Jalan Berputar Sebuah Siklus

23

Juli 19, 2010 oleh sedjatee

Jika kita meyakini bahwa kehidupan ini mengalami sebuah siklus, bolehlah kita saling berpesan agar tak terlalu menepuk dada ketika berjaya dan jangan terlampau bermuram durja ketika mengalami kegagalan. Bagi kita para pemeluk ajaran Kanjeng Nabi Muhammad, hendaklah meyakini bahwa Gusti Allah memberi jaminan sebagaimana diwahyukan dalam Al Insyirah bahwa sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan. Hanya, kesabaran kita sering mempertanyakan berapa lama proses pembalikan itu butuh waktu?

Tak ada yang sanggup menjawab dengan pasti. Sebuah besaran bernama waktu memang bisa diukur, tetapi yang bisa diukur adalah waktu yang telah lalu. Sedangkan waktu yang akan datang, kita akan mengalami kesulitan mengukurnya, termasuk menaksir sebuah siklus.

Kita semua belum lupa tentang bagaimana perekonomian juga mengalami siklus. Sejak abad 17-an kita semua meyakini pendapat klasik dari yang menyatakan bahwa konjungtur atau siklus ekonomi akan terjadi alamiah dalam satu sistem laissez-faire. Istilah laissez-faire sendiri adalah suatu frasa perancis yang bermakna : biarkan terjadi, yang kemudian menjadi sinonim dari sistem ekonomi pasar terbuka. Dalam suatu siklus ekonomi, sebuah resesi dalam perekonomian adalah bagian dari siklus ekonomi dimana kemudian akan datang periode recovery dan masa-masa puncak terjadi lagi.

Ketika depresi hebat menerpa ekonomi AS tahun 1926-an, sesuai gambaran siklus ekonomi, banyak orang mengingatkan pada teori klasik bahwa resesi akan segera berlalu. Tetapi tak satupun yang berani mengatakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk memulihkan perekonomian. Sungguh sebuah masa yang sangat sulit bagi Paman Sam. Mereka memerlukan pertolongan seorang Inggris bernama John Maynard Keynes untuk mendorong siklus ke fase pemulihan alias mengakhiri krisis itu sendiri.

Di alam fana ini, satu-satunya yang abadi adalah ketidakabadian itu sendiri. Hidup adalah suatu perputaran nasib, oleh karenanya siklus adalah sebuah keniscayaan. Maka yang cukup bijak adalah yang mampu bertahan lama di puncak siklus, atau mengakhiri siklus itu ketika berada di puncak. Popularitas, kejayaan, kekuatan ataupun kehebatan suatu tokoh atau rezim, akan menjalani fase gradasi pada masanya. Itu karena siklus tak hanya mempergilirkan kejayaan dan kegemilangan namun juga kemunduran dan keruntuhan.

Tak terbayangkan bila peradaban besar banyak yang kini tinggal cerita. Negara-negara besar telah runtuh. Banyak orang hebat bertumbangan, para pahlawan berguguran, menjelaskan putaran siklus kehidupan dengan konkret. Peradaban silih berganti, tren dan gaya terus berputar, berpacu menuju ke batas akhir. Tak diduga juga bahwa negara-negara yang kalah atau yang baru lahir setelah perang dunia kedua kini tampil sebagai kekuatan dunia. Banyak kuda hitam atau kalangan medioker yang dengan kegigihannya mampu menghapus status pecundang dan menyandang status pemenang.

Bergulirnya langkah hidup dalam suatu siklus yang berputar setidaknya memberi beberapa hikmah. Pertama, sebagai bukti superioritas Sang Maha Pencipta atas segala makhluknya. Kedua, sebagai pengingat untuk senantiasa bersabar dan gigih dalam berikhtiar. Ketiga, sebagai pengingat untuk berhati-hati, tidak berlaku sombong, serta agar bersiap menghadapi situasi terburuk dalam kehidupan.

