Besok Abi Pulang, Nak

Ahad malam, beberapa pekan lalu

Kereta melaju perlahan. Pria yang duduk di sebelahku mulai berbicara dengan telefon selularnya yang terlihat lawas. Ponsel lawas itu sesuai benar dengan busananya yang terlihat sangat bersahaja. Sepertinya ia tengah berpamitan kepada isterinya, lalu berbicara kepada anaknya, ”Rajin belajar ya Kakak, besok abi pulang lagi ya” demikian ia selalu berkata kepada anaknya di ujung telefon sana.

Pria baik itu adalah sahabat karibku sejak masa kuliah. Dalam beberapa tahun terakhir kami begitu sering duduk bersebelahan di kabin kereta, kendaraan yang selalu kami naiki. Seperti biasa, setiap duduk bersebelahan pria itu selalu memilih untuk terlentang di lantai beralas koran, sementara aku meringkuk di kursi. Lalu juga seperti biasa, kami mulai berbincang tentang banyak hal, tentang teman-teman kuliah, tentang masalah agama, tentang partai politik hingga tentang keluarga kami.

Setiap senin pagi akhirnya kami berpisah di Jatinegara. Pada senin malam aku selalu kembali bertemu lagi dengan pria itu, kali ini di masjid untuk menyimak kajian keagamaan sebagaimana rutinitas kami selama ini. Dan pada jumat petang aku pun berusaha untuk mencari pria itu, atau sebaliknya, lalu kami bersama lagi berkereta, berbincang dan berpisah lagi.

Ahad malam, 26 September

Selepas cuti hari raya, ini adalah kali kedua aku berkereta ke Jakarta. Ahad malam pekan sebelumnya aku tak bersama pria baik itu, dan malam ini aku tak sempat membeli karcis bersama untuk kembali duduk di sebelahnya. Bagaimanapun, terasa ada yang kurang ketika aku memasuki stasiun. Tanpa sadar aku melihat sekeliling, dan di ujung peron kulihat sosoknya, pria baik itu.

Aku mendekat, kujabat pria itu. Seperti teman lama yang tak pernah bertemu, ia pun memelukku. ”Lebaran belum ketemu, Taqaballahu Minna wa Minkum” katanya, “Shiyamana wa shiyamakum” jawabku. Kami pun berbincang lagi, ternyata ia berada di gerbong yang berbeda, maka kami pun berpisah.

==%==

Ada yang berbeda dari jabat tangannya malam itu. Pria itu tak terlihat membawa telefon selular lawasnya, sehingga tak kudengar ia berucap “besok abi pulang, ya”. Malam itu ia menyalamiku demikian erat, seperti seorang teman yang lama tak bertemu. Sebuah kesan yang sulit kulupakan. Entah mengapa dalam sepekan itu aku tak sempat menghubunginya. Bahkan jumat malam itu pun tak pulang bersamanya. Tugas mendesak memaksaku pulang lebih awal dengan kereta jumat siang. Aku tak tahu dengan kereta apa pria itu pulang ke rumahnya.

Sebuah berita menyentak kesadaranku Sabtu pagi lalu. Kabar tentang tabrakan kereta yang biasa kunaiki tiba-tiba mengingatkanku pada pria baik itu. Naluriku bergerak cepat. Aku segera menghubungi telefon selularnya, namun tanpa jawaban. Pun begitu saat aku berkirim pesan pendek kepadanya, tanpa balasan. Aku hanya bisa berharap ia termasuk yang selamat dari musibah transportasi itu.

Kegundahanku menemukan jawabnya pada sabtu siang itu. Sebuah berita menyebut nama pria baik itu sebagai salah satu korban pada kecelakaan itu. Berita yang melemaskan seluruh jiwa dan ragaku. Berita itu menghancurkan hati seorang yang kehilangan sosok sahabat terbaik. Ketika aku takziah ke rumahnya, aku tak melihat jasad pria baik itu. Aku hanya melihat seorang bocah balita yang wajahnya sangat mirip dengan pria baik itu. Aku hanya melihat bocah kecil yang terus bermain, tak hirau pada orang-orang yang berkerumun di rumahnya. Aku hanya melihat ekspresi polos bocah kecil itu seakan menanti seseorang yang selalu berkata “besok abi pulang, Nak”. Bocah kecil itu mungkin akan bertemu dengan jasad beku seorang ayah yang dinantikannya. Tetapi itulah kepulangan terakhir yang menjadikannya tak akan pernah lagi mendengar pesan “besok abi pulang, Nak”

Ahad malam kemarin

Seperti biasa, kereta malam ini kembali bergerak. Belum ada penumpang yang duduk di sebelahku. Tetapi sepertinya pria baik itu telah berada di sampingku. Ah.. ternyata tidak. Aku tak melihat sosok bersahaja itu datang, lalu menggelar koran dan terlentang di bawah kursi kereta. Pria baik itu tak akan ada lagi di kereta ini.

Pun senin malam ini. Kajian kitab tauhid tetap menjadi menu senin malamku meski hujan dan dingin mencekam jiwa. Malam ini kami mengkaji betapa Rasulullah adalah orang yang selalu penuh harap meraih surga, meski Allah telah menyediakan tempat terbaik untuk kekasihNya itu. Kita pun tak boleh berputus asa untuk mendapat keridhaan Allah dan selalu berambisi meraih surga. Aku terpana mengamini doa. Sendiri. Pria baik yang selalu bersamaku di pengajian ini, kini tak lagi ada. Hanya selantun doa untuknya ”allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu”

Sedjatee – dzulqa’dah 1431
sumber gambar : bostablog.wordpress.com dan efootage.com

Iklan

32 pemikiran pada “Besok Abi Pulang, Nak

  1. Sangkan Paraning Dumadi…
    Wus Lumebu Ing Alam Langgeng…
    Alam Sejatining Urip…
    Alam Urip kang Sejati…

    nung..nong..nang..ning..neng…….

  2. this is real story ya?very touching! Jadi inget suami, kalo lagi dinas suka telpon anak di rumah dan menjanjikan bakal cepat pulang dan jalan2 bareng. Semoga dia selalu dilindungi ALlah SWT, kemanapun dia melangkah!

  3. Ceritanya menggugah jiwa banget mas..
    kerika dalam perjalanan tanpa didampingi orang tersayang memang kadang sangat berharap agar mereka bisa merasakan pengalaman sepanjang jalan…

  4. Teman baik akan selalu dihati,, semoga kebaikan teman yang ini menyempatkan memantau bocah lugu yang selalu menunggu telephon abinya pulang..
    dan teman baik yang suda dirumah-Nya akan selalu tersenyum dari kejauhan melihat teman baiknya..

  5. Sungguh rangkaian kata yang apik, saya membacanya merasakan bagaimana curahan hati saat menulis hal tersebut, penghormbatan kepada sahabat yang luar biasa…turu mendoakan semoga semuanya diberikan kekutan

  6. Allahummaghfirlahu.. Warhamhu.. Wa’afihu.. Wa’fu’anhu…

    Semoga almarhum diberikan tempat di barisam umat Muhammad kelak di padang Mahsyar.. Yang ditinggalkan, termasuk si anak itu.. Diberi kekuatan dan ketabahan.. Amin…

  7. walaupun belum pernah merasakan kehilangan sahabat yang pergi mendahuli, tapi saya ikut merasakan bagaimana rasa kehilangan itu …
    semoga Alloh berkenan menempatkannya di taman terindah-Nya

    1. “…Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik” (QS. Al-Israa’ [17]:53)

      “…Wa quulu linnasi husna – dan bertutur-katalah yang baik kepada manusia” (QS. Al-Baqarah [2]:83)

  8. Apa berarti keretanya juga lewat Stasiun Weleri (rumahku baratnya-utara rel) mas? Mesyakne banget ya kancanya tadi, yowislah, diikhlasken saja, Allohummaghfirlahu warhamhu, wa’afihi wa’fu ‘anhu.
    Mungkin bisa mampir, tetapi call dulu yah ke nol lapan tojo, lapan tega dowa, dowa mbilan lema, nol nol mbelan. 😆

  9. beberapa hari sebelumnya saya sempat ketemu beliau di masjid al amin lapangan banteng. tak sempat menyapa karena beliau sedang khusyuk dngn dzikirnya dan saya ada kegiatan lain. tak disangka, itu adalah kali terakhir saya ketemu dng beliau. allahummaghfirlahu ….

    pakne hanah
    – adik kelas beliau –
    – alumni roker senja smg –
    – murid pak ismoyo –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s