Berharap Pada Ujung Rambut

40

Oktober 18, 2010 oleh sedjatee

Ia sedang berkutat dengan gunting dan sisir, memotong rambut para pelanggan. Tiga hari lagi lebaran, momen tahunan yang selalu memberi berkah istimewa baginya. Lebaran membuat orang tak cukup hanya tampil dengan busana baru, rambut pun serasa perlu untuk dipermak. Ini sore yang ramai, masih ada lima pelanggan yang mengantre. Ketika saya datang, ia sudah memberi isyarat tutup. Namun dengan sedikit rayuan gombal, pelanggan lama ini diterima untuk menjadi korban terakhirnya sore itu.

Ini hanyalah sebuah lapak tukang cukur yang teramat sederhana. Terletak di pinggir jalan sebuah perumahan, dibelakangnya ada selokan besar yang sering meluap di musim hujan. Di lapak ini tergantung papan nama ala kadarnya: Potong Rambut Donny Londo. Ia lelaki betulan, bukan banci. Dipanggil Londo karena kulitnya yang putih, sepertinya albino. Mungkin itu yang menyebabkannya mengecat rambut menjadi blonde, dan ia akhirnya benar-benar menjadi Londo.

Kini di lapaknya hanya tinggal saya dan dia yang sedang memotong rambut Si Gendut. Ia telah menolak tiga orang yang datang setelah saya dengan alasan capek. Saya bertanya sudah berapa kepala menjadi korbannya hari ini, ia menjawab ”sekitar dua puluh”. Kedua tangannya telah lelah, pun kedua kakinya yang banyak berdiri, sedangkan ia tetap berpuasa. ”Jadi tukang cukur itu membingungkan, terlalu ramai seperti hari ini, tangan kaki sudah pegel semua, tak sanggup lagi. Kalo terlalu sepi juga bingung, gak dapat duit” demikian ia bertutur dengan keluhan khas orang kecil.

Meski hanya menjadi tukang cukur, boleh dikata ia adalah orang partikelir yang mandiri. Lapak ini ia bangun sendiri, bukan disediakan oleh pemerintah atau siapapun. Meski begitu ”saban hari selalu datang Orang Kelurahan yang minta setoran” demikian ia menjelaskan tentang pemungut retribusi. ”Padahal ini saya bangun sendiri, mereka tetap menagih setoran walaupun saya lagi sepi”. Ia tak pernah mendapat penjelasan kemana retribusi itu mengalir, yang jelas, sebagai pembayar retribusi ia tak pernah mendapat apapun dari pemerintah kota.

Menjadi tukang cukur tak berarti harus bodoh. Ia tetap melek berita dan informasi karena berlangganan Suara Merdeka, koran dengan tiras paling besar di Jawa Tengah. Dari membaca koran ia tahu tentang banyak hal, termasuk berbagai isu tentang pemerintah pusat dan daerah. Ia mengkritisi budaya korup yang menurutnya telah menjadi kultur hingga jejaring birokrasi terrendah. ”saya membuktikan itu dari kebiasaan Orang Kelurahan memungut setoran dari kami-kami. Karcis retribusi yang harus kami bayar sebenarnya Rp.200 perhari, tetapi mereka selalu menarik Rp.500 dari kami. Itupun mereka tak tiap hari memberikan karcisnya.” demikian katanya sambil menunjukkan sobekan tiket retribusi. ”Bagi saya tak masalah. Toh terkadang saya memberi mereka Rp.1000. Kasihan. Hanya miris melihat orang seperti mereka sudah ketularan korupsi.”

Ia tidak tolol. Ia tahu tentang rencana pembangunan gedung DPR yang supermegah itu. Ia tahu bahwa anggota Dewan memperebutkan Dana Aspirasi dan Rumah Aspirasi dengan mengatasnamakan rakyat. Sebagai rakyat ia sadar, namanya hanya dicatut untuk mendapatkan anggaran. Ia tahu bahwa kebanyakan wakil rakyat selalu memosisikan rakyat sebagai objek yang harus dikasihani, padahal faktanya tidak. Ia adalah tukang cukur yang hidup dari tangannya sendiri. Ia tak pernah minta belas kasihan siapapun, apalagi kepada wakilnya yang ada di gedung legislatif. Harapannya hanyalah kepada ujung rambut orang lain, seberapa banyak yang dipotong, sebanyak itulah yang ia dapatkan.

Lebaran esok ia ingin pulang ke Randublatung, Blora. Ia siap mengarungi perjalanan jauh itu dengan sepeda motor bersama isteri dan kedua anaknya. ”Jalan ke desa saya jelek mas, nggak tahu kenapa jalan itu nggak pernah diperbaiki.” Ia masih segan untuk mengatakan bahwa terlalu banyak uang rakyat yang dikorupsi, termasuk oleh aparat pemungut pajak.

Episode potong rambut Si Gendut telah usai. Aku harus membayarnya Rp7.000 sebagaimana tarif yang tertera di kaca cerrmin besarnya. Untuk membuka dompet di saku belakang, sejenak aku meletakkan kamera Nikon yang dahulu kubeli sebagai kenang-kenangan ketika belajar di Tokyo. Ia terperangah melihat kamera yang sepertinya jarang ia lihat sebesar itu. Lalu,
Tukang Cukur : ”Kameranya bagus ya..”
Saya : ”Lumayan lah…”
Tukang Cukur : ”Beli dimana?”
Saya : ”Oh.. ini dulu belinya di Tokyo.”
Tukang Cukur : ”Waduh, jangan-jangan sampeyan anggota Dewan”
Saya : ”Lha kok begitu?”
Tukang Cukur : ”Lha iya, anggota Dewan itu kan kerjanya jalan-jalan luar negeri, nginep di hotel mahal, naik pesawat yang bagus, sangunya juga banyak, hahaha… (tertawa mengejek)”
Saya : ”&x#*$% ^ * #$$ …”

40 thoughts on “Berharap Pada Ujung Rambut

  1. bundamahes mengatakan:

    berarti dah punya bakat jadi anggota dewan (yang lurus) pak!

  2. sikapsamin mengatakan:

    Uang hasil kerja mencukur…toh dicukur juga utk ‘bayar-setoran’… Hukum Keseimbangan?!?

    Ada obrolan begini :
    ” Seseorang dengan keahliannya mencukur, dia telah mencukur ratusan bahkan puluhan-ribu kepala, mulai orang biasa, jenderal, menteri mungkin juga presiden/raja…
    Namun…dia tak mampu mencukur mencukur…Kepalanya-Sendiri”

  3. ummurizka mengatakan:

    Jangan-jangan korupsi sudah menjadi budaya di Indonesia…menurut mendagri, diantara 33 gubernur di Indonesia 17 diantaranya terlibat dalam korupsi (suara merdeka 181010), kasiannya ya rakyat kecil😦

  4. julicavero mengatakan:

    hahaha…anggapannya anggota dewan..harusnya syukurin aja sob..mana tahu ntr bs jadi anggota dewan kan..lumayan..hahaha..

  5. Vulkanis mengatakan:

    wah…jangan terlalu banyak berharap deh kalo untuk saya

  6. Ifan Jayadi mengatakan:

    Kalau di t4 saya, sekali cukur di t4 semacam itu seharga Rp. 10 ribu. Pekerjaan tukang cukur memang harus memiliki keterampilan khusus. Sedangkan wawasan yang mereka punyai adalah sebuah nilai tambah.

  7. nurrahman mengatakan:

    semoga yg disindir membaca tulisan ini🙂

  8. Masda mengatakan:

    kalo ane cukup berharap berarti aja dah, g neko2 pak…

  9. popi mengatakan:

    herannya..udah dipungut ini itu..eh suatu saat tetap kena gusur pula!

  10. asepsaiba mengatakan:

    Hmm.. Sentilan pada anggota parlemen dari sudut pandang tulang cukur yang cerdas!
    Retribusi, pajak jejadian, entah bahyak kebijakan yang memfasilitasi kebiasaan busuk itu.. Semoga mereka sadar!

  11. Red mengatakan:

    barbernya cerdas mas….. dia stay up date dengan informasi terkini dan itulah value added dia di mata pelanggan😀

  12. Usup Supriyadi mengatakan:

    wah, kalau saya karena dicukur selalu kidmat, maka jarang komunikasi, paling ama tukang ojek…:mrgreen:

  13. TuSuda mengatakan:

    pekerjaannya sangat mulia, membuat seseorang tambah bersih dan rapi..
    salut.. ya Mas..
    SALAM hangat dari Kendari. 8)

  14. Brotoadmojo mengatakan:

    mosok anggota dewan bawa kamera🙂
    kalau jalan-jalan dan sangunya banyak mungkin ada benernya, tapi kalau bawa kamera ya belum tentu😀

    tukang cukur itu pekerjaan yang paling “nggak sopan”, kerjaannya pegang-pegang kepala orang🙂

    Salam

  15. bolehngeblog mengatakan:

    sekedar kunjungan malam saja…selamat malam..trims sudah pernah berkunjung dan berkomentar di postingan saya…

    Bolehngeblog

  16. filando mengatakan:

    bang, potong model sasak ya. jangan yang kaya anggota dewan. modelnya kurang bagus soalnya :p

  17. Zippy mengatakan:

    Jangan lihat dari luarnya, ya kan?😀
    Orang seperti itu emang gak disangka, terlihat sederhana tapi cukup berilmu🙂
    Moga aja, yang dia bilang tidak benar adanya.
    Yah..bukan anggota DPR, hihihiihi😀

  18. ario saja mengatakan:

    tukang cukur rambut emang mantab, klo per hari 20 kepala berhasil di vermark… 140.000 udah ada ditangan

  19. Kelabang's Blog mengatakan:

    Gitu aja koq ada retribusi, betul2 pemerintahan yang menyengsarakan rakyat, pasti alasannya pemerintah ”pendapatn daerah”. Dunia benar2 sudah terbalik, bukan pemerintah mensejahterakan rakyat, tapi rakyat yang mensejahterakan pemerintah.

  20. ratansolomj9 mengatakan:

    Waktu aku kecil dulu ditempatku ada tukang cukur keliling, sekarang udah ga ada,alat cukurnya manual dan seperti dijenggiti rasanya …

  21. hpnugroho mengatakan:

    selamat pagi ..
    seringkali dalam kesederhanaan kita bisa jumpai kelebihan tersembunyi. siapa sangka justru dari seorang tukang cukur memiliki rasa, bahkan pada pelaku pungli yang tiap hari meminta jatah …

  22. dwiewulan mengatakan:

    mengulas yang jarang terpikir dan tersentuh… jadinya … cukup menyentuh…
    pa kabar pak setj… salam

  23. hellgalicious mengatakan:

    ahaha percakapan plus cerita yang menarik dari seorang tukang cukur.

    hihi

  24. uniharuni mengatakan:

    iya nih… sejauh ini dimanapun birokrasi yang aku sempat menclok ke sana selalu bikin gemes, geregetan ihhhh… rasanya pengen aku remas-remas kayak kertas sampai lumat. gimana enggak… mereka maunya nggak mau kerja cukup perintah sana perintah sini, kemanapun pengen dihormati. TAPI MEREKA PALING JAGO LHO… BWT LPJ (LAPORAN PURA2 JUJUR)ANGGARAN KEGIATAN ATO ANGGARAN DI AKHIR TAHUN

    maaf nih baru bisa mampir-mampir

  25. Bali Property mengatakan:

    orang kecil aja udah pada belajar korupsi, gmn kalo jadi besar ya? haha…
    tetangga saya juga tukang cukur dipasar, dia sewa kios, dan dia juga sering dipunguti biaya retribusi sperti itu
    Bali Villas Bali Villa Villas in Bali

  26. kopral cepot mengatakan:

    Salam buat “si Gendut” ..😉

  27. lyna riyanto mengatakan:

    Salam buat Mas Donny Londo
    Semoga makin banyak pelanggannya
    Kalau capek mesti tambah tenaga kerja donk

    * jadi betull??bapak seorang anggota dewan?? ^_^
    Salam kenal.

    • sedjatee mengatakan:

      klarifikasi aja:
      saya bukan anggota dewan
      menjadi legislator adalah tugas mulia
      tapi bukan satu-satunya jalan meraih kemuliaan
      hehehe…. salam sukses…
      salam kenal, tengkyu telah berkunjung…

      sedj

  28. Pendar Bintang mengatakan:

    Saya bingung Mas mau comment apa, padahal sudah saya baca dari awal sampai akhir..

    Hanya saja,mau mengomentari anggota dewan yang mungkin hidupnya masih serba kekurangan dan kasihan sekali dengan semakin banyak orang yang melesatrikan bidaya kosrupsi..

    Untuk batiknya aja, nunggu di ganggu orang dulu baru ribut ….

    Terserah dah!

  29. kangmas ian mengatakan:

    DPR : Dewan Perwakilah Rumah Tangga hehehe😀
    hebat nih ada londo buka barber shop xixi

  30. Lucky dc mengatakan:

    Kayanya negeri ini selalu diliputi oleh hal-hal yang serba miris ya di satu sisi orang dengan susah payah mengumpulkan kepingan rupiah di sisi lainnya malah menhambur-hamburkan uang😦

  31. Piss mengatakan:

    Ujung rambut menjadi sumber peghidupan…,
    SIapapun pasti membutuhkan jasa ini.

    Mas Sedjatee… komenku di beberapa blog sahabat masuk kotak, semoga disini tidak.

  32. mamah Aline mengatakan:

    kalo baca komentar mas donny itu, mewakili nada minor untuk para wakil rakyat yang terhormat.banyak sekali ungkapan miring untuk mewakili sepak terjang mereka itu.

  33. aldy mengatakan:

    Saya kalau cukuran juga dilapak seperti ini, terasa lebih anteng dan tidak banyak aturan.

    Mungkin sampeyan memang cocok jadi anggota dewan.

  34. Abdul Aziz mengatakan:

    Dulu pada tahun 70-an sebelum lebaran sudah hampir merupakan keharusan untuk potong rambut. Tapi anak-anak remaja sekarang tidak demikian.

    Soal korupsi di negeri ini semakin mengkhawatirkan. Tukang cukur pun tahu hal itu. Bahkan beberapa waktu lalu,ICW menyebutkan bahwa saat ini korupsi lebih marak kalau dibandingkan dengan masa Orba. dan itu terjadi di mana-mana.

    Asyik juga ya kalau dicukur di sana.
    Mudah-mudahan pelanggannya menjadi angota Dewan yang amanah.

    Sukses selalu.
    Salam

  35. Erwin ganadi mengatakan:

    profisi yang berani pegang kepala orang hanya ini lah…..wkwkwkwkwk

    Bali Prewedding Photography, Bali Photography, Bali Wedding

  36. wits mengatakan:

    meski postingnya udah lama, namun aku tetp pengen ngasih sedikit komen:)

    terharu dengan kehidupan Mas Donny Londo. Hidup memang tanggung jawab setiap individu. Jangan Menyerah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: