Dulu Basiyo, Sekarang Obama

Saya membaca ulasan sebuah buku tentang Warkop, kelompok komedian yang digawangi oleh Dono, Kasino dan Indro. Semua orang mengenal trio pelawak ini, boleh dibilang mereka adalah pelopor industri lawak di jagat hiburan Indonesia. Mereka menghibur tak hanya melalui sinema komedi sebagaimana yang kita tonton belakangan ini. Pada debut industri dagelannya tahun 1979, Warkop menjual karyanya dalam wujud pita kaset yang diproduksi dibawah bendera Aquarius. Menurut pemilik Aquarius, untuk album perdana bertitel Warung Kopi itu, mereka mendapat bayaran 10 juta rupiah, sebuah bilangan yang membuat decak kagum pada masa itu.

Menyenangi hiburan boleh jadi merupakan karakter asasi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tak suka dengan situasi mencekam, tegang, terburu-buru atau penuh tekanan. Ini sesuai dengan fitrah manusia senang berada dalam suasana yang akrab, santai dan menghibur. Pun demikian dengan saya. Jujur saja, mengonsumsi lelucon kini menjadi rutinitas waktu senggang saya sebagai proses relaksasi fikiran setelah bergelut dalam situasi kerja yang tidak sehat dan penuh tekanan. Berbicara tentang lelucon, bagi saya tak ada yang lebih menarik daripada dua hal: adegan punakawan dalam wayang kulit dan dagelan mataram khas Basiyo.

Jauh sebelum era Warkop dimulai, Basiyo telah memperkenalkan seni panggung yang disebut sebagai Dagelan Mataram. Menggunakan bahasa Jawa sebagai lingua franca, penampilan Basiyo lebih menjadi konsumsi lokal masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, lebih khusus adalah penikmat siaran RRI Nusantara II Yogyakarta. Berbeda dengan Warkop yang menjadikan masyarakat urban sebagai settingnya, Basiyo memilih bermain dengan tema-tema rakyat. Basiyo dan para sekondannya acap mengangkat kisah masyarakat marjinal semisal tukang becak, pengamen, makelar binatang, bahkan maling. Meski jauh dari kesan moderen, Dagelan Basiyo tak hanya menyuguhkan hiburan, namun juga menyisipkan ajaran moral yang disampaikan secara rileks tanpa terkesan menggurui.

Perjalanan menjadi pelawak bukanlah sebuah proses sederhana. Selain bermodal talenta, menjual lawakan perlu itikad, tekad dan nyali. Nyaris semua pelawak menjalani episode penuh perjuangan sebelum meraih nama besar dan popularitas. Kelompok Srimulat menjual dagangannya dari panggung ke panggung, bongkar pasang formasi, keluar masuk kota, hingga menjadi sebuah trend setter yang top. Komedian yang juga presenter kondang Tukul Arwana bahkan memulai perjuangannya sebagai kernet buskota dan supir pribadi. Namun ia terus belajar, tak terkecuali saat ini dimana ia telah diyakini sebagai salah satu pesohor dengan penghasilan tertinggi di negeri ini. Pelawak yang sedang menanjak, Entis Sutisna alias Sule, mengibarkan namanya dengan perjuangan yang tak gampang. Ia memulai kehidupannya sebagai asisten pedagang bakso, kemudian melawak di radio hingga mengikuti kontes di televisi. Maraknya genre lawak di etalase hiburan kita memberi indikasi bahwa lawakan adalah hiburan yang akan selalu terus diterima masyarakat. Seperti tak mengenal pasang surut, para pelawak muncul silih berganti dari generasi ke generasi.

Hari ini negeri kita belum usai dirundung musibah. Setiap bencana selalu menorehkan duka. Dalam situasi begini, mengingat hal-hal lucu bisa menjadi satu tips untuk sesaat berkelit dari depresi yang acap muncul di tengah bencana. Datang disaat yang tepat, anak menteng yang menjadi Presiden Amerika muncul untuk menghibur bangsa ini. Setelah menciptakan gerutu panjang karena memacetkan Jakarta, Obama langsung membayar lunas dengan kepiawaiannya berretorika. Meski adegan salaman Ibu Negara membintangi berita media massa internasional, Obama menghibur rakyat Indonesia yang sedang berduka. Obama cerdas, ia tahu kapan harus menghibur, ia tahu kapan harus mengumpat.
Apa kabar /
Assalamualaikum /
Pulang Kampung nih /
Bakso / Sate / Nasi Goreng /
emping / kerupuk /
semua enak / trima kasih.
Begitu saja, tak lebih seperti orang belajar bicara. Bukan lelucon, namun terima kasih, Obama, Anda membuat Indonesia tertawa.

gambar kartun Mice diambil dari tamtomo.blogspot.com

Iklan

39 pemikiran pada “Dulu Basiyo, Sekarang Obama

  1. Pidato Obama kemaren memang menghibur…,
    Lawakan memang bisa merefresh pikiran dari kejenuhan namun lawakan yang baik adalah lawakan yang sehat dan menyisipkan pesan-pesan moral serta membangun.

    1. saya curiga buat kata2 ini Obama harus mencari tahu lewat jaringan intelegennya. πŸ˜€
      dan dia mungkin tahu, akhirnya kalau orang indonesia itu mudah takjub banget dengan kata2 sederhana saja.
      ya, obama pasti berpikir mereka tidak perlu usaha keras untuk menjadikan indonesia jadi pengikutnya… 😦

  2. Kaset Pelawak legendaris Basiyo, masih sering diputar di RRI solo. Mendapingi ketenaran saudaranya sang dalang Maestro Ki Nartosabdo Alm.
    Lelucon memang dapat untuk sejenak melepaskan ketegangan saraf yang didera rutinitas kerja.
    Salam hangat dari Solo.

    1. saya sedikit inget lakon tentang gatotkaca gandrung atau apa itu…bukan hanya kocak, lucu, tapi sejatinya adalah ironi tentang manusia yang tak berani menghadapi kenyataan diri sebenarnya, bahwa ia bukan gatotkaca yang otot kawat balung besi, sejatinya ia manusia biasa yang terjebak dalam leluconnya sendiri…salam

  3. Sebuah cerminan sikap yang dilandasi Kesadaran bhw Obama-kecil pernah hidup/sekolah diIndonesia…pasti ada tingkah2 yg bandel…
    Kedua cerminan seorang yg tidak demam/mabok jabatan. Jabatan adalah tugas Negara…

  4. Yeah, Barack Obama dan para pendampingnya sangat ahli melihat situasi, selain orang-orang kita terperangah karena dia pernah tinggal dimenteng, kharisma seorang Obama memang luar biasa. Dengan bahasa Indonesia yang hanya sepenggal dia dapat menunjukan rasa empati kepada kita.

    Andai saja ada anak negeri seperti ini 😦

  5. @pak aldy: Kan sudah ada p[ak yang meniru gaya kampanye dan perayaan kemenangan nya kemarin πŸ˜† semoga bisa membuat negeri ini bisa menjual sate dan bakso ke amerika sono. πŸ˜›
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  6. Tapi rasanya apa yang membuat tertawa bukanlah karena yang dibicarakan itu lucu, tapi karena yang ngomong itu Obama. Entahlah, kadang rancu juga antara menertawakan Obama atau memang benar-benar sebuah kelucuan…
    Semoga ada efek positif dari kata yang di ucapkan oleh Obama.. πŸ˜€

  7. Begitulah kesenangan orang indonesia mendengar sesuatu yang tampaknya bisa mengundang tawa. Apalagi ketika obama yang mengatakan sesuatu dalam bhs indonesia dengan loghat yang kebarat-baratan, pastilah akan menjadi sesuatu yang patut diperbincangkan

  8. Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain tentu perlu juga mengetahui sedikit banyak ttg orang itu. Kalau dia hobi catur ya kita singgung sedikit ttg catur sehingga pembicaraan menjadi gayenk.

    Ketika saya sekolah di India saya nyanyikan sebait lagu India -Sawan kamahina- yg saya tahu sejak tahun 1969. Demikian kita juga ikut meng-gayengkan suasana.

    salam hangat dari Surabaya

    Salam hangat dari Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s