Bukan Benang Basah

Pada masa Kanjeng Nabi menaklukkan Makkah, seorang wanita dari keluarga terhormat kedapatan mencuri dan tertangkap. Keluarga sang wanita kemudian meminta tolong Usamah bin Zaid untuk memintakan ampunan dari Kanjeng Nabi. Ketika Usamah menyampaikan permohonan ampunan itu, wajah Kanjeng Nabi berubah menjadi merah padam, “Apakah engkau berbicara denganku mengenai (dispensasi) dalam masalah had (sanksi hukum) yang telah ditetapkan oleh Allah?” katanya. ”Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, andaikata Fatimah Binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya” demikian Kanjeng Nabi Muhammad memberi teladan sikap tidak berkompromi pada kemaksiyatan.

Episode Kanjeng Nabi ini mengajarkan tentang bagaimana penegakan hukum yang seharusnya, adil, tegas dan tidak pandang bulu. Oleh karenanya, pemerintahan pada masa Nabi adalah pemerintahan yang tak sekadar bersih, namun juga berwibawa.

Di masyarakat ini, kita hidup berdampingan dengan para maling. Mulai yang tidak keren sekelas maling ayam dan maling jemuran, sampai yang paling terhormat sehingga mendapat gelar koruptor. Bahkan ada yang disebut sebagai bangsa maling. Kondisi kedekatan ini membuat kita sangat permisif dengan sepak terjang para maling. Sikap kompromistis ini setidaknya terlihat dari bagaimana penguasa negeri kita memperlakukan para koruptor dengan sangat istimewa.

Jangan bandingkan penderitaan seorang copet dengan seorang mahakoruptor. Copet yang tertangkap, terkadang tak sempat menikmati hasil kerjanya, karena seringkali langsung dihukum mati oleh pengadilan jalanan. Lain halnya dengan koruptor, para megakoruptor sejauh ini hanya dihukum dengan durasi kurang dari lima tahun, tak masuk akal. Para koruptor masih sempat menata hasil korupsinya, sempat melarikan diri dengan dalih berpesiar atau berobat, dan pada kondisi korupsinya diendus aparat, para koruptor masih juga sempat mengatur proses peradilannya.

Penegakan hukum di negeri ini ibarat sebuah pisau. Ia tajam kepada masyarakat bawah, tetapi tumpul kepada kalangan atas. Aparat bisa bergerak cepat dan lugas untuk menghukum pencuri semangka atau kakao. Tetapi pada saat yang sama terjadi sebuah kelambanan dalam menangani kasus korupsi. Sampai-sampai muncul pendapat yang menyatakan pemerintah grogi dengan nama-nama beken koruptor sehingga enggan menindak koruptor. Bahkan, kejadian suap antar aparat penegak hukum saat menangani kasus korupsi memunculkan terminologi baru dalam jagad perkorupsian negeri ini: korupsi berjamaah.

Menarik untuk mencermati pendapat Ilias Bantekas, Professor of International Law and Head of Law Department, pada Brunel University. Menurutnya, korupsi dapat dikategorikan sebagai crimes against humanity, kejahatan melawan kemanusiaan. Tak hanya karena korupsi pada hakekatnya merampok hak rakyat, namun juga karena korupsi adalah pencederaan atas amanah rakyat, dan korupsi selalu memunculkan sederet akibat buruk pada aspek kehidupan lainnya. Penyetaraan korupsi sebagai kejahatan melawan kemanusiaan berarti menyamakan korupsi dengan kejahatan perang, kejahatan seksual serta penodaan agama.

Penegakan hukum seperti menegakkan benang basah. Terlalu rumit bila penegakkannya dipaksa untuk mulai dari bawah. Logisnya, pegang yang diatas. Dan dalam kultur paternalistik masyarakat kita, pemimpin harus memberi teladan dalam menyikapi korupsi, niscaya rakyat akan menunjukkan sikap yang sama.

Dimulai dari teladan pemimpinnya, Bangsa Tiongkok mengancam hukuman mati bagi para koruptor. Kanjeng Nabi menegakkan hukum potong tangan bagi para maling. Tetapi kita malah mencemoohnya seraya menganggapnya sebagai hukum primitif. Dan kontradiksi dengan nilai kemanusiaan, peringatan kemerdekaan bangsa selalu menjadi pesta bagi para koruptor, karena pemerintah memberikan diskon besar-besaran dalam bentuk grasi dan remisi bagi para penjahat kemanusiaan bernama koruptor. Alasannya adalah pertimbangan kemanusiaan alias rasa kasihan. Fakta ini makin memperjelas keberpihakan penguasa kepada para koruptor. Penguasa lebih kasihan kepada koruptor daripada kepada rakyat yang kelaparan, penyakitan, dilanda bencana atau teraniaya di negeri asing.

