Memperpanjang Malapetaka


Ini hanyalah cerita zaman dahulu kala tentang sebuah negeri bernama Republik Wayang yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja. Republik Wayang dipimpin oleh seorang Maharaja Yang Adil dan Makmur, Ber Budi Bawa Laksana bernama Sri Paduka Yang Mulia Prabu Duryudana. Pada mulanya Sang Raja memimpin rakyatnya dengan bijaksana, namun itu semua tinggal cerita lama. Kini Sang Raja dianggap mengabaikan nasib rakyatnya yang hidup menderita.

Pada suatu hari, setelah sekian lama media wayang menyoroti tingkat kehadiran anggota Dewan Pewayangan yang memble alias sering mangkir di masa sidang, berikutnya giliran menyoroti Pidato Kenegaraan Sang Raja pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Wayang. Pidato Kenegaraan itu, menurut beberapa pengamat pewayangan lebih banyak berisi basa-basi, tidak menyentuh masalah-masalah penting Negara Wayang saat ini.

Hal yang lebih mengejutkan daripada ledakan tabung gas elpiji adalah wacana untuk memperpanjang jabatan Duryudana sebagai Raja Rapublik Wayang. Belum setahun Sang Prabu menduduki singasana untuk kali kedua, wacana itu tiba-tiba mengemuka. Pengusung gagasan ini, siapa lagi kalau bukan Kartamarma, anggota Dewan Pewayangan yang merupakan pengagum berat Duryudana.

Dengan didahului seribu macam sanjungan pada kinerja Pemerintahan Duryudana yang sebenarnya biasa-biasa saja, salah satu pengurus teras Partai Kurawa ini mengusulkan ide nekad, memperpanjang jabatan Raja Duryudana setelah berakhirnya periode kedua. Ide ini, tak hanya bertentangan dengan Undang-Undang Wayang Tahun 2345, tetapi juga memunculkan pro dan kontra. Sebagaimana kita tahu, Konstitusi Negara Wayang hanya memungkinkan seorang raja berkuasa paling lama adalah selama dua periode, yang masing-masing periode adalah 5 abad lamanya.

Sudah bisa ditebak, Duryudana, dipastikan akan menolak ide perpanjangan ini. Tak ayal dagelan ini memancing gelak tawa beberapa cendekiawan di negara pewayangan. Seorang pengamat menyamakan ide ini dengan dua raja pertama yang berkuasa di Republik Wayang. Hasrat berkuasa yang begitu menggelora telah memabokkan kedua penguasa terdahulu sehingga keduanya bernafsu ingin menjadi raja selama mungkin.

Pemerhati wayang yang lain melihat gagasan ini sebagai pengalihan perhatian. Bertubi-tubi masalah mulai kasus korupsi, tabung elpiji, masalah perbatasan hingga filem bokep biduan pewayangan yang tak dapat dituntaskan hingga berlarut-larut. Seorang sesepuh wayang menyarankan agar Sang Prabu menunjukkan sikap kenegarawanannya dengan menyelesaikan secara elegan masalah-masalah bangsa yang krusial bagi rakyatnya, bukannya dengan berpolemik tentang memperpanjang kekuasaan.

Apa yang dipolemikkan oleh Duryudana dan para pengamat, sama sekali tidak menarik perhatian rakyat wayang. Bangsa wayang, yang telah kenyang teraniaya, tak peduli lagi dengan siapa yang menjadi raja di negeri mereka. Bagi para wayang, hidup telah begitu rumit untuk memikirkan urusan tabung gas yang meledak-ledak, tentang banjir lumpur yang tak terselesaikan, tentang duit pajak keringat rakyat yang dirampog oleh aparatnya, tentang harga pupuk yang tiba-tiba mahal dan tentang tarif listrik yang bakal naik lagi. Jikalau boleh memilih bangsa wayang lebih senang bila Togog atau mBilung yang menjadi Raja asalkan bisa memakmurkan para kawula, daripada harus berhiruk-pikuk mengikuti coblosan pemilihan raja yang tak bisa membawa negara wayang keluar dari kubangan malapetaka.

Pada sebuah dangau di tepi sawah, dua wayang kampung terlihat sedang berbincang-bincang dengan wajah bersungut-sungut. Mereka tak sedang membicarakan harga bahan pangan yang merangkak naik menjelang lebaran, atau biaya sekolah anak-anak mereka yang kemarin tidak naik kelas. Dua tokoh senior bangsa wayang ini, siapa lagi kalau bukan Petruk dan Gareng, tengah mendiskusikan isu paling hot bangsa wayang, yaitu tentang hasrat memperpanjang masa kekuasaan baginda raja. Dengan rasa prihatin mereka merenungi nasib mereka yang mengalami kesulitan hidup sekian lama. Dua wayang petani itu terlihat memendam keprihatinan dan kekhawatiran mendalam, mereka khawatir itu semua semakin menjerumuskan mereka dalam malapetaka berkepanjangan.

Sekian dongeng bangsa wayang kali ini. Mari kita doakan agar bangsa wayang mendapat pertolongan dari Tuhan, sehingga rakyat wayang dapat hidup makmur, setidaknya sama seperti kita Bangsa Indonesia. Mari kita bersyukur bahwa kita hidup di negeri yang adem ayem, damai, bersatu dan bermartabat. Mari kita doakan para pemimpin bangsa kita agar dapat terus mengemban amanah rakyat dengan sebaik-baiknya, melanjutkan kebajikan yang selama ini telah diperbuat. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan barokah kepada kita semua.

sumber gambar : jawapos.co.id

Iklan

21 pemikiran pada “Memperpanjang Malapetaka

  1. Kenapa malapetaka semakin panjang dan terus berlarut
    ada apa di balik malapetaka yang terjadi, bisakah kita belajar dan mengambil hikmah dari malapetaka tersebut

    nyambung tidak ya komentarnya?? 😀 😀

    salam dari pamekasan madura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s