Memperpanjang Malapetaka

21

Agustus 24, 2010 oleh sedjatee


Ini hanyalah cerita zaman dahulu kala tentang sebuah negeri bernama Republik Wayang yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja. Republik Wayang dipimpin oleh seorang Maharaja Yang Adil dan Makmur, Ber Budi Bawa Laksana bernama Sri Paduka Yang Mulia Prabu Duryudana. Pada mulanya Sang Raja memimpin rakyatnya dengan bijaksana, namun itu semua tinggal cerita lama. Kini Sang Raja dianggap mengabaikan nasib rakyatnya yang hidup menderita.

Pada suatu hari, setelah sekian lama media wayang menyoroti tingkat kehadiran anggota Dewan Pewayangan yang memble alias sering mangkir di masa sidang, berikutnya giliran menyoroti Pidato Kenegaraan Sang Raja pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Wayang. Pidato Kenegaraan itu, menurut beberapa pengamat pewayangan lebih banyak berisi basa-basi, tidak menyentuh masalah-masalah penting Negara Wayang saat ini.

Hal yang lebih mengejutkan daripada ledakan tabung gas elpiji adalah wacana untuk memperpanjang jabatan Duryudana sebagai Raja Rapublik Wayang. Belum setahun Sang Prabu menduduki singasana untuk kali kedua, wacana itu tiba-tiba mengemuka. Pengusung gagasan ini, siapa lagi kalau bukan Kartamarma, anggota Dewan Pewayangan yang merupakan pengagum berat Duryudana.

Dengan didahului seribu macam sanjungan pada kinerja Pemerintahan Duryudana yang sebenarnya biasa-biasa saja, salah satu pengurus teras Partai Kurawa ini mengusulkan ide nekad, memperpanjang jabatan Raja Duryudana setelah berakhirnya periode kedua. Ide ini, tak hanya bertentangan dengan Undang-Undang Wayang Tahun 2345, tetapi juga memunculkan pro dan kontra. Sebagaimana kita tahu, Konstitusi Negara Wayang hanya memungkinkan seorang raja berkuasa paling lama adalah selama dua periode, yang masing-masing periode adalah 5 abad lamanya.

Sudah bisa ditebak, Duryudana, dipastikan akan menolak ide perpanjangan ini. Tak ayal dagelan ini memancing gelak tawa beberapa cendekiawan di negara pewayangan. Seorang pengamat menyamakan ide ini dengan dua raja pertama yang berkuasa di Republik Wayang. Hasrat berkuasa yang begitu menggelora telah memabokkan kedua penguasa terdahulu sehingga keduanya bernafsu ingin menjadi raja selama mungkin.

Pemerhati wayang yang lain melihat gagasan ini sebagai pengalihan perhatian. Bertubi-tubi masalah mulai kasus korupsi, tabung elpiji, masalah perbatasan hingga filem bokep biduan pewayangan yang tak dapat dituntaskan hingga berlarut-larut. Seorang sesepuh wayang menyarankan agar Sang Prabu menunjukkan sikap kenegarawanannya dengan menyelesaikan secara elegan masalah-masalah bangsa yang krusial bagi rakyatnya, bukannya dengan berpolemik tentang memperpanjang kekuasaan.

Apa yang dipolemikkan oleh Duryudana dan para pengamat, sama sekali tidak menarik perhatian rakyat wayang. Bangsa wayang, yang telah kenyang teraniaya, tak peduli lagi dengan siapa yang menjadi raja di negeri mereka. Bagi para wayang, hidup telah begitu rumit untuk memikirkan urusan tabung gas yang meledak-ledak, tentang banjir lumpur yang tak terselesaikan, tentang duit pajak keringat rakyat yang dirampog oleh aparatnya, tentang harga pupuk yang tiba-tiba mahal dan tentang tarif listrik yang bakal naik lagi. Jikalau boleh memilih bangsa wayang lebih senang bila Togog atau mBilung yang menjadi Raja asalkan bisa memakmurkan para kawula, daripada harus berhiruk-pikuk mengikuti coblosan pemilihan raja yang tak bisa membawa negara wayang keluar dari kubangan malapetaka.

Pada sebuah dangau di tepi sawah, dua wayang kampung terlihat sedang berbincang-bincang dengan wajah bersungut-sungut. Mereka tak sedang membicarakan harga bahan pangan yang merangkak naik menjelang lebaran, atau biaya sekolah anak-anak mereka yang kemarin tidak naik kelas. Dua tokoh senior bangsa wayang ini, siapa lagi kalau bukan Petruk dan Gareng, tengah mendiskusikan isu paling hot bangsa wayang, yaitu tentang hasrat memperpanjang masa kekuasaan baginda raja. Dengan rasa prihatin mereka merenungi nasib mereka yang mengalami kesulitan hidup sekian lama. Dua wayang petani itu terlihat memendam keprihatinan dan kekhawatiran mendalam, mereka khawatir itu semua semakin menjerumuskan mereka dalam malapetaka berkepanjangan.

