Lagu Kematian Seorang Serdadu

Ketika engkau membaca surat ini, isteriku, sangat mungkin aku sedang berjibaku dengan perang yang tak pernah kupilih. Tetapi pertempuran ini harus kujalani, suka atau tak suka. Keterlibatanku pada perang ini bukan karena aku membenarkan perbuatan Kakang Rahwana yang menyimpangi budi pekerti, tetapi karena aku mempertahankan tanah kelahiran yang aku cintai.

Isteriku, aku telah berada di Gunung Suwelagiri dan sayup-sayup telah kudengar lagu kematian terdendang untukku. Sesungguhnya aku telah menasihati Kakang Rahwana agar mengembalikan Dewi Sinta ke pangkuan Sang Rama, tetapi Kakang Rahwana selalu menentangku. Ia katakan bahwa mengembalikan Sinta kepada Rama adalah aib seorang maharaja, dan seperti biasa Kakang Rahwana selalu menampik kata kalah.

Dahulu, aku dan Kakang Rahwana bertapa memohon kesaktian kepada Dewata. Para dewa lalu mengabulkan pinta Kakang Rahwana untuk menjadi tak terkalahkan oleh bangsa manusia, bangsa dewa dan bangsa raksasa. Dan oleh karenanya Kakang Rahwana menjadi raja yang sombong setelah mengalahkan kerajaan bumi, laut dan udara, termasuk kerajaan para Dewa. Tetapi kali ini Kakang Rahwana lupa bahwa sekarang ia berhadapan dengan wadyabala kera yang tak menjadi bagian dari kesaktiannya. Sejarahnya di Alengka akan segera tamat sebagaimana aku telah melihat wajah Bathara Wisnu pada diri Ramawijaya.

Isteriku, ambisi dan ketamakan adalah pangkal malapetaka. Kakang Rahwana merampas tahta Alengka dari tangan Eyang Prabu Sumali, membunuh Kakang Danapati ketika merebut Lokapala, lalu ia semakin bernafsu menaklukkan alam persada. Hendaklah ini menjadi pelajaran bahwa hawa nafsu tak akan pernah menemukan kata akhir. Maka sesungguhnya jiwa yang kuat adalah jiwa yang sanggup mengendalikan hawa nafsunya. Dan Kakang Rahwana hanyalah maharaja yang berjiwa kerdil, hatinya terbakar oleh ketamakannya sendiri.

Hidup dalam damai adalah keindahan, sedangkan menolak perdamaian adalah kesombongan. Isteriku, aku telah lama menganjurkan jalan damai tetapi Kakang Rahwana selalu menolaknya. Sri Rama telah mengirim Jaya Anggada sebagai duta perdamaian, setelah Hanuman yang santun dan halus perangainya ditolak Kakang Rahwana. Tetapi itikad damai yang dibawa kedua duta Sri Rama menemui jalan buntu.

Isteriku, kehadiranmu sebagai pendampingku, adalah bukti kekalahan para dewa atas Kakang Rahwana. Ia menggempur dan menaklukkan Kahyangan untuk membuktikan bahwa ia tak terkalahkan oleh bangsa apapun. Nasehatku tak kuasa menahan ambisinya, ia menggempur kahyangan hingga para dewa takluk lalu menyerahkan dirimu dan dua bidadari lain kepada Kakang Rahwana. Sejak itulah Kakang Rahwana menjadi besar kepala. Ia merasa mampu menggenggam dunia, dan kini ia pun lupa bahwa ajal telah mendekatinya.

Indrajit membangunkan tidurku dengan segala kekasaran yang tak pantas. Ia mencabut bulu ibu jari kakiku dengan semena-mena untuk menyampaikan panggilan raja mereka. Kakang Rahwana menuduhku sebagai seorang penidur yang tak tahu balas budi. Isteriku, aku bukanlah orang picik seperti yang dituduhkannya. Dengan surat ini aku pamit kepadamu, menempuh jalan ksatria meski hatiku tak sepenuhnya menerima. Sampaikan salamku kepada seluruh rakyat Pangleburgangsa yang kucintai, tak usah mereka semua menyertai kepergianku ke medan peperangan ini.

Isteriku, anak kita tercinta Aswanikumba telah gugur oleh tengan Sugriwa dan Hamoman. Aku sedih, anakku harus berkalang tanah di umur belia sebagai tumbal ketamakan rezim angkara murka. Tak ada lagi yang bisa menahan hatiku untuk berada di kubu Alengka lebih lama. Adinda Wibisana telah bersatu dengan kubu Seri Rama. Paman Patih Prahasta dan Ditya Kalamarica juga telah menumpahkan darahnya, tanah kelahiranku telah porak poranda.

Isteriku, busana putih ini adalah simbol bersihnya niat hatiku, sekaligus isyarat kesiapanku menyambut panggilan nirwana. Kembalilah ke kahyangan, tempat terbaikmu, Isteriku. Sang Wisnu yang bersemayam pada raga Rama, telah bersiap menjemput jiwaku. Aku tak akan melawan mereka. Akan kubiarkan panah Wisnu menghujani tubuhku. Kematian adalah saat yang kunantikan. Inilah saatnya aku melepaskan diri dari tangan kotor Kakang Rahwana. Lebih dari itu semua inilah saat terbaikku untuk bersamamu berada di tempat yang paling kuimpikan, di istana nirwana yang berlangit biru…

sedjatee – sya’ban 1431

Iklan

15 pemikiran pada “Lagu Kematian Seorang Serdadu

  1. Kisah mengharukan,
    kisah kematian serdadu yg tak kuasa berontak melawan murkanya Rahwana…. *mudah2an ga salah komen*

    Sepertinya dizaman ini banyak juga Rahwana… yg semena2 dgn kekuasaannya, Naudzubillah…

  2. Banyak makna yang terkandung dari epos ramayana ini, tentang kesetian pada pemimpin, pengorbanan meski maut telah menanti, tentang ketamakan yang tidak akan langgeng, tentang ketetapan akan nasib yang tidak bisa diubah lagi …………………
    makasih kang telah berbagi cerita yang mengharubirukan ini 😉
    Salam hangat serat jabat erat selalu dari Tabanan

  3. Lihat gambarnya langsung ingat Kumbakarna, sebenarnya ia bukan orang jahat.
    Kalau dalam Mahabarata seperti Resi Bisma yang membela negaranya meskipun pemerintah di negaranya itu jelas salah.

  4. tapa tidurnya hanya karena tidak ingin mengetahui kebobrokan tindakan Rahwana, tetapi ketika alengka hancur lebur dan indrajit membangunkanya tetaplah dia bertindak

    bukan karena membela rahwana tetapi membela tanah tumpah darahnya, meski dalam pertempuran bertemu sang adik yang membela rama tetapi demi nasionalisme dan patriotisme pantang baginya untuk mundur dari palagan…………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s