Penguasa adalah penegak hukum, salah satunya bertugas menjalankan fungsi kehakiman. Menurut sebuah hadist, hakim terdiri dari tiga golongan, dua golongan hakim masuk neraka dan segolongan hakim lagi masuk surga. Yang masuk surga ialah yang mengetahui kebenaran hukum dan mengadili dengan hukum tersebut. Bila seorang hakim mengetahui yang haq tapi tidak mengadili dengan hukum tersebut, bahkan bertindak zalim dalam memutuskan perkara, maka dia masuk neraka. Yang segolongan lagi hakim yang bodoh, yang tidak mengetahui yang haq dan memutuskan perkara berdasarkan kebodohannya, maka dia juga masuk neraka. (HR. Abu Dawud dan Ath-Thahawi).

Sekelumit kisah di awal tulisan ini menjelaskan bahwa hukum bukanlah benang basah, alias hukum bisa ditegakkan. Kanjeng Nabi telah memberi contoh nyata bahwa pemimpin harus memberi teladan penegakan hukum secara adil, tegas dan tak pandang bulu. Penegakan hukum harus dimulai dari itikad baik penguasa. Kita optimistis bahwa bangsa kita bisa melakukannya. Masalahnya hanya kita mau atau tidak.

sumber gambar : republika.co.id

Iklan

31 pemikiran pada “Bukan Benang Basah

  1. Kalau hukum Al-Qur’an diterapkan dengan benar, niscaya Bangsa ini akan terhidar dari pecurian dlm bentuk apapun, koruptor tidak akan jera selama hukum masih bisa dipermainkan.
    TerimA kasih postingannya Mas…

  2. dlm usaha penegakkan hukum, memang hrs tegas dan tdk tebang pilih, seperti yg dicontohkan oleh Rasulullah saw, namun sepertinya di negeri kita tdk ada yg mau atau peduli belajar dr contoh tsb ya Mas.
    entah samai kapan kita bisa menikmati keadilan dlm hukum. wallahualam
    salam

  3. Sewaktu kuliah saya pernah berbincang dengan seorang mahasiswa hukum tentang perbedaan hukuman untuk koruptor dan maling ayam. Katanya sih, logika KUHAP mengikuti cara Belanda…

    “Seorang penjual soto terbukti maling ayam dan dihukum 2 tahun, sekeluarnya dari penjara ybs masih bisa memperoleh pekerjaan lamanya. Tetapi, seorang Direktur Bank yang korup dan dihukum 2 tahun, sekeluarnya dari penjara jangan harap bisa bekerja seperti semula. Namanya cacat seumur hidup.. Menurut kacamata KUHAP, itulah yang disebut keadilan dalam hukum!”

    Benar atau salah logika hukum kita, sebenarnya itulah yang terjadi. Bukan soal lama atau tidaknya seseorang di balik tahanan… wallahu ‘alam.

    Salam benang basah.

  4. Saya suka membaca postingan ini, tapi saya capek ah berkomentar, he he he

    Masalahnya, kita hanya akan kelelahan aja karena mereka kalaupun tahu banyak yang mengeluh masalah ini, mereka akn pura-pura tidak mendengar (kalau begitu semoga ALLAH membuatnya benar-benar tidak mendengar :D)

  5. benar2 benang kusut gan, andai saja negara ini tidak mengenal korupsi tentu bisa menyaingi negara2 maju. Hukum yang ada hanya sebagai pajangan biar keliatannya negri seperti layakna negeri laen.

  6. subhanallah, demikian tegasnya Kanjeng Nabi dalam menegakkan hukum, tak kenal kompromi. kalau memang bersalah, ya, harus dihukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku. sungguh disayangkan, sikap Kanjeng Nabi tidak bisa diteladani di negeri ini. hukum ditegakkan dengan cara mulur mungkret, tergantung siapa yang berbuat. sungguh ironis, maling ayam mesti digebugi sampai babak belur, tapi koruptor malah menikmati syurganya di atas penderitaan rakyat kecil.

  7. terkadang hukum hanya dijadikan formalitas, kasus besar yang sudah sampai pengadilan biasanya hilang, kalaupun masuk penjara paling cuma berapa hari dan tidak sepadan dengan perbuatan yg dilakuakan. 😦

  8. bagaimana dengan negara kita ini ya?
    masih setia dengan yang namanya korupsi
    hukum di negara kita pun tampak ga begitu sigap terhadap keadaan ini

    hanya kejahatan pada rakyat kecillah yang terlihat menjadi suatu kewajiban untuk dibasmi
    sedangkan kejahatan bagi para koruptor di kesampingkan
    sungguh miris

  9. Benang Basah..?!?

    Kalau masih ada benangnya…bisa dikeringkan pakai hair-dryer atau apalah.
    Masalahnya…benangnyapun habis dimaling!!!

    Tentunya tiap Bangsa/Negeri, memerlukan Pemerintahan dan Pemimpin…
    Tapi kalau memang julukannya ‘Bangsa/Negeri Maling’…
    Terus Pemerintahan/Pemimpinnya, julukannya apa ya…?!?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s