ada beberapa yang janggal nih mas.

    Apanya yg janggal ??

    1. sudah dijelaskan sama mba rista
    2. binatang tengunya mas

    Lho kenapa tengunya ??

    “mereka digigit semut saat nglumpruk di atas jerami. 1 minggu kemudian mereka pulang bersama”

    Dalam bus malam menuju ibukota, Ryan duduk bersebelahan dengan Mary sambil ngobrol segala macam cerita. Tengah malam ketika mereka tengah terlelap, tiba-tiba Ryan membuka resleting celana dan memasukkan tangannya ke celana dalamnya sambil meringis. Ketika Mary bertanya ada gerangan apa? Ryan menjawab “biji anuku digigit tengu” mungkin binatang itu terbawa saat pergumulan di atas jerami.

    (berarti itu binatang bersarang dalam kolor ryan selama satu minggu ya mas hehehe.. maafkan saya juga ya mas🙂

  8. Dangstars mengatakan:

    Eehh…lontong
    Wakkkakakkkkk
    Ada tolong lupanya

  9. Dangstars mengatakan:

    Salam hangat dan ceria selalu
    Makasih cerpennya..
    Mantap

  10. darahbiroe mengatakan:

    hikz hikz
    nuy masuk BB 21 gag yaw
    hehehhe
    nice story sob
    salam😀

  11. kopral cepot mengatakan:

    cerita dewasa yang apik

    ditunggu ajah buku kumpulan cerpennyah😉

  12. Abdul Aziz mengatakan:

    Assalamu’alaikum,

    Sudah lama sekali saya tidak baca cerpen, cerpen di koran langganan saya biasanya bagus-bagus, tapi tak sempat saya baca. Bersyukurlah siang ini bisa baca cerpen Mas yang menarik. Saya kira lebih baik cerpennya dikirim ke media cetak kemudian dipost di sini. Dan bila sudah banyak dibukukan.

    Terima kasih.
    Salam.

  13. Usup Supriyadi mengatakan:

    Saya kira, cerita tidak terlaru dewasa dalam artian vulgar. Malah, banyak hal yang bisa dipetik. Tapi memang tidak semua pembaca mampu mengambil hikmah dalam sebuah cerita, kebanyakan dari pembaca hanya mencari hiburan semata. Padahal, meskipun fiksi, ia adalah sebuah potret kehidupan.

    Hebat nih, Pak. Jujur, kalau saya kurang piawai bercerita dengan bahasa “gue, loe” atau dengan memasukkan bahasa daerah. hehehe. tapi dari sini saya banyak belajar. terima kasih😉

  14. Delia mengatakan:

    Cerita yang indah mas sedjatee…
    kapa ya lia bisa nulis kisah kayak gini.. hehe

    salam hangat

  15. indra1082 mengatakan:

    cerita dewasa.. aku kan belum cukup umur😳
    nice story….

  16. wardoyo mengatakan:

    Sudah dua kali kubaca kisah cintanya… bagus sekali bung!
    Untung lakonnya bukan Surti (nanti dikira versi panjangnya Jamrud)…. hahaha. Salut.

  17. Virgo mengatakan:

    Wkwkwk sama kyk surti

  18. nikah şekeri mengatakan:

    nice sharing, the wait continues.

  19. dedekusn mengatakan:

    heuheu…..
    penuturannya hebat Mas… sy suka….

  20. uniharuni mengatakan:

    🙂 apa ini ya… menulis dengan “bebas”?
    tidak jarang saya juga menemui fenomena yang hampir sama
    cerpen yang bagus

  21. Handoyo mengatakan:

    Ha..ha..ha…,si Mary kapusan,wong arep rabi kok yo ora sowan nggon calon mertuo neng Alaskobong.Selanjutnya bagaimanakah nasip si rambut kuncung dan ibunya(Tuyem)..?? Lanjutkan critanya Mas Bro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: