Kebanggaan yang Tak Dikenali

15

Juni 22, 2010 oleh sedjatee

Saat ini sangat mungkin kita semua tak terlalu familiar dengan kata-kata: parang barong, kawung, trumtum, udan liris atau sido mukti. Bila penyebutan nama-nama itu tidak menautkan ingatan kita pada motif batik, maka bisa dipastikan kita pun tak faham pada tampang motif batik dengan nama-nama tersebut, apalagi terkait dengan filosofi, sejarah dan peruntukannya.

Beberapa waktu lalu, iklan pariwisata negara tetangga memunculkan siluet wayang, juga gambar latar motif batik pada satu adegannya. Dua hal ini tiba-tiba menyulut sentimen budaya masyarakat negeri kita. Dengan penuh rasa posesif masyarakat mengecam pariwara itu, dilengkapi dengan berbagai klaim yang menunjukkan bahwa bangsa kitalah yang melahirkan dan memiliki dua karya budaya tersebut.

Pada 30 September 2009 batik, keris dan pertunjukan wayang Indonesia, bersama 76 seni dan tradisi dari 27 negara, masuk dalam dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia (Intangible Cultural Heritage of Humanity) oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Hal ini dapat diterjemahkan sebagai pengakuan dunia bahwa keris, batik dan pentas wayang adalah budaya Indonesia. Dalam siaran medianya, UNESCO mendeskripsikan batik sebagai kolaborasi teknik, filosofi dan kultur yang melingkupi kehidupan manusia Indonesia dari kelahiran hingga ajal. Batik juga merupakan identitas budaya yang dikaitkan dengan makna simbol-simbol yang mencakup warna, desain, kreasi dan semangat.

Pemerintah Indonesia telah menerima sertifikat UNESCO untuk tiga warisan budaya yang dikukuhkan tersebut. Inisiatif pemerintah selanjutnya muncul melalui seruan Menko Kesra untuk mengenakan produk batik di lingkungan kerja dan masyarakat, serta memajang wayang dan keris sebagai dekorasi interior di ruang-ruang kantor pemerintah / swasta. Kita mengapresiasi himbauan itu sebagai satu langkah melestarikan ikon budaya bangsa. Namun, sekadar memajang atau memakai hanya menyentuh sisi kasat mata dari warisan budaya itu. Ada banyak nilai dan filosofi yang perlu ditularkan untuk menguatkan rasa percaya diri saat menyebut keris, batik dan wayang sebagai kekayaan budaya kita.

Pada awal masa kekuasaannya, Panembahan Senopati, pendiri dinasti Mataram, melakukan perenungan di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan berbaris. Di salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing- yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak. Adapun motif Parang Barong adalah karya Sultan Agung Hanyakrakusuma. Sang Sultan ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.

Ada banyak variasi pola parang seperti Parang Kusuma, Parang Baris dan Parang Klithik. Di lingkungan elite Kerajaan Mataram, motif-motif parang tersebut hanya diperuntukkan bagi sultan dan keturunannya. Sedangkan motif Wahyu Tumurun disakralkan untuk hanya dipakai pada acara jumenengan alias penobatan. Motf Kawung dikenakan sultan pada acara-acara seremonial lainnya. Motif Sido Mulyo dan Sido Mukti dipakai dalam acara pernikahan, motif Tambal dipakai ketika sakit dan motif Slobog dikenakan dalam suasana duka cita.

Batik pada masa kelahirannya adalah kain busana bagian bawah. Batik berpasangan dengan kebaya sebagai busana para wanita, sedangkan untuk pria dikenakan dengan beskap. Cara pemakaian batik dan penempatan wiru yang berbeda antara pria dan wanita juga menyiratkan filosofi tersendiri. Filosofi lain juga dapat dipelajari dari ukuran kain yang dipakai, karena ada perbedaan ukuran panjang kain bagi kalangan tertentu.

Bila dicermati, pemakaian batik yang patuh pada filosofi diatas dapat dilihat pada penggambaran batik pada tokoh-tokoh wayang. Tokoh-tokoh raja selalu digambarkan mengenakan batik bermotif parang. Adapun tokoh-tokoh pendeta atau resi cenderung memakai batik bercorak truntum, sekar jagad atau udan liris. Kelompok permaisuri sering digambarkan memakai corak bondet, wahyu tumurun atau mega mendung. Kalangan pangeran dan satria mengenakan corak parang, atau gurda. Sedangkan kelompok rakyat jelata semisal mBilung, Togog, Petruk, Bagong, Cangik, Limbuk, dll selalu digambarkan mengenakan sidoasih, sidomulyo atau tambal. Sesekali saja, Semar, dewa yang mengejawantah, dan rombongannya mengenakan motif kawung ketika menghadap raja.

Seorang pedagang batik di pasar Klewer Solo pernah menuturkan bahwa ”pada masa dahulu pembuatan batik dilakukan dengan serangkaian ritual tertentu, para pembatik hanyalah kalangan wanita” katanya. Ibu sepuh yang dahulu adalah pembatik tulis ini menyatakan bahwa penyiapan kain, perendaman, penyiapan malam, takaran pewarna dan proses penulisan, dijalankan dengan berbagai aturan yang ketat. ”Bahkan ada jenis batik tertentu yang untuk menulisan garis-garis khususnya hanya boleh dilakukan dengan sekali hembusan nafas” lanjutnya. Itulah prosesi pembuatan batik yang begitu rumit, namun itu jugalah yang – konon – menjadikan pemakainya terkesan anggun dan berkharisma. ”Saya hanya menjual batik-batik klasik. Tak banyak yang memroduksinya saat ini. Tetapi batik-batik ini masih dibuat dengan metode klasik sehingga harga jualnya relatif mahal. Pembelinya hanya orang-orang tertentu saja, hanya yang benar-benar mengerti batik” demikian ibu sepuh itu menjelaskan kisah tentang batik yang sebenarnya.

Menyimak kisah sebagaimana yang dituturkan pembatik klasik diatas, boleh jadi itulah batik yang dideskripsikan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Namun ketika hari ini batik dipakai sebagai fesyen, dalam potongan kemeja bukan kain penutup badan bagian bawah, maka tak berarti sedang terjadi dekarakterisasi pada batik Indonesia.

Hari ini batik disandang oleh seluruh segmen masyarakat. Produksi batik secara kolosal, tentunya tanpa menganut ritual dan kaidah pembuatan batik klasik, memungkinkan batik untuk dapat diproduksi secara lebih efisien pada sisi biaya, yang akhirnya menjadikan harganya terjangkau oleh semua lapisan konsumen. Desain motif batik terkini yang tak terlalu berkonsep pada corak klasik, bernuansa lebih pop, kasual dan berorientasi pada selera pemakai, menjadikan batik juga disandang oleh semua segmen usia, termasuk kelompok pemakai yang paling sensitif terhadap tren gaya hidup yaitu kalangan remaja.

Sangat menyenangkan bahwa ternyata tangan-tangan kreatif generasi kini mampu mengonversi ide desain batik yang klasik-filosofis ke ranah fesyen yang nyaman pandang. Setidaknya ada dua keuntungan dari metamorfosis desain batik ini. Manfaat pertama pastinya adalah pada sisi ekonomi. Transformasi desain batik ke corak nyaman pandang menjadikan batik lebih disukai untuk dipakai. Ini tentu menggairahkan industri batik Indonesia. Manfaat kedua adalah dilihat pada sisi budaya. Maraknya corak baru yang didominasi oleh selera pop tadi, secara tak langsung mengembalikan corak-corak klasik ke rumah yang sesungguhnya, yaitu ke area pemakaian yang sesuai dengan filosofi asalnya. Sederhananya, corak klasik yang diperuntukkan untuk kalangan elite misalnya, tak lagi ditemukan dipakai secara sembarangan oleh pemakai batik awam di lingkungan keraton, karena sangat mungkin hal itu menyentuh sensitifitas kewibawaan kalangan istana.

Pengalihfungsian batik dalam wujud kemeja, rok, bahkan jaket, disertai banyaknya variasi desain dan warna, dan harganya yang berragam, diharapkan bisa membuat batik menjadi lebih populer. Pengukuhan batik sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, hendaknya juga bisa menyisipkan rasa bangga untuk mengenakannya. Tulisan ini hanyalah pengusik memori kita untuk mengingat kembali tentang sejarah dan filosofi batik yang mungkin telah banyak kita lupakan. Karena, tentulah terasa lebih nyaman jika saat kita mengenakan batik kebanggaan, kita juga punya rasa percaya diri untuk menceritakan tentang batik yang kita pakai, bukan sekadar menjadi ahli waris budaya yang tak tahu sedikitpun pada apa yang diwarisi.

sumber gambar : batikmalioboro.com dan blog.indahnesia.com

15 thoughts on “Kebanggaan yang Tak Dikenali

  1. Hanik mengatakan:

    nice post =)

  2. camera mengatakan:

    hehehe…

    saya berterima kasih pada UNISCO…

    akhirnya hak cipta batik benar” milik kita…

    makasih infonya…

    salam hangat…

  3. bundamahes mengatakan:

    ulasan yang lengkap yang hampir pasti ditemukan di tiap tulisan Pak Om!

    10 thumbs up!😀

  4. marjikun mengatakan:

    batik memang dari dulu adalah karyacipta nenek moyang kita, terutama nenek moyang kita yang hidup di pulau jawa. untuk di daerah sumatera kalimantan memiliki kain khas sendiri yang biasa dikenal dengan kain tenun.

    itu setahu saya sih hehehehe🙂 kalo ada salah maaf ya.

  5. ummurizka mengatakan:

    wah bingung mau kasih komennya dah lengkap banget sich… btw trend batik memang tak lekang oleh zaman…

  6. shafiragreensulaiman mengatakan:

    batik memang keren… ga abis – abis masanya😀

  7. Abdul Aziz mengatakan:

    Assalamu’alaikum,
    Pengukuhan batik sebagai warisan budaya dunia 2 Oktober 2009 lalu, membuat bangsa kita bangga dan para pengrajin batik kegirangan. Dengan gencar dianjurkan memakai batik pada hari itu.

    Bupati Cianjur membuat aturan untuk memakai batik setiap tanggal 2, bagi PNS. Tapi sampai sekarang batik yang direncanakan khusus buat seragam itu belum ada.

    Diperkirakan sesudah diakui dunia pemakaian batik akan meningkat secara signifikan, tapi tampaknya biasa-biasa saja.

    Terima kasih Mas.
    Salam

  8. sunflo mengatakan:

    jadi inget mbah di desa mr… batiknya itu lho, beliau sering pake dan seneng bgt ma batik

  9. novi mengatakan:

    disempatin menyapa sebelum boyongan… ^^

  10. My Surya mengatakan:

    Batik memang mampu menebarkan pesona tersendiri bagi pemakai dan pelihatnya, seperti hari ini yang terasa berbeda ketika Bapak-bapak dan Ibu-ibu beramai-ramai menggunakannya,
    Terima kasih wahai pengrajin batik yang penuh ketekunan,…🙂

  11. wardoyo mengatakan:

    Aku bangga menggunakannya….
    *meski hanya sedikit yang kupahami maknanya*

    Mantap.

  12. M Mursyid PW mengatakan:

    Wah Pekalongan ma sebutannya saja kota Batik, Mas. Jadi di sini batik ya super populer. Baju batik, sarung batik, bahkan kaos oblongpun dibatik, serba batik.

  13. Irawan mengatakan:

    Semoga batik bisa tetap bertahan dan lestari sebagai budaya bangsa Indonesia

  14. haris ahmad mengatakan:

    apa kabar kang?

    berkunjung dimalam hari

  15. kopral cepot mengatakan:

    “bukan sekadar menjadi ahli waris budaya yang tak tahu sedikitpun pada apa yang diwarisi”

    Kata2 penutup yang “nyintreuk” ulu hati anak negeri yang tak tau akan apa yang di warisi … “good point” mas n hatur tararengkyu😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: