Pernah Muda

Pagi tengah menanjak siang. Panasnya kota Semarang tak menghambat laju roda sepedanya. Ia terus menuntun sepeda butut yang dipenuhi bertandan-tandan pisang. Samuri, pria sepuh itu pantang surut ke belakang. Bertahun-tahun ia menjalani rutinitas itu di tengah panas, juga terkadang ketika hujan menghamburnya. Namun ia sadar, hanya dari jalan itulah ia merasa bisa menghidupi keluarganya. Tubuhnya kini ringkih, menyebabkan ia tak lagi sanggup menjadi tukang batu, profesi yang dijalaninya sebelum ia menggeluti sepeda dan tandan-tandan pisangnya.

“Usia saya 75 tahun. Yang saya ingat, saya menikah pada tahun ketika peristiwa Gestok terjadi” begitu ia menyebut tahun pernikahannya saat masa-masa revolusi. Ia bercerita tentang isterinya yang menderita depresi, tekanan batin akibat kesedihan berlarut-larut karena kematian anak wanitanya berikut calon cucunya ketika persalinan. Ia pun berkisah tentang anak lelakinya yang takut menikah. “Begitulah keluarga saya, jadilah saya satu-satunya harapan mencari nafkah bagi mereka” demikian Samuri.

“Saya tinggal di Penggaron Kidul. Dengan menuntun sepeda inilah saya berdagang pisang kemana-mana” demikian ia menjelaskan tempat tinggalnya yang berjarak belasan kilometer dari tempat berdirinya saat ini. Saban pagi Samuri menuju pasar Banget Ayu, dekat stasiun Alastuwo untuk berbelanja pisang. “Saya hanya punya modal 300 ribu, itu semua saya belanjakan pisang, sedapatnya. Lalu saya menjualnya keliling kampung. Terkadang bisa mendapat lebih 50ribu untuk dibawa pulang. Itulah nafkah untuk keluarga saya. Besoknya saya belanja lagi dengan yang 300ribu”. Berapapun Samuri selalu bersyukur, meski terkadang dagangannya baru habis saat maghrib, dan ia tiba dirumah menjelang malam.

Usia tua dan tenaga yang merapuh telah menyingkirkan Samuri dari profesi tukang batu yang ditekuni ketika muda dahulu. Namun di usia tua ini ia pantang menyerah. Dari pisang-pisang inilah Samuri menemukan rezekinya yang lain. Meski lusuh dan hidup pas-pasan, ia tak sedang mencari belas kasihan dari orang lain. Tak sedikit para pelanggan tersentuh hatinya, lalu menawarkan pemberian makanan atau pakaian kepadanya, tetapi Samuri selalu menolak. Menurut salah seorang pelanggannya, tak sesekali justeru Samuri yang bahkan memberi tambahan pisang kepada para pelanggan, diluar pisang yang dibelinya.

Dalam usia lanjutnya, Samuri mengajarkan kegigihan dan harga diri, nilai-nilai kehidupan yang telah terkikis tragis hari ini. Mari lihat sekeliling kita, betapa banyak orang-orang muda dengan tubuh sehat namun tak punya akal sehat. Betapa banyak generasi muda kita bermental peminta-minta. Mereka ada di jalan, di buskota, di pintu rumah kita, di kerumunan, di keramaian. Mereka terkadang membawa alat musik, atau hanya sekadar tepuk tangan, lalu menamai diri mereka sebagai pengamen. Terkadang mereka bermodal wajah sangar, tato di badan, tindik di daun telinga dan kata-kata mengancam. Mereka tak lebih terhormat dari peminta-minta yang menjual wajah memelasnya.

Samuri pernah muda. Ia dahulu berbadan kuat. Namun ia mencari nafkah dengan jalan terhormat. Ia tak sudi memeras orang. Ia tak mau menjual belas kasihan. Di masa tuanya, Samuri tetaplah orang dengan harga diri dan kehormatan. Ia mengais rezeki pada jalan yang terpuji. Sedikit atau banyak yang didapatkan, itu bukanlah ukuran. Rasa syukur yang selalu dirasakan membuat Samuri tak pernah merasa kekurangan.

Mari kita belajar kepada Samuri. Hidup harus dijalani secara terhormat dan penuh harga diri. Tuhan menyediakan berbagai pintu rezeki bagi hambaNya yang bersungguh-sungguh. Jangan menyerah, jangan berputus asa, jangan berpangku tangan. Jangan kita menutup sendiri pintu keberkahan yang sebenarnya Tuhan sediakan untuk kita. Hidup yang serba terbatas bukanlah alasan untuk tidak berbagi. Samuri hanya bisa memberi pisang-pisangnya, karena hanya itulah yang ia bisa berikan. Namun begitu Samuri mengajarkan satu nilai yang acapkali kita lupakan saat ini: tangan diatas lebih terhormat daripada tangan dibawah.

Iklan

32 pemikiran pada “Pernah Muda

  1. Inspiratif banget.
    usia bukan pantangan untuk tangan mengadah.
    tapi berusaha malah menjadi semangat untuk berusaha.
    bagi kita yang masih muda, harus bisa mentauladani beliau.

    Thanks buat tulisannya.

    Salam, Danu Akbar.

  2. Sekarang, sulit mencari sosok seperti beliau, tampil dengan segala kesederhaan dan kejujuran.

    Yang tumbuh dan berkembang saat ini justru bagaimana memanfaatkan kesempatan yang ada, bila perlu injak kepala tetangga 😦

  3. RASA-MALU…

    Satu hal yang sekarang ini menjadi sangat-sangat langka, tapi masih tetap dimiliki oleh Kakek Samuri…
    Semoga Gusti Ingkang Maha…tansah paring kanugrahan dan karahayon untuk beliau & klg

  4. Berjuang demi sebuah kebuthan dan harga diri tanpa mengenal batas usia. Dan hal ini dapat dijadikan contoh untuk generasi muda.

    Dengan mengatasi permasalahan yang kecil, maka; kita dapat mengatasi permasalahan yang besar.

    Salam

    Ejawantah’s Blog

  5. Salut buatmu pak tua, di usia senja masih juga aktif bekerja. Beda dengan yang hanya menengadahkan tangan tanpa mau bekerja, terutama kaum muda. Pak Samuri masih memiliki etos kerja tinggi…

  6. orang seperti pak samuri selalu membuatku teraduk2 perasaannya deh…iba, haru, salut, kagum, hormat,dll dan akhirnya..
    daku membeli walo tak butuh… hiks… rasanya kok cuma itu cara untuk menunjukkan empati…

  7. mumpung kita2 masih muda marilah berusaha agar hari tua tinggal menikmatinya………….janagn lupa kita tiru perjuangan bapak samuri dengan berusaha dijalan yg lurus dan terhormat

  8. assalamu ‘alaikum
    ya itu realita yang sedang dan telah lama terjadi di belahan Indonesia pada umunya, yang perlu diingat bagi kita kalangan menengah keatas adalah, mari berbagi dan berbagi. dan yang lebih penting dalah ….
    jadikanlah hidupMu sederhan, karena tidak mungkin bagi kita menganjurkan terhadap kaum papa untuk lebihh sederhana lagi bukan..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s