Menangkap Senja

1. Senjakala di Pulau Dewata (lokasi : Pantai Kuta)

Tak lengkap rasanya jika ke Bali tak sempat memandang sunset di Kuta. Demikian seorang teman memprovokasiku saat kunjungan pertamaku ke Pulau Dewata. Maka diantara jadwal kunjungan yang hanya tiga hari, sore itu aku langsung ngacir ke Kuta, setelah acaraku berakhir tepat jam 17 di Denpasar. Pada pandangan pertama ini aku langsung bisa memaklumi mengapa Pulau Bali selalu menjadi bagian kerinduan para wisatawan. Berjalan dalam pelukan malam di bawah langit Bali yang jernih bersih, suasana sepanjang Legian terasa eksotik dan artistik.

Matahari telah tenggelam, tetapi rona merahnya masih menerangi Kuta yang meriah. Dan rona malam adalah panggilan untuk pulang. Dua peselancar berbincang tentang ombak Kuta yang menantang sembari pulang (gambar 1). Seseorang menyempatkan memotret panorama Kuta yang tersisa dibalik siluet senja (gambar 2). Lalu seorang bocah yang hendak pulang menatap camar yang juga mulai terbang kembali ke sarang (gambar 3). Ketika gelap telah sepenuhnya memeluk alam, Kuta tetap meriah dengan iramanya yang lain: kehidupan malam. Kemeriahan Kuta di malam hari terlihat dari sorot lampu dan pijar warna-warni iklan di sepanjang jalan. Pada salah satu papan reklame terpampang sepasang mata gadis Bali seakan mengintip aneka iklan yang menawarkan waralaba mancanegara (gambar 4).

2. Di Telapak Al Husna (lokasi: Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang)

Berkunjung ke Kota Semarang, singgahlah ke salah satu landmark kota lunpia ini: Masjid Agung Jawa Tengah. Bangunan utama masjid ini menonjolkan corak arsitektur Jawa Tengah dengan model atap limasan, yang dipuncaki dengan kubah tentunya. Di halaman depan, terdapat 25 pilar yang melambangkan 25 rasul. Dan puncak tertinggi adalah menara Al Husna setinggi 99 meter yang tak lain bermakna 99 nama asmaul Husna.

Saya bermaksud memotret waktu senja Kota Semarang dari puncak menara Al Husna. Namun sore itu saat kunjungan ke puncak menara telah berakhir, oleh karenanya saya hanya bisa mengambil gambar dari kaki menara. Dalam keremangan twilight senja masih jelas keindahan dan keagungan Masjid Agung Jawa Tengah (gambar 5 dan 6)

3. Perjamuan yang Riuh (lokasi : Gladag Langen Bogan, Solo)

Mencari sensasi bersantap adalah salah satu tren masyarakat urban. Dalam konteks ini yang dikreasikan untuk menuruti selera itu tak lagi sekadar varian kuliner semata, namun juga suasana bersantapnya. Di beberapa kota dunia, termasuk Jakarta, banyak resto yang menawarkan sensasi makan di menara-menara tinggi. Kali ini di Solo, sensasi makan adalah di tengah jalan.

Bertempat di Gladag, tepatnya di depan Pusat Grosir Solo, lokasi makan ini bukan berupa bangunan permanen dengan bangku dan meja untuk bersantap dan bercengkerama. Di Gladag, tempat makan malam disini adalah ujung jalan Slamet Riyadi. Menjelang sore, jalan ini ditutup untuk dipasang tenda dan bentangan tikar. Berbagai jenis kuliner terhidang disini baik yang khas Solo atau selera lainnya. Harganya? sangat merakyat. Paduan sensasi, variasi dan harga ini memunculkan suasana meriah di setiap malamnya (gambar 7). Reklame Gladag Langen Bogan itu sendiri terpampang mencolok dalam remang malam, menutup patung Brigjen Slamet Riyadi yang menjadi salah satu ikon kota Solo (gambar 8). Dan kerumunan manusia adalah media yang bagus untuk berpromosi, termasuk berpromosi dengan bahasa yang tak terlalu serius namun kreatif (gambar 9).

gambar-gambar: koleksi pribadi

Iklan

17 pemikiran pada “Menangkap Senja

  1. senja memang selalu menarik.
    semoga Masjid Agung Jawa Tengah penuh dengan jamaah setiap waktu shalat tiba, bukan malah jadi objek rekreasi belaka.

    gambar yang terakhir unik tenan. πŸ˜†

  2. Satu wajah untuk tampilan dua kota yang berbeda.
    Namun, pesona Masjid Agung Jawa Tengah itu… sungguh menggugah hati πŸ™‚

  3. Foto sunsetnya mengesankan..
    Foto masjid di Semarang itu menakjubkan
    Foto di Gladag bikin penasaran… πŸ™‚ πŸ™‚ (meski tinggal di Solo, saya termasuk kuper juga gak pernah makan di lesehan Gladag… selalu makan malam di rumah πŸ˜€ )
    Salam lesehan bung sedjatee.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s