Sepahit Yang Ditanam

26

Oktober 5, 2010 oleh sedjatee


Sore yang murung bagi Wanto. Juga rekan seprofesinya. Wajahnya kusut dengan pancaran sejuta kelelahan. Di bibirnya terselip sehelai tembakau yang pagi tadi dirajangnya sendiri. Pahit, katanya. Dan begitulah yang dirasakan petani tembakau Temanggung. Kepahitan nasib petani terasa sepahit tanaman mereka. Tetapi mintalah Wanto bercerita tentang masalalunya berjibaku dengan tembakau, niscaya ia akan bertutur tentang sebaris cerita manis.

Tembakau adalah salah satu bagian utama sejarah masyarakat Temanggung. Sebagaimana pernah dimuat di Tabloid Stanplat keluaran Temanggung, sejarah tembakau di lereng Sindoro Sumbing ini telah dimulai sejak abad XIX. Dalam buku Eksploitasi Kolonial Abad XIX Kerja Wajib di Karesidenan Kedu 1800-1890, A. M Djuliati Suroyo mencatat, sejak akhir abad XVIII petani di kawasan Karesidenan Kedu sudah menanam tembakau. Sejarahwan Belanda Jonh Crawfurd menemukan catatan, pada tahun 1811 produksi tembakau rakyat Kedu mencapai 3 juta pon (1,5 juta kg). Oleh pedagang Cina tembakau ini diekspor ke luar Jawa, bahkan sampai ke Penang . Pemerintah Hindia-Belanda di Kedu pun berusaha menanam tembakau dengan bibit luar negeri untuk kepentingan ekspor Eropa, yakni jenis Havana dan Maryland. Tahun 1833 adalah awal tanam paksa tembakau di Kedu (Temanggung saat ini) seluas 55 bahu. Penanaman yang dilakukan di Muntilan dan Temanggung membawa harapan baik bagi petani, karena apabila berhasil mereka akan mendapatkan f 50, per bahu untuk tembakau kualitas rendah dan f 90,- untuk kualitas terbaik. Harga ini hampir seimbang dengan harga tebasan per bahu yaitu f 85,-.

Kondisi kehebatan ini berkorelasi dengan fakta bahwa produsen terbaik tembakau virginia adalah Amerika, Brazil dan Indonesia (Lombok). Dan jika kita bertanya tentang tembakau kepada Wikipedia Indonesia, maka selain Lombok, pasti disebutkan Temanggung, tanah kehidupan Wanto, sebagai salah satu penghasil tembakau kualitas terbaik Indonesia. Fakta ini, telah memberi masa lalu yang indah bagi Wanto dan leluhurnya. Sebagai kenangan, harga tembakau Wanto telah mencapai Rp.60ribu perkilo ketika harga bahan bakar premium masih Rp.2500 perliter, kondisi yang membuatnya sangat mencintai profesinya. Namun cerita indah Wanto hanya tinggal masa lalu. Para petani tembakau kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Pemerintah tengah menggodog Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang produk tembakau. Diluar kontroversi hilangnya beberapa pasal RPP tersebut, Wanto dalam kepolosannya merasakan kegelisahan atas munculnya RPP itu. Ketika Aliansi Petani Tembakau berunjuk rasa menolak RPP produk tembakau, Ia terprovokasi untuk turut berdemo. Meski perjuangannya tak dilanjutkan hingga ibukota seperti demonstran lainnya, ia memberi kontribusi dengan mengusung mbah Gondo, wanita sepuh 80an tahun yang menurutnya tetap sehat kendati telah menjadi perokok sejak remaja.

Kini ia dipusingkan dengan cuaca yang tak menentu. Dalam setahun ini Temanggung terus menerus hujan, kondisi yang tak menguntungkan baginya dan tanaman tembakaunya. Dalam satu dekade ini, mungkin inilah kualitas terburuk tembakau dari sawah Wanto. Curah hujan yang tinggi telah merusak tanaman tembakau di sawahnya. ”Kami hanya memanen sepertiga dari potensi produksi sawah kami. Yang bisa dipanen pun tak sebagus musim-musim tahun lalu” demikian tuturnya. Tingginya frekuensi hujan menyebabkan pengeringan tembakau rajangan menjadi tidak optimal. Tembakau yang tak kering, mereka menyebutnya tembakau bindeng, paling tinggi hanya dihargai Rp.40ribu perkilo oleh tengkulak. Dan panen Wanto yang sangat minim musim ini, bindeng semua.

”Pak Bupati menyeru kami untuk menanam tanaman keras, padahal dari tembakau inilah kami banyak berharap. Kami tak tahu akan bagaimana jika tembakau kami dibatasi. Jika sawah ini ditanami tanaman keras, kami tak bisa menanam padi, lalu kami makan apa?” ujarnya lirih. Pandangannya kosong menerawang. Dibibirnya terselip selembar tembakau, pehit dirasakan namun ia terus mengulumnya. Sebagai petani, mereka acapkali dirugikan oleh kepentingan-kepentingan orang lain yang terkadang tak mereka fahami. Mereka butuh perhatian dan solusi. Penguasa tak boleh hanya memerintah lalu membiarkan petani kebingungan mengolah sawahnya. Pupuk dan benih semakin mahal, pemerintah tak juga memfasilitasi kehidupan petani. Orang kecil seperti Wanto hanya bisa berharap, sesekali penguasa memikirkan nasib mereka. Itu saja.

26 thoughts on “Sepahit Yang Ditanam

  1. bundamahes mengatakan:

    PERTAMAX!!!

    Tembakau Bapak saya juga rusak kena hujan, benar-benar merugi taun ini!😦

  2. Kelabang's Blog mengatakan:

    Sebenarnya niat pemerintah bagus, cuma caranya yang jelek amat, masa cuma kasih saran tanpa prasarana, anak kecil pun pandai kalau cuma omdo..

    • Pendar Bintang mengatakan:

      Kelebihan para pembesar kita ya seperti itu, seperti halnya dia bisa bilang salah tp nggak pernah ngasih solusi…

      Semua orang juga bisa kalau cuma ngomong, kalau bilang begini lbh baik, ya kasih jalan harusnya kan gt….

  3. ummurizka mengatakan:

    wah foto lek wanto n om dang masuk blog ni he…, lebih baik lek wanto n rekan berganti tanam aja (tinggalkan tembakau)…biar hasilnya dikit namun mengalir terus…

  4. alamendah mengatakan:

    (Maaf) izin mengamankan KEEMPAX dulu. Boleh, kan?!
    Tembakau Kedu (di sini nyebutnya Mbako Kedu) lumayan terkenal di daerah saya.

  5. TuSuda mengatakan:

    Nasib mereka memang mempribatinkan ya Mas,
    Perlu ada cara terobosan untuk mengolah lahan dengan pola tanam yang lebih produktif lagi,
    Salam dari Kendari…

  6. bundadontworry mengatakan:

    kenapa sih pemerintah , hanya ngasi solusi tapi tak membantu dgn sarananya sekalian?
    kalau cuma omong aja sih, semua orang juga bisa.
    sekarang mereka , para petani tembakau ini, hrs meminta tolong dan mengharap perhatian dr siapa lagi, kalau bukan dr pemerintah?
    kenapa sih kalau buang2 uang utk yg gak penting cepet banget, begitu utk menyejahterakan rakyat, kok selalu ada saja alasannya …beuh……
    salam

  7. Vulkanis mengatakan:

    Semoga mereka tetap semangat

  8. sikapsamin mengatakan:

    Cuaca memang sedang ‘tidak-bersahabat’…
    Memukul para petani, dan pukulan paling telak adalah yg menimpa petani-tembakau…
    Adakah pemerintah setempat memberikan bantuan2 mulai penyuluhan diversifikasi jenis tanaman, pembuatan ‘rumah-kaca’, syukur2 bantuan dana?!?

    Petani adalah tulang-punggung negeri-agraris…

    Semoga…

    • sikapsamin mengatakan:

      Diversifikasi yg mudah2an cocok dg iklim setempat, al: budidaya jamur, ternak ikan (gurami, mujair), sptnya harganya cukup bagus.

      Selamat mencoba…

  9. dedekusn mengatakan:

    Semoga sgr ditemukan solusi terbaiknyam shg mereka (petani) bisa hidup normal kembali…
    Setuju, jika hrs menganjurkan untuk tiaklagi bertani tembakau sebaiknya diberi solusi.

    btw: foto yg pake kaos kuning mas Sedjatee ya?🙂

  10. Piss mengatakan:

    Semoga pahit ini adalah jamu yg bisa membuat bugar di kemudian hari

  11. achoey mengatakan:

    Kasih solusi bukan cuma perintah🙂
    Betul gak

  12. julicavero mengatakan:

    mudah2an dapat solusi yg terbaik ya sob…😦

  13. Lucky dc mengatakan:

    Terkadang ada sesuatu hal yang memiliki dua sisi yang berbeda, di satu pihak memberikan dampak yang baik dan di pihak lainnya memberikan dampak yang buruk. Semoga pemerintah dapat memberikan kebijakan yang tepat🙂

  14. Usup Supriyadi mengatakan:

    duh, saya bisa merasakan betul sebagai seorang anak petani juga apa yang dirasakan oleh Pak Wanto. saya pun berharap sekali saja semoga pemerintah benar-benar memperhatikan mereka…..

  15. aldy mengatakan:

    Saya sering bertanya-tanya, mengapa kaum petani selalu menjadi korban dan pihak yang persalahkan.
    Seharusnya para petinggi bisa memahami permasalahan yang mereka hadapi.

    Salam kenal sahabat.

  16. Tamba Budiarsana mengatakan:

    Pemerintah hanya bisa “merintah”, tanpa memberi solusi jelas…
    Urusan rakyat kecil selalu dianggap angin lalu.
    #sebel!😦

  17. orange float mengatakan:

    kasihan juga ya mereka, mereka butuh solusi bukannya hanya perintah larangan

  18. kangmas ian mengatakan:

    alhamdulillahnya saya g suka tembakau..tapi ikut mendo’akan deh buat para petani tembakau ^^

  19. M Mursyid PW mengatakan:

    Sssst…! Saya diem-diem juga penggemar tembakau.
    Hemh…,Kasihan banget mbah Wanto!

  20. Red mengatakan:

    tangntangan yg dihadapi petani jaman sekarang sungguh berat yah terutama di saprotan-nya (sarana produksi pertanian) yg semakin melambung harganya. tapi setahu saya komunitas petani organic justru tidak terpengaruh dengan harga2 saprotan yg mahal. malah mereka-lah yg menentukan harga. konsep ini sepertinya harus mulai ditiru oleh petani lain agar kemandirian petani kokoh dan tidak merugi terus

  21. […] cerita yang beliau tulis berkaitan dengan anak-anaknya selalu menarik! seorang ayah yang mengayah. Pak Sedj terima kasih atas setiap upayanya mengangkat realitas nestapa kaum terzalimi di negeri ini, o ya, […]

  22. ratansolomj9 mengatakan:

    Padahal dari keringat para petani kecil ini, para kongomerat menggerakkan roda bisnisnya …, sungguh ironis …
    Salam

  23. fungerar propecia mengatakan:

    fungerar propecia…

    […]u Good info, cheers for the info. x cl[…]…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: