Balada Tukang Perahu

15

Juni 18, 2010 oleh sedjatee

Dengan tampilan kumalnya itu, ia mendekat padaku. Usianya baru tujuh belas tahun, tetapi wajahnya jauh melampaui usia yang sesungguhnya. Ia menghampiriku untuk menawarkan salah satu layanan andalan industri pariwisata Kota Palembang: jasa wisata naik perahu di Sungai Musi. Tak ada yang menarik dari cara dia menawarkan produknya. Kata-katanya tak jelas, suaranya parau, wajahnya muram, tanpa senyum sedikitpun. Demikian halnya layanan yang ditawarkan. Hanya sebentuk perahu tua dengan mesin solar yang dekil dan ribut minta ampun. Sangat tak terawat, sangat tak masuk akal menjadikan perahu itu sebagai andalan wisata Sungai Musi.

Juju, demikian pria itu memperkenalkan dirinya kepadaku, adalah salah satu dari puluhan orang yang menggantungkan hidup pada sebuah perahu. Ia menjalankan moda angkutan yang semakin tak populer, mengangkut penumpang tepi Sungai Musi, tepatnya di sisi Pasar 16 Ilir Palembang, ke sisi seberangnya. Pun ia melayani tawaran pelancong yang hendak bersampan di sepanjang Sungai Musi. ”selama sungai ini masih berair, mungkin kami akan terus begini” katanya pasrah.

Sebenarnya ia tak sedang menggerutu, tetapi default wajahnya memang menyiratkan kesan wajah penuh kesedihan. Tetapi boleh jadi, perjalanan hiduplah yang menebalkan garis sedih di wajahnya. ”sekolah saya hanya sampai SMP. Tak ada biaya lagi. Ayah saya kerjanya juga jadi tukang perahu di sebelah sana.” katanya sembari menunjuk sisi lain di seberang Jembatan Ampera. Lalu ia berkisah tentang masa remajanya yang banyak ia habiskan diatas perahu, membantu sang ayah mencari nafkah. Ketika kutanyakan, apakah dimasa kecil ia pernah punya cita-cita selain menjadi tukang perahu, ia hanya menggeleng dengan kepala tertunduk.

Saban hari ia memandang jembatan Ampera yang menjulang diatas perahunya. Setiap hari pula ia melihat arus kendaraan diatas ikon kota Palembang itu semakin ramai, keramaian yang semakin menggerus probabilitas orang-orang menggunakan jasa perahu penyeberangan yang ditawarkannya. ”sekarang semakin sepi.” Dengan tarif tiga ribu rupiah sekali menyeberang, ia mengaku dalam sehari paling banyak mengumpulkan lima puluh ribu rupiah, angka itu ekivalen dengan belasan penumpang saja dalam sehari. ”sebagian untuk beli solar, sekitar dua puluh ribu.”

Ia mengaku tak pernah mendapat perhatian dari pemerintah. ”lebih sering, kami-kami ini malah ditertibkan” demikian dia mengiaskan pengusiran perahu-perahu jelek yang dianggap mengurangi pesona keindahan wisata sungai ini. ”sekarang banyak perahu-perahu bagus yang lebih disukai untuk berwisata, kalau perahu kami ini lebih banyak mengangkut orang-orang yang berbelanja” ujarnya pasrah.

Obrolan kami terputus tatkala rintik gerimis mulai menuruni langit-langit Palembang. Ia tak menampik ajakanku berfoto dengan latar belakang perahu lusuhnya. Ketika beberapa rupiah aku selipkan kedalam saku kemejanya, ia mengucapkan ”semoga sukses Pak”. Keremangan senja mulai terasa, aku berlalu meninggalkan tepian Sungai Musi yang tetap meriah dengan bau aneka masakan di tepiannya, dan deru mesin perahu di tengahnya. Aku berjalan sepanjang Jembatan Ampera. Dari kejauhan, kulihat Juju masih melambaikan tangannya kepadaku. Tak terasa lisanku berbisik pelan “semoga engkau juga sukses, Tukang Perahu”.

Sedj – Palembang, Juni 2010

15 thoughts on “Balada Tukang Perahu

  1. camera mengatakan:

    wah wah….

    pengalaman yang berkesan ya…

    saya merasa ada disana membaca penggalan ceritanya…

    makasih banyak…

    salam hangat…

  2. julianusginting mengatakan:

    itu foto dimana ya mas?

  3. Vulkanis mengatakan:

    Palembang waw..kerenn Mas

  4. Vulkanis mengatakan:

    Biasanya kalo Palembang saya teringat Mpe-mpenya Mas 😀

  5. My Surya mengatakan:

    “Semoga engkau juga sukses, ya Juju….”🙂

    Berada di atas jembatan Ampera, sungguh menyenangkan. He, soalnya, pernah pengalaman pertama-pertamanya lewat di atasnya… beberapa tahun yang lalu😀

  6. kopral cepot mengatakan:

    fotonyah guanteng mas😉

  7. Usup Supriyadi mengatakan:

    http://degoblog.wordpress.com/2010/06/14/epilog-dengan-puisi-mereka/

    Guru Bahasa dan Sastra Indonesia saya di SMA (dulu) orang Palembang, dan kerap kali kalau bertemu mengajak saya ke palembang, sayangnya urung terlaksana mulu……

    moga kapan tahu (insha Allah) saya bisa ke sana…. ^^

  8. NoRLaNd mengatakan:

    itu orang yg di foto baru 17 tahun !?
    terlintas seperrti orang berusia 30an (-_-“)
    seperti nya bekerja seperti itu, menguras tenaga dan pikiran terlalu banyak ya

  9. wardoyo mengatakan:

    16 Ilir…. jadi inget Palembang dan empek-empek 16 Ulu-nya.

    Penggalan kisah ini telah memenuhi berjilid-jilid halaman buku cerita tragis ketimpangan pembangunan daerah.
    Tabik.

  10. novi mengatakan:

    semoga dia diberi kesabaran dalam mengarungi hidup yang terkadang tiada bersahabat ini

  11. dedekusn mengatakan:

    Sy turut mendo’akan, semoga tukang perahu & kita Sukses….

  12. ummurizka mengatakan:

    Assalamu’alaikum…boleh bergabung ngga? hmm lumayan banyak n bagus-bagus postingannya belum sempat bacanya… btw dah makan mpek-mpek n krupuknya…😆

  13. Galang mengatakan:

    mencari perahu yang membawa pada tujuan kehidupan sejati

    salam kenal😉

  14. nuun mengatakan:

    setiap kali saya baca postingan mas, saya terkesan dengan gaya penulisan dan tentu nilai setiap postingan. Selalu ada pembelajaran di setiap jeda waktu pengalaman. Sukses mas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: