Surat Untuk Tuan Mantri

Tuan Mantri Negeri Awang-awang yang saya hormati,

Saya telah membaca tulisan Tuan di jejaring gaul Tweeter berkaitan tentang bencana yang sedang dialami negeri ini. Saya kagum kepada Tuan yang begitu fasih mengutip ayat-ayat suci. Saya meyakini dan tak ada keraguan sedikitpun tentang kebenaran isi ayat suci yang Tuan kutip. Tentang bencana itu, Tuan, bukan kali ini saja terjadi di negeri kita. Saya yang bodoh ini ingat betul, gempa bumi pernah juga terjadi di Yogya pada 2006, dan itu menimpa keluarga kami.

Saya keberatan jika Tuan menilai bahwa bencana yang menimpa negeri ini adalah azab. Kemaksiyatan apa yang Tuan lihat telah dilakukan oleh orang-orang kecil di sekitar Merapi dan Yogya, sehingga bencana itu disebut azab? Rumah Saudara kami luluh lantak oleh bencana dan kami tak menganggapnya sebagai azab. Saudara kami itu taat shalat lima waktu, membayar zakat dan menghidupi keluarganya dari rezeki yang halal. Ia menjadi pegawai negeri karena ikhtiarnya secara halal, bukan hanya beruntung karena dekat pada partai politik tertentu.

Maksiyat apa yang ia lakukan sehingga Tuan menganggapnya harus diazab? Benarkah Tuhan sepemarah itu kepada hambaNya yang masih mendirikan shalat? Tidak adakah kata yang lebih santun untuk menjelaskan demensi lain dari kejadian alam? Tuan pasti hafal QS al-Hadid yang artinya: Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.

Tuan Mantri yang terhormat,

Saya hanyalah orang kecil yang ketika bencana menimpa, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya bisa maklum jika banyak orang menganggap partai Tuan selalu terlihat giat membantu bencana, terutama kalau bencana itu dekat dengan waktu coblosan. Oleh karenanya saya muak ketika tahu ada Kepala Daerah yang sampai hati berkunjung ke luar negeri di saat daerahnya tertimpa musibah. Tanah kubur korban bencana itu belum kering, tetapi ia tetap keluar negeri untuk acara yang bisa ditunda atau diwakilkan. Dan saya yakin, Tuan yang bermartabat setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa pemimpin model itu adalah pemimpin yang mati rasa.

Sebenarnya saya berharap, Tuan sebagai ulama yang masyhur bisa menentramkan hati dengan kutipan ayat-ayat yang sejuk dan menenangkan. Bukan melontarkan ucap yang melukai hati. Saya yakin Tuan telah mengeluarkan bantahan, sama seperti Kepala Daerah yang ke luar negeri itu. Tuan mengatakan itu bukan konteks bencana, tapi itu terserah Tuan, karena di dunia ini ada banyak alibi bisa dipakai untuk berdalih. Kalaupun tidak, Tuan dan Kepala Daerah itu punya banyak pendukung yang siap menghujani media dengan seribu macam alasan atau klarifikasi. Tetapi saya lebih kagum kepada tentara, polisi dan palang merah yang bekerja ikhlas tanpa kenal lelah, bukan untuk disanjung, bukan sedang kampanye terselubung.

Tuan, mari kita sama-sama meneladani presiden kita. Kali ini, saya angkat topi sekaligus takjub pada keputusan dan keberanian Bapak Presiden untuk turun langsung menangani bencana. Mulai dari keputusan beliau mengganti rugi ternak pengungsi, hingga keteguhan beliau selalu dekat dengan rakyat di lokasi bencana, makan bersama mereka dan memberi ketenangan kepada mereka. Bagi saya beliau telah menunjukkan jiwa seorang negarawan yang sesungguhnya.

Tuan Mantri yang arif bijaksana.

Saya tambah kaget, ternyata Tuan juga pernah membanyol tentang AIDS dengan mitos yang menyakitkan. Sebenarnya saya tak percaya bahwa Tuan yang shalih dan terpelajar akan mengutip banyolan tak lucu dan tak bermutu itu. Tuan, dagelan itu terlalu menyakitkan. Penyakit AIDS bukan semata-mata karena perilaku kelamin yang menyimpang. Pernyataan Tuan telah merendahkan dan menghancurkan harga diri orang-orang yang teridap AIDS karena jarum suntik atau tranfusi darah. Mereka bukanlah orang yang perilaku seksualnya menyimpang. Sebagian besar mereka loyal kepada pasangan dan itu dibuktikan dengan sikap mereka bermonogami.

Tuan, saya tetap mendukung Tuan, karena Tuan adalah orang baik yang saya harap bisa mewarnai pemerintahan negeri ini dengan keshalihan Tuan. Saya tetap berharap Tuan bisa terus menjadi Mantri di pemerintahan berikutnya. Walaupun saya beberapa kali kecewa dengan sikap Tuan dan partai Tuan, saya tidak akan melakukan demonstrasi karena belakangan saya baru tahu bahwa hal itu tidak diajarkan dalam agama saya. Doa saya, semoga Tuan dilimpahi kesehatan dan keberkahan dari Tuhan untuk dapat mengemban amanah bangsa dengan sebaik-baiknya.

Sekian surat saya, Tuan. Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya salaman dengan orang terkenal? Saya lihat berulang-ulang di tipi, Tuan tersenyum sumringah ketika dua tangan Tuan bersalaman dengan orang beken dari luar negeri. Tuan telah membuat klarifikasi bahwa Tuan tak berniat melakukan adegan itu. Saya percaya kepada Tuan, mungkin saya sudah mulai rabun, atau tipi saya yang memang terlalu jelek. Saya yakin kok Tuan bisa menegakkan keyakinan Tuan dengan syarat terlebih dahulu Tuan menjadi Presiden Iran.

Salam hormat dari saya. Terimakasih.

Sumber gambar: kompasiana

Iklan

48 pemikiran pada “Surat Untuk Tuan Mantri

  1. tapi disisi lain taat beribadah, zakat belum berarti lepas dari dosa bos… karena setahu saya yang awam ini, dimata Tuhan, tidak mutlak amal dihitung secara kuantitatif, tapi juga kualitatif.. Huallahualam… Pray for Indonesia

  2. Saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana ini adalah orang-orang pilihan, mereka belum tentu bersalah, Allah hanya akan meguji hamba-NYA tidak melebihi kemampuan mereka. Kenapa kita sering menyalahkan alam, padahal gunung, laut, air hanya menjalankan ‘kewajibannya’, harusnya semua ini menjadi koreksi.
    Sopo salah bakale seleh….
    Nuwun

  3. bendera partai berkibar di pengungsian..menambah keyakinan, gak layak memilih partai..kapan pemimpin yang sejati hadir ?
    sudah terasa kah apa belum, kehadirannya ?

  4. mantri mantri cm bs obral janji……kepala daerah bangsat yg keluar negeri namun rakyatnya dalam kondisi menderita…….mana to perjuangan buat rakyat yang dulu digembar-gemborkan saat kampanya??????????????…………

  5. Tuan Mantri juga manusia.. Butuh orang2 di sekitarnya yg mengingatkan beliau.. Termasuk lewat tulisan hebat ini…

    Mas, coba kirim tulisan ini ke surat kabar di ibu kota.. Biar Sang Tuan bisa membacanya…

  6. Tuan Mantri, hmm …. komentar2nya sering bikin orang panas dan tersinggung. ndak pernah bisa berempati bagaimana hidup tertimpa bencana. pak ma(e)nteri TS kok bisa begitu, yak? itu sama saja menjenguk orang sakit, lantas dia bilang, penyakitmu itu azab tuhan. masyaallah!

  7. semoga tuan mantri sempat membaca surat yang di buat mas sedj ini..
    kalaupun nggak di baca mas sedj bisa layangkan surat langsung ke yang maha kuasa pengatur kehidupan ini melalui untaian doa,kl yang ini nggak akan di baca tapi pasti langsung akan di dengarkan ๐Ÿ˜€

  8. Apa yang kita alami, baik atau buruk, adalah ujian Allah. Kita diuji dengan bencana, kemiskinan dan kesulitan hidup. Tapi Allah juga menguji dengan jabatan, kekayaan dan kesenangan hidup lainnya.

    Apakah Nabi Ayub diazab Allah ? Ia sakit bertahun-tahun, istrinya pergi, anak-anaknya meninggal, dan ternaknya pada mati. Apakah ia kena azab Allah ?

    Pak menteri ini ingin salaman dengan first lady,tapi ia tampaknya takut sama partainya yang sudah memfatwakan haram bersalaman dengan perempuan. Seharusnya tidak bersikap munafik seperti itu, Ahmadinejad tidak mau bersalaman karena memang haram, tapi ia tahu etika internasional, kalau tidak bersedia bersalaman kedua tangan di samping tapi tetap penuh hormat.

    Terima kasih Mas.Sajiannya sangat menarik.
    Salam.

  9. Sampai hari ini aku masih salut dengan pak Ahmadinejad…
    beliau satu-satunya pemimpin yang sifatnya mirip dengan para penguasa islam jaman dahulu. Yang sangat bersahaja dan tegas…

  10. bencana yang terjadi belakangan ini sebenarnya hanya ujian saja untuk bangsa indonesia, meski sebenarnya bencana yang terjadi pun tidak hanya di indonesia saja tapi juga di negara lainnya…sabar n tawakal aja…

  11. Sebenarnya bukan dia saja sih yg suka mengucapkan tulisan ‘ayat-ayat’ spt itu, disaat terjadi bencana…
    Komentar2 oleh para netter pun banyak…

    Sampai muncul dlm benak saya “barangkali bin jangan-jangan bin mungkin”…ada kalimat lanjutan yg tak tertulis…misal *(oleh karena itu jadilah pengikutku)*

    Lho ini angan2 yg muncul karena saking muak.
    Lhawong disaat bencana…kok tega2nya

    mbuh lah

  12. Saya termasuk yang berduka dengan partai pak mentri ini, puncaknya Pak Gubernur yang meninggalkan daerah bencana itu ๐Ÿ˜ฆ
    Tetap berharap muncul pemimpin yang benar2 memimpin rakyatnya bukan hanya partainya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s