Sekian dongeng bangsa wayang kali ini. Mari kita doakan agar bangsa wayang mendapat pertolongan dari Tuhan, sehingga rakyat wayang dapat hidup makmur, setidaknya sama seperti kita Bangsa Indonesia. Mari kita bersyukur bahwa kita hidup di negeri yang adem ayem, damai, bersatu dan bermartabat. Mari kita doakan para pemimpin bangsa kita agar dapat terus mengemban amanah rakyat dengan sebaik-baiknya, melanjutkan kebajikan yang selama ini telah diperbuat. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan barokah kepada kita semua.

sumber gambar : jawapos.co.id

21 thoughts on “Memperpanjang Malapetaka

  1. bundamahes mengatakan:

    yang penting pensiunnya tetep taun 2012 pak😛

  2. uniharuni mengatakan:

    Asslamu’alaikum wr wb. kita tunggu Pak, tulisan-tulisannya dalam edisi buku. Terima kasih 🙂

  3. atmo kanjeng mengatakan:

    malapetaka kenapa kau selalu lebih panjang dari kebahagiaan, terutama di republik wayang ini ?😦

  4. Kelabang's Blog mengatakan:

    Itu namanya dagelan yang tak lucu dari Sang Raja, pura2 menolak padahal rencana Sang Raja Duryudana sendiri.

  5. ummurizka mengatakan:

    kisah di bangsa wayang ini nampaknya nyata ya he…🙂

  6. MUHAMMAD SAROJI mengatakan:

    Dagelan ini nyata…
    Ada dalam kehidupan kita, dan kita dibikin malu karenanya,
    malu, malu, malu…
    Sketsanya cantik sekali.

  7. orange float mengatakan:

    mirip kisah yang terjadi pada bangsa Indonesia😀

  8. HALAMAN PUTIH mengatakan:

    Kalau pidato menyangkut masalah gaji pasti banyak keplok2 bertepuk tangan…

  9. kangmas ian mengatakan:

    wkwkw mirip Republik Indonesia hehehe

  10. darahbiroe mengatakan:

    pada dasarnya malapetaka itu meski panjang tetep panjang rasa aman dan bahagia
    dan smoga ajah tidak akan ada lagi malapetaka😀

  11. bundadontworry mengatakan:

    kadang malapetaka sengaja diciptakan dan dibikin utk sengaja menyusahkan orang lain.
    kenapa ya dagelan gak lucu gini, ternyata terjadi hampir tipa hari dlm kehidupan nyata kita ?
    salam

  12. krupukcair mengatakan:

    wah, sae tenan meniko tulisanipun😀 parodian yang asyik😆

  13. ummurizka mengatakan:

    Kalau malah memperpanjang malapetaka..kenapa harus DILANJUTKAN!!!😦

  14. اسوب سوبرييادي mengatakan:

    ya Allah, semoga segera sadar deh para pembuat malapekata tuh…

  15. hellgalicious mengatakan:

    ko ceritanya mirip di negara kita ya?
    hehehe

  16. Kertaning Tyas mengatakan:

    Entah kapan negeri ini akan terus bergolak. Salam sejati. Dari Sahabat lama pemilik blog silaturahmi [mas tyas] sekarang lagi sibuk update di blog barunya http://pulaukabal.wordpress.com/2010/08/25/bupati-muara-enim-surati-mendagri-buntut-kegiatan-oi-di-muara-enim/
    Mohon dukungan untuk perjuangan kami.

  17. z4nx mengatakan:

    ya tuh..masalah nya gak pernah terdengar selesai..harusnya gatotkaca mengambil alih kekuasaan

  18. Kakaakin mengatakan:

    Hmm… saya turut berduka cita atas malapetaka yang terus menerus terjadi😦

  19. citromduro mengatakan:

    Kenapa malapetaka semakin panjang dan terus berlarut
    ada apa di balik malapetaka yang terjadi, bisakah kita belajar dan mengambil hikmah dari malapetaka tersebut

    nyambung tidak ya komentarnya??😀😀

    salam dari pamekasan madura

  20. […] Gunung Sinabung dan Mbah Marijan * Memperpanjang Malapetaka * Jalan Berputar Sebuah Siklus Dan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: