Republik Semrawut

45

November 1, 2010 oleh sedjatee

Masih tersisa di hati saya perasaan kesal, sedih dan trauma atas berpulangnya seorang sahabat dalam tragedi transportasi beberapa waktu lalu. Namun itu semua sepertinya belum cukup. Senin malam lalu, di kota kebanggan Indonesia, kita kembali dibuat geram, bahkan senewen, lagi-lagi oleh masalah transportasi. Genangan air hujan, lalu kemacetan. Sebuah kesemrawutan khas Indonesia. Sebuah problematika yang makin lama bukannya makin teratasi, tetapi makin ruwet tidak keruan.

Belasan tahun lalu, penyanyi Iwan Fals menulis lagu tentang kebiasaan terlambatnya kereta api. Dua jam itu biasa, demikian sebaris liriknya. Dan cerita tentang kesemrawutan jadwal kereta api itu tetap lestari hingga hari ini. Sebagai pengguna rutin kereta api antar kota, saya telah hafal diluar kepala bahwa kereta api tak pernah menepati jadwalnya. Tiket kereta api Senja Utama selalu mencantumkan berangkat dari Semarang jam 20.00 dan tiba di Jakarta pada 03.00, tetapi fakta dalam empat tahun terakhir ini kereta api tersebut tak pernah tiba sebelum jam 04.30. Para penumpang hanya bisa pasrah, tak ada alternatif lain. Kesemrawutan itu tak pernah diperbaiki dengan evaluasi jadwal kereta atau yang lain. Dan tubrukan Argo Anggrek dengan Senja Utama adalah puncak kesemrawutan itu.

Bila pengelola KA menepati jadwal, KA Senja Utama yang dari Jakarta 19.10 akan tiba di Semarang paling telat pada 02.30 sebagaimana tertulis pada karcis. Artinya, bila sesuai jadwal, tak akan ada dagelan KA itu disodomi oleh Argo Anggrek yang start dari Jakarta jam 21.30. Senja Utama naas yang pada jam 03.00 itu masih berada di Pemalang kemudian ditabrak dari belakang adalah bukti carut marutnya sistem pengelolaan KA negeri kita. Opini bahwa penyedia moda transportasi lebih mengedepankan ambisi keuntungan daripada keselamatan, sekali lagi terbukti dengan gamblang.

Kesemrawutan transportasi ternyata bukan hanya tabrakan kereta, pesawat nyemplung ke laut, kapal tenggelam atau kemacetan jalan raya. Seperti slogan pariwisata pemerintah ibu kota, Enjoy Jakarta, maka silakan datanglah ke Jakarta, dan nikmatilah dahsyatnya kemacetan disini. Mumpung masih musim hujan.

Hujan dua jam saja, tergenanglah jalanan Jakarta. Tanpa genangan saja, kemacetan telah ada di mana-mana. Tetapi malam kemarin terasa lebih mantap karena dilengkapi pula dengan genangan yang dibeberapa titik mencapai 80 senti. Aneh bin ajaib, pemerintah ibukota malah menyalahkan curah hujan yang katanya sulit diprediksi. Sepertinya ia lupa bahwa kemacetan dan genangan adalah penyakit kronis Jakarta, bukan pada musim hujan kali ini saja. Bahwa sistem drainase Jakarta adalah peninggalan masa lampau, ternyata tak pernah ada upaya perbaikan yang radikal hingga saat ini.

Masyarakat sudah terlalu lelah untuk membahas kemacetan Jakarta. Seyogyanya ini tidak diperparah dengan pembiaran semrawutnya drainase yang sudah sangat buruk sejak beberapa tahun terakhir ini. Statistik media beberapa tahun lalu merilis data bahwa laju kendaraan rata-rata di tengah kemacetan Jakarta adalah 20km perjam. Ini lebih buruk dibanding kemacetan di Manila, Bangkok, Teheran dan New Delhi. Hari ini kondisinya bahkan makin semrawut dimana laju rata-rata di Jakarta hanya 12 km perjam. Kerugian ekonomis pertahun yang ditimbulkan kemacetan itu bahkan ditaksir mencapai Rp. 80 triliun, sebuah bilangan yang bisa dipakai untuk menyelesaikan jalan tol Semarang – Solo.

Saya jadi teringat sebuah janji pada Pemilihan Gubernur Jakarta beberapa tahun lalu. Kemacetan dan banjir Jakarta, serahkan pada ahlinya. Demikian slogan kampanye pada waktu itu. Saya yakin masyarakat bersungguh-sungguh untuk mencoblos sang ahli. Perkara sampai saat ini sang ahli belum menyelesaikan masalah yang katanya menjadi keahliannya, kita hanya bisa menduga bahwa Sang Ahli tengah berjuang menyelesaikannya dan kita perlu terus mendukungnya. Kalau toh sekian lama kondisi transportasi kita bukan membaik malah makin buruk, barangkali kita hanya perlu menggelar kenduri untuk mengubah nama negeri ini, Republik Semrawut.

sumber gambar: pjmibintaro.blogspot.com dan kompasiana.com

45 thoughts on “Republik Semrawut

  1. julicavero mengatakan:

    sob..bukan lg semrawut tp sebenarnya ga layak untuk dijalani. kota jkt seharusnya memang menjadi icon bangsa…tp apa daya pemimpin kita masih blm bs mengatasinya sob

  2. ummurizka mengatakan:

    kita doakan semoga para pemimpin di negeri kita menjadi sadar n amanah, sehingga negera kita segera bangkit dari ambang keterpurukan.

  3. joe mengatakan:

    padahal persoalannya selalu berulang-ulang, anehnya dari tahun ke tahun tetap saja tidak ada solusinya

  4. Invincible Tetik mengatakan:

    permasalahan klasik Indoesia🙂
    Sampai kapankah?

  5. TuSuda mengatakan:

    harus ada upaya perbaikan dari lini per lini scr sistematis…

  6. dikma mengatakan:

    turut berduka cita atas sahabat anda
    ya beginilah republik ini

  7. achoey mengatakan:

    Itulah kenapa, saya gak suka Jakarta

  8. ysalma mengatakan:

    yang terjebak macet dan genangan air di Jakarta cuma rakyatnya Pak, pejabatnya ga pernah merasakan soalnya, jadi beliau-beliau itu masih denger2 keluh kesah rakyat yang sayup2.

  9. semprawut koyo wedus gembel yg bs meluluh lantahkan kehidupan.

  10. Business and Finance mengatakan:

    pemimpinnya dan jajarannya sibuk sendiri yaa

  11. Vulkanis mengatakan:

    Makanya Mas saya nggak tinggal di Jakarta

  12. Vulkanis mengatakan:

    Please Mas keluarin dari spam

  13. yusuf mengatakan:

    yah, beginilah negeri kita, mau nggak mau ya dijalani aja. apalagi yang namanya kereta api, selalu saja semrawut, yang namanya KRL AC Ekonomi sekarang nggak ada bedanya dengan yang ekonomi, sama sesaknya, sama telatnyam hanya bedanya kalo KRL Ekonomi boleh naik di atas gerbong dan kalo KRL AC Ekonomi gak boleh di atas gerbong..:)

  14. Vulkanis mengatakan:

    Yang bikin semrawut orangnya bukan republiknya..he,,heehe,,

  15. TKB mengatakan:

    Kabarnya wacana ibukota pemerintahannya juga mau dipindah itu mas, bagaimana kabar terbarunya sekarang?

  16. save your head mengatakan:

    mudah-mudahan di masa yang akan datang kesemrawutan ini bisa berkurang walau hanya 0,0001%

  17. tiket pesawat mengatakan:

    ya semua itu kesadaran dari masyarakat yg ada di Jakarta jg turut membantu.

  18. Kelabang's Blog mengatakan:

    Walaupun Jakarta sering macet, tapi anehnya yang datang dan tinggal di Jakarta makin banyak aja tiap tahunnya.

  19. Pendar Bintang mengatakan:

    Lelah dan tak ada habisnya kalau membahas kekuranagn-kekurangan di negeri tercinta ini..bagaimana kalau kita cari kebaikan2nya agar hati kita terhibur dan kecewa sedikit terobati🙂

  20. TUKANG CoLoNG mengatakan:

    janji pas pemilihan hanyalah rayuan gombal

  21. Sugeng mengatakan:

    Hal inilah yang membuat aku tidak betah kalau di suruh menetap di Jakarta, namun semoga pemerintah daerah yang sekarang bisa membagun moda massal untuk rakyat yang murah dan aman.😛
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  22. fitr4y mengatakan:

    senin malm itu ,, aku pulang naik ojek 2 jam muter2 .. baru nyampe rumah ..

    nasib jakarta mang harus macet selamanya .. hehe

  23. hpnugroho mengatakan:

    kita hanya bisa berharap sang ahli benar-benar berupaya menuntaskan masalah tersebut bukan cuma ahli dalam kampanye dan slogan aja …

  24. Masda mengatakan:

    inilah negri kita sesungguhnya temaaaan, semua yang baik2 tentang negri ini yang pernah lu denger itu hanya cerita…🙂

  25. bolehngeblog mengatakan:

    seperti kita ketahui, kemacetan terjadi karena terlalu banyaknya kendaraan (motor dan mobil) dibandingkan volum jalan..untuk jarak yang sangat pendek pun, masyarakat lebih suka menggunakan kendaraan…coba kalau harga BBM nya dinaikkan menjadi Rp. 12.000 / liter, saya yakin kemacetan akan berkurang..(yang bertambah malah kerusuhan, kemiskinan, dll)..salam..

  26. sikapsamin mengatakan:

    Masihkah ada solusi…
    Uang sudah menjadi ‘kitab-suci’…
    OenToeng berperan sebagai ‘nabi’…

    Era Jahilliyah sudah kita masuki…
    Akhirnya…sulit berkomentar lagi…

    Air…Angin…Api…sudah saling berinteraksi…
    Biarlah…Bhumi-Pertiwi membersihkan diri…

    Innalillahi wa innaillaihi…….

  27. […] Sunnah Rasuli mengabari kita : “Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing” Memang akan demikian, Joko Sejati! […]

  28. Ahli-Komputer.com mengatakan:

    Jangankan di jakarta, di Surabaya aja macetnya bukan main.

  29. Edi Psw mengatakan:

    Sejak dulu sudah diadakan upaya mengurangi kemacetan, tapi nampaknya tidak begitu banyak terjadi perubahan.

  30. Edi Psw mengatakan:

    loh, komenku koq ilang…

  31. kangmas ian mengatakan:

    punya solusi g mas untuk mengatasi ini?😀
    penyakit klasik mas..pemerintah hanya berusaha mengelak padahal masalah ada dimana-mana😦

  32. z4nx mengatakan:

    saya seneng dengan judulnya…
    kapan akan berakhir ya…?

  33. orange float mengatakan:

    janji tinggallah janji😦

  34. M Mursyid PW mengatakan:

    Menggelitik sekali tulisan di paragraf terakhir tulisan ini. Semoga para petinggi bisa benar2 fokus dalam ngurus masalah ini.

  35. popi mengatakan:

    tenang mas..kalo mengenai genangan air, banjir akibat hujan deras terus menerus kata pak Gubernur ga akan bikin Jakarta kelelep kok! Jakarta baru tenggelam kalo banjir udah sampe dengkul! (dengkulnya patung Pancoran maksudnya… 😀 )

  36. bundadontworry mengatakan:

    Mereka yang berkuasa, gak pernah ikut mengalami kebanjiran ataupun kemacetan , jadi yah mereka gak tau rasanya dan gak ada keinginan juga utk menyelesaikan masalah yg gak pernah mereka rasakan sendiri.
    Biarlah rakyat saja yg semrawut hidupnya, asal mereka masih bisa berkuasa, mungkin begitu ya😦
    salam

  37. aldy mengatakan:

    Saya juga bingung bin bahlol jika melihat kondisi Jakarta, katanya lebih baik jika dipegang putra daerah, tetapi kenyataannya malah babak belur.

    Sejak dipegang oke Foke, jakarta makin hancur. Mungkin gebernur yang sekarang, gubernur paling fake yang pernah dimiliki jakarta.

  38. Nancy mengatakan:

    kemacetan semakin merajalela…

  39. Piss mengatakan:

    Dipikirin atw gak dipikirin semrawutnya negeri inikadang membuat kepala ‘tuing-tuing’ mas

  40. wardoyo mengatakan:

    Macet berarti semakin banyak pengguna jalan.
    Macet berarti semakin banyak yang punya kendaraan.
    Macet berarti semakin banyak yang hidup berlebihan.
    Macet berarti meningkatnya kemakmuran….
    Hahaha…. semrawut banget!

  41. grandchief mengatakan:

    Semoga bisa menjadi lebih baik aja deh🙂

  42. Ezljjxbo mengatakan:

    ed hardy gif,

  43. sennheiser headphone mengatakan:

    WONDERFUL Post.thanks for share..more wait .. …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: