March of the Penguins

In the harshest place on earth, love finds a way.
This is the incredible true story of a family’s journey to bring life into the world

Ini hanyalah satu cerita tentang bangsa unggas. Tetapi saya merasa berdusta bila tidak mengatakan bahwa inilah salah satu sinema dokumentasi terbaik yang pernah saya lihat. Membaca tag-line di atas, Antarktika sepertinya mutlak dapat dikatakan sebagai tempat paling kejam di dunia. Tetapi di titik terberat itulah sebuah cinta bertaut, kesabaran dan ketangguhan menemukan buah manisnya. Kisah sepasang penguin kaisar di medan paling ganas membuktikan bahwa cinta adalah bahasa universal yang harus dijalani dengan perjuangan dan keikhlasan. Dan para penguin itu mendefinisikan cinta dalam kosakata yang lebih bersih daripada sebagian kalangan manusia.

Musim panas yang singkat di kutub selatan telah usai, berarti musim berburu mangsa pun telah berakhir. Perjalanan melelahkan itu harus segera mereka jalani. Meninggalkan tepi es, kembali ke tanah kelahiran mereka. Arah langkah mereka adalah sebuah tempat sejauh 70 mil. Inilah tempat terbaik bagi penguin kaisar untuk berkembang biak. Di lokasi paling aman ini, tiada kehidupan lain yang sanggup bertahan. Badai salju masih mungkin berembus hingga laju 150 km/jam dan temperatur sering kali menukik hingga minus 101 derajad selsius.

Eksodus selama 22 hari 22 malam tanpa henti itu terkadang memakan korban, tetapi mereka terus melangkah. Di titik pertemuan inilah cinta bersemi. Perjuangan di mulai sejak mencari pasangan. Penguin jantan adalah satwa penganut monogami, kendati jumlah penguin betina lebih banyak memungkinkan untuk poligami. Dua sejoli lalu bercinta sedemikian mesra, dibalut indahnya iringan musik aransi Alex Wurman yang begitu memesona.

Saat sebutir telur terlahir, ujian ketangguhan penguin kaisar dimulai kembali. Mengerami telur kini menjadi tugas penguin jantan. Sang betina? Kembali menempuh jalan beku puluhan mil ke laut untuk menjaring mangsa. Saat keberangkatan itu, bobot badan para betina telah berkurang sepertiganya, demi sejumput makanan untuk calon anaknya. Tak hanya cuaca ekstrim yang menjadi marabahaya, serangan singa laut terkadang menjadikan penguin kecil terlahir dengan status piatu.

Hingga sang betina kembali, penguin jantan tetap dalam kesabaran menanti, dan kegigihan mengerami calon jabang bayi. Dalam penantian yang panjang itu, ia berpuasa. Penguin jantan bisa kehilangan hingga separo bobot tubuhnya. Saat buah hati terlahir dan penguin betina kembali, giliran sang jantan mengarungi jalan beku yang panjang untuk mengakhiri puasanya. Ia melaut. Inilah giliran penguin betina menjaga anaknya. Sekarang momoknya tak cuma ekstremitas cuaca, ancaman predator bernama burung skua terkadang menjadikan para penguin junior mati muda. Sepanjang musim semi pasangan penguin kaisar membesarkan anak mereka hingga mandiri. Ketika musim panas tiba, keluarga itu berpisah. Penguin-penguin kecil itu kini mampu hidup sendiri dan mereka kembali ke laut, rumah kehidupan mereka.

For four years, the chick will live at the sea. But has the sunlight begin to disappear the end of the fifth year, and the warm day became to cool, they too will climb up of the water, and they will march. Just that they have done for centuries. Ever since the emperor penguins decided to stay, to live and love in the harshest place on earth.


Demikian narasi terakhir dibacakan dengan intonasi yang menggelorakan keharuan. Sangat tepat jika Morgan Freeman, aktor kawakan peraih penghargaan oscar, yang menyuluh suara dengan suaranya yang berwatak. Film yang aslinya berbahasa Perancis ini diproduksi dalam berbagai versi bahasa, yang selain Morgan Freeman, Amitabh Bachchan juga mengisi suluh suara untuk versi Hindi.

Rasanya tak berlebihan jika banyak media dan pengamat menyanjung totalitas seorang Luc Jacquet, pengarah sekaligus sang pemilik ide. Sineas yang juga pakar biologi kelautan ini menghabiskan waktu 13 bulan di kutub selatan untuk melakukan perekaman bersama krunya. Saban hari mereka harus berjalan diatas salju membawa peralatan film seberat 50 kilo, menentang suhu yang terkadang hingga minus 70 derajad selsius, termasuk menyelam di air sangat dingin untuk merekam adegan pertarungan para penguin dengan singa laut.

Keuntungan sebesar 77 juta dollar dan seabreg penghargaan atas karya ini menegaskan bahwa sinema ini sangat berkelas di banyak sisi. Konon para kritikus film sampai benar-benar kehabisan kata untuk akhirnya ikut-ikutan memuji karya ini sebagai “informative” and “charming”. March of the Penguins dinobatkan sebagai film dokumenter tersukses kedua setelah Fahrenheit 9/11.

Film ini tak sekadar pelajaran tentang cinta dan kesetiaan kepada pasangan, namun juga tentang perjuangan dalam mendidik keturunan. Meski hanya bangsa unggas, penguin mengemban peran sebagai makhluk Tuhan secara paripurna. Mereka bercinta sesuai kodrat Sang Pencipta. Mereka bertanggung jawab terhadap pasangan dan keturunan mereka. Para penguin memberi contoh ketangguhan untuk bertahan hidup, juga kesabaran untuk menjalani masa-masa paling sulit dalam hidup, dengan segumpal optimisme dan keyakinan bahwa perjuangan yang tulus akan membawa mereka ke kehidupan yang lebih baik.

Sedjatee – Agustus 2010

Bila Anda berminat mendapatkan kopi film March of the Penguin, tuliskan alamat email Anda pada bilik komentar, niscaya saya akan memberi sesuatu melalui email Anda. Salam sukses.

sumber gambar: movieposter.com dan nationalgeographic.com

Iklan

38 pemikiran pada “March of the Penguins

  1. saya suka banget sama pinguin, tp……. belum pernah nonton film dokumenter nya. kalau anda tak keberatan tolong info utk bs mendapatkan vcd-nya

  2. Penguin, juga bagian dari alamNya yang indah…. dan ternyata, banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan penguin sekalipun,
    Alhamdulillahirabbil’alamiin,.., 🙂

  3. saia pncinta binatang.. senang rasa nya setelah bisa melihat pinguin d indonesia.. pinguin jenis humbolt d taman safari cisarua bogor.. pengen bgt pelihara pinguin.. hihihi 😀 minta video nya.. terima kasi..

  4. ceritanya c mirip2 sama happyfeet Om…
    tapi kayaknya kalo nonton dokumenter bakalan lebih seru deh..

    pengen membandingkan ni…
    ditunggu lho, Om..
    di jundi313@gmail,com

  5. Thank you for creating this excellent web site. Do you utilize wordpress? I did previously perform internet sites making use of html but now find that wordpress is easier and appearance much more expert. Thanks again

  6. Ping-balik: Eric S Brown Garage

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s