Kematian adalah stasiun akhir siklus kehidupan. Tak ada yang sanggup menunda kematian kendati barang sedetik. Tak juga orang kampung sebelah yang berita kematiannya tiba saat saya menulis tulisan ini. Tetangga sebelah kampung kami yang mati pagi ini bernama Urip. Urip artinya hidup. Tetapi kali ini mbah Urip akhirnya mati.

sumber gambar: cartoonstock.com

23 thoughts on “Jalan Berputar Sebuah Siklus

  1. haris ahmad mengatakan:

    jangan menepuk dada ketika berjaya
    jangan terlampau bermuram durja ketika mengalami kegagalan

    dunia ini berputar kadang di atas kadang dibawah🙂

    sukses buat kang sedj

  2. ummurizka mengatakan:

    Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..Mbah urip itu siapa bah? …btw ditunggu komennya..

    • sedjatee mengatakan:

      ini tulisan lama, nulisnya di rumah eyang, ingat banget
      soale belum pada ngumpul di smrg
      nah.. yang ngasih kabar waktu itu bikin bingung
      katanya “morotuwane si anu mati”
      aku balik tanya “sopo sing mati?”
      jawabnya “urip”
      aku bingung “iki piye to, urip opo mati”
      jawabnya lagi “sing mati jenenge urip”
      barulah aku ngakak…
      hehhee..

      • darahbiroe mengatakan:

        nah tar kalau ngumpul ke semarang mmpir juga sob ke t4 q
        hahahhaha😀

      • My Surya mengatakan:

        Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun….
        Beliau yang bernama “Urip” telah lama tiada…
        Lalu, kita yang namanya bukan Urip, pasti begitu pula, ya ..🙂

  3. julianusginting mengatakan:

    saya percaya kehidupan merupakan siklus..🙂

  4. orange float mengatakan:

    hidup layaknya sebuah roda, kadang kita berada di posisi atas dan juga ada masanya di bawah

  5. fathurrohim mengatakan:

    met sore semua..🙂

  6. alamendah mengatakan:

    hanyalah Tuhan saja yang abadi….

  7. citromduro mengatakan:

    slamet kecelakaan mati
    mati kok slamet

  8. bundamahes mengatakan:

    bukannya siklus itu memang berputar ya pak?!

  9. kalabang mengatakan:

    Datang berkunjung hanya untuk mengucapkan ”Selamat Malam, Pak ! ”. Abisnya bingung mau komentar apa…

  10. z4nx mengatakan:

    banyak orang tua sunda meyakini, katanya hidup berputar..

  11. New Bie Oon mengatakan:

    saya masih belum paham memaknai “Bergulirnya langkah hidup dalam suatu siklus yang berputar” maksudnya disini seperti apa ya?? mengulang sebuah kehidupan yang sudah terjadi sebelumnya yang hanya saja runtutan ceritanya berbeda atau?? ah mohon maaf jika pertanyaan ini terlalu bodoh..

  12. M Mursyid PW mengatakan:

    Makanya hidup jangan sampai sia-sia. Harus terus berjuang.

  13. Usup Supriyadi mengatakan:

    ini sama dengan akan dicabutnya ilmu dari muka bumi dengan jalan dicabutnya nyawa-nyawa para ulama yang lurus…

    wa allahu a’lam

    semoga kita diberikan akhir yang baik. amin

  14. Hary4n4 mengatakan:

    yg berjiwa pasti menemui kematian, namun jiwa itu sendiri akan tetap abadi dan menjalani kehidupan selanjutnya…

    salam hangat dan damai selalu..🙂

  15. Vulkanis mengatakan:

    Semacam mata rantai ya Mas 😀

  16. bundadontworry mengatakan:

    ” di alam fana ini, satu2nya keabadian adalah ketidak abadian itu sendri”

    quote diatas membuatku menyadari, selama kita masih berada di dunia fana ini, jangan terlalu berharap banyak utk bisa meramal hari depan, bila kita tdk bekerja keras sejak awal.
    begitu khan Mas ?
    salam

  17. widayanto mengatakan:

    great

  18. […] Gunung Sinabung dan Mbah Marijan * Memperpanjang Malapetaka * Jalan Berputar Sebuah Siklus Dan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: