Sebuah Tanya

28

Juli 23, 2010 oleh sedjatee

Akhirnya semua akan tiba,
Pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih bicara selembut dahulu,
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap,
Sambil membenarkan letak leher kemejaku?

Pada masa kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Khattab, ketika Suriah dijangkiti wabah thaun alias campak yang menewaskan banyak orang, Sang Gubernur, Abu Ubaidah bin Jarrah dikirimi surat oleh sang khalifah. Isi surat tersebut adalah agar sang gubernur segera kembali ke Madinah agar tidak tertular wabah. Hal ini sangat wajar dan masuk akal, negara memfasilitasi dan melindungi kesehatan dan keselamatan pejabat publik. Namun dalam surat balasannya Ibnu Jarrah mengatakan: adalah tidak pada tempatnya seorang pemimpin meninggalkan rakyatnya yang tengah bergelut dengan wabah dan kematian. Biarlah cobaan ini aku hadapi bersama-sama mereka.

Kisah 14 abad yang lalu ini membawa dua pesan yaitu empati dan keteladanan. Sebagai pejabat negara, boleh saja Ibnu Jarrah langsung angkat kaki meninggalkan tempat yang berresiko bagi kesehatannya. Tetapi ia tidak melakukan itu. Ia membuat keputusan yang mengedepankan akal sehat, empati dan keteladanan. Orang sinis boleh menganggap ini sebagai cerita-cerita langit. Namun perlu digarisbawahi bahwa kisah ini benar-benar ada, bukan sebuah bualan sejarah.

Kontras dengan kisah di negeri ini. Ketika kinerjanya yang memble banyak disoroti, termasuk kebiasaan mendengkur dalam forum sidang, para wakil rakyat yang terhormat kembali membuat sensasi. Ketika rakyat kecil gelisah dengan rencana kenaikan tarif listrik, ketika orang-orang pinggiran berjibaku dengan tabung elpiji yang meledak dimana-mana, anggota dewan yang mulia mengembuskan isu tak kalah menyesakkan.

Sensasi miring itu adalah ambisi mendapatkan dana aspirasi yang nilainya begitu membelalakkan mata. Begitu gigihnya dana itu diperjuangkan hanya dengan alasan karena parlemen di beberapa negara juga telah menerapkannya, dengan apa yang disebut sebagai pork barrel. Untunglah, masih banyak orang berhati jernih yang berani menentang ide itu. Beberapa kalangan menyebut ide itu sebagai rencana korupsi legal. Pengamat politik menyebutnya sebagai hal yang tidak berdasar. Megawati Soekarnoputeri menentang mentah-mentah gagasan yang disebutnya ngawur.

Secara status, sah-sah saja Abu Ubaidah bin Jarrah melakukan hal yang bersifat khusus – yang boleh jadi akan terkesan berlebihan – karena ia seorang pejabat negara. Namun bening hatinya menolak. Bahkan untuk sesuatu yang lazim bagi seorang gubernur pun ia tak melakukannya karena keadaan rakyatnya sedang tidak begitu menyenangkan. Akhirnya Sang Gubernur wafat karena penyakit yang sama dengan rakyatnya.

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap, kau dekap lagi lebih mesra, lebih dekat
apakah kau masih akan berkata : kudengar derap jantungmu

Ditilik dari gaya bertuturnya, bait-bait puisi diatas ditulis oleh seorang yang terbiasa hidup dalam kemapanan, namun jengah dengan kondisinya. Sang penulis puisi punya segala syarat untuk membiasakan diri dengan pola hidup yang berkualitas. Ia terpelajar, dari keluarga berkecukupan dan memiliki sumber daya finansial yang sangat memadai untuk hidup secara sangat bermartabat.

Tetapi semua kondisi diatas tidak digunakannya untuk menjustifikasi dirinya hidup dalam kenyamanan. Ia memilih hidup sederhana. Ia menyatakan tabu pada kesenangan dan kegemerlapan yang tidak pada tempatnya. Mengapa? Karena pada tahun 1969 saat puisi itu ditulis, nusantara ini sedang dilanda wabah busung lapar. Di jakarta begitu panjangnya orang mengantri untuk setakar minyak tanah, anak-anak bersekolah tanpa sarapan dan bertelanjang kaki. Beberapa bulan setelah ia menulis puisi diatas, atau sehari sebelum ulangtahunnya ke 27, pada Desember 1969, penulis puisi itu, Soe Hok Gie, menempuh kematian dengan cara yang tak dipilih oleh orang-orang yang hidup mapan, tewas karena gas beracun di Puncak Semeru.

Kuncinya adalah hati. Disitulah bermukimnya empati dan akal sehat. Gie dan Ibnu Jarrah, hidup pada kurun masa dan sekat geografis yang berbeda. Tetapi mereka punya kelembutan dan kepekaan hati yang sama. Maka bolehlah sekarang kita melontarkan sebuah tanya: kemanakah hati nurani para penguasa? tak cukupkah kisah Gie dan Ibnu Jarrah sebagai pelajaran? adakah empati dan akal sehat telah dibinasakan oleh ambisi dan egoisme?

kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

sedjatee – sya’ban 1431

sumber gambar : kohutrealestate.com dan sulekha.com
puisi : Sebuah Tanya – Soe Hok Gie, April 1969

28 thoughts on “Sebuah Tanya

  1. bundamahes mengatakan:

    PERTAMAX!!!
    as usual, 10 thumbs up!πŸ˜€

  2. ummurizka mengatakan:

    Kasih komen yang pertama dulu deh …jawabnya karena kita hidup dalam era pemimpin yang menggigit…jadi ya demikian fenomenanya..

  3. ummurizka mengatakan:

    Rupanya kalah dulu ding dengan bundamahes he…

  4. asepsaiba mengatakan:

    Sungguh sebuah tulisan yang menyejukan di pagi hari mas… Semoga par pemimpin dan “wakil2” kita diberi hidayah oleh-Nya…

  5. Hanik mengatakan:

    yang pada memperjuangkan utk dapat dana aspirasi itu buta ato gimana sih…?
    nice post!

  6. antokcupu mengatakan:

    hikz hikz
    pada disentil nuy ama sedjate hehehe…
    smoga kedepan indonesia makin maju dan sejahtera ahh
    amienπŸ˜€

  7. Vulkanis mengatakan:

    Puisinya perlu dijawab gak Mas..?
    Keren yah…

  8. bundadontworry mengatakan:

    tulisan yang cerdas sekali, yang mampu membuat kita menyadari, paling tdk utk menjadi pemimpin bagi diri sendiri .

    keadaan negeri kita memang sudah coreng moreng, namun masih ada harapan, semoga satu hari, entah kapan, akan ada perubahan, semuanya memang kembali pd niat dan cinta pada negeri .
    salam

  9. Kakaakin mengatakan:

    sesungguhnya orang yang mengaku2 mewakili itu telah sengaja membangun tembok yang lebih tebal dan panjang dari tembok cina, terhadap orang yang katanya diwakilinya. Tinggallah kisah Ibnu Jarrah menjadi sebuah kisah yang tercetak manis dalam buku tanpa pernah dibuka2…

  10. kalabang mengatakan:

    Suatu sikap yang patut kita teladani, tapi hanya bagi orang yang masih punya hati nurani.
    Tukeran link yuk mas…

  11. konekkita mengatakan:

    kita begitu berbeda dalam semua
    kecuali dalam cinta

    betul … betul … betul … (upin ipin mode ON)

  12. Hary4n4 mengatakan:

    sebuah contoh kisah, memang tak harus sekedar dibaca dan diceritakan, namun selayaknya dipahami dan dijalani..

    salam hangat..
    salam damai selalu..πŸ™‚

  13. fathurrohim mengatakan:

    saya baca duluπŸ˜€

  14. winant mengatakan:

    para wakil kita tak ada bedanya dengan pemerintahan tirani pada masa lalu
    kalo yang kumpul rapat berlatar belakang pengusaha, UU yang dihasilkan tentu saja berpihak pada pemodal, kalo yang rapat berlatar belakan kontraktor tentu saja akan nyari proyek pembangunan
    dewan = pemodal = harus kembalikan modal = keuntungan

    berjuang demi rakyat = pemanis belaka = nanti dulu

  15. My Surya mengatakan:

    Sebuah tanya yang penuh makna…
    dan ternyata maknanya terletak pada hati dan nurani, πŸ™‚

    Salam,

  16. hellgalicious mengatakan:

    wah tulisannya make bahasa tingkat tinggi nih
    saya belom mampu mencernanya

    salam kenal ya bang!

  17. Sugeng mengatakan:

    Ikut menelaah isi tulisan dengan hati berdegub kencang, masih adakah orang2 yang seperti iniπŸ˜•β“ semoga Indonesia masih meyimpan orang2 yang seperti ini meski tidak muncul dipermukaan.
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  18. sangsaka mengatakan:

    pantesan aja para wakil rakyat minta dana ini itu, soalnya dulu waktu mereka mau naik panggung pada ngabis2in duit buat suara…

    apa mungkin sistem pemilu di negara ini yang salah? suap menyuap menjadi budaya… sepertinya kursi pemerintahan mereka anggap sebagai sebuah ajang bisnis… gpp tekor di awal, toh ntar kalo udah duduk di kursi pemerintahan bisa sabet kiri sabet kanan…

    kalo diperhatikan.. pesta rakyat “pemilu” memang bagus, rakyatnya pada sejahtera kayaknya… tapi yang bikin jeleknya adalah masa setelah pemilu…. rakyat pada melarat lagi….

    ada yang tau kenapa?

  19. shafiragreensulaiman mengatakan:

    πŸ˜€
    suka sekali dengan postingan ini

  20. MUHAMMAD SAROJI mengatakan:

    Romantis sekali….

  21. Jasmine mengatakan:

    bagus banget puisinya,aku suka.kata – katanya masuuuk ke lubuk hati yg terdalam,mungkin karena puisi itu dibuat dengan sungguh2

  22. winant mengatakan:

    ijin pasang link bang……………

  23. Yohan Wibisono mengatakan:

    Posting Menarik sekali dan bermakna dalam sekali maksud/ di tujukan kepada siapa.saya tunggu karya2 selanjutnya dan kunjungan balik di blog saya.thx

  24. z4nx mengatakan:

    ”yang mantap tuh bagaimana supaya modal yang udah keluar itu bisa kembali secepatnya..mungpung lg ada peluang dapat duit perjuangin aja..kerjanya belakangan aja..”
    Mungkinkah mereka seperti itu ?

  25. atmo mengatakan:

    tidak suudzon sih…tapi memang indonesia itu kebanyakan pahlawan…
    cuman aslinya adalah penjahat yang ingin jadi pahlawan :I

  26. kopral cepot mengatakan:

    Renungan Sya’ban yang menggairahkan … moga bisa bertemu ramadhan n bisa menggali di kedalaman para pejalan kehidupan n berdo’a buat pemimpin masa depan yang tauladan

  27. reedai313 mengatakan:

    tak habis rasanya belajar dari shirah dan sejarah…πŸ™‚
    tulisan yg memacu saya, Om…

  28. sikapsamin mengatakan:

    Salam kenal mas Sedjatee,

    Sayapun hanya titip ‘Sebuah Tanya’ bagi para anggota Dewan WAKIL Rakyat :

    “kapankah wahai wakil kami…sembuh dari Kesurupan Massal?!?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: