Pernah Muda

32

Desember 8, 2010 oleh sedjatee

Pagi tengah menanjak siang. Panasnya kota Semarang tak menghambat laju roda sepedanya. Ia terus menuntun sepeda butut yang dipenuhi bertandan-tandan pisang. Samuri, pria sepuh itu pantang surut ke belakang. Bertahun-tahun ia menjalani rutinitas itu di tengah panas, juga terkadang ketika hujan menghamburnya. Namun ia sadar, hanya dari jalan itulah ia merasa bisa menghidupi keluarganya. Tubuhnya kini ringkih, menyebabkan ia tak lagi sanggup menjadi tukang batu, profesi yang dijalaninya sebelum ia menggeluti sepeda dan tandan-tandan pisangnya.

“Usia saya 75 tahun. Yang saya ingat, saya menikah pada tahun ketika peristiwa Gestok terjadi” begitu ia menyebut tahun pernikahannya saat masa-masa revolusi. Ia bercerita tentang isterinya yang menderita depresi, tekanan batin akibat kesedihan berlarut-larut karena kematian anak wanitanya berikut calon cucunya ketika persalinan. Ia pun berkisah tentang anak lelakinya yang takut menikah. “Begitulah keluarga saya, jadilah saya satu-satunya harapan mencari nafkah bagi mereka” demikian Samuri.

“Saya tinggal di Penggaron Kidul. Dengan menuntun sepeda inilah saya berdagang pisang kemana-mana” demikian ia menjelaskan tempat tinggalnya yang berjarak belasan kilometer dari tempat berdirinya saat ini. Saban pagi Samuri menuju pasar Banget Ayu, dekat stasiun Alastuwo untuk berbelanja pisang. “Saya hanya punya modal 300 ribu, itu semua saya belanjakan pisang, sedapatnya. Lalu saya menjualnya keliling kampung. Terkadang bisa mendapat lebih 50ribu untuk dibawa pulang. Itulah nafkah untuk keluarga saya. Besoknya saya belanja lagi dengan yang 300ribu”. Berapapun Samuri selalu bersyukur, meski terkadang dagangannya baru habis saat maghrib, dan ia tiba dirumah menjelang malam.

Usia tua dan tenaga yang merapuh telah menyingkirkan Samuri dari profesi tukang batu yang ditekuni ketika muda dahulu. Namun di usia tua ini ia pantang menyerah. Dari pisang-pisang inilah Samuri menemukan rezekinya yang lain. Meski lusuh dan hidup pas-pasan, ia tak sedang mencari belas kasihan dari orang lain. Tak sedikit para pelanggan tersentuh hatinya, lalu menawarkan pemberian makanan atau pakaian kepadanya, tetapi Samuri selalu menolak. Menurut salah seorang pelanggannya, tak sesekali justeru Samuri yang bahkan memberi tambahan pisang kepada para pelanggan, diluar pisang yang dibelinya.

Dalam usia lanjutnya, Samuri mengajarkan kegigihan dan harga diri, nilai-nilai kehidupan yang telah terkikis tragis hari ini. Mari lihat sekeliling kita, betapa banyak orang-orang muda dengan tubuh sehat namun tak punya akal sehat. Betapa banyak generasi muda kita bermental peminta-minta. Mereka ada di jalan, di buskota, di pintu rumah kita, di kerumunan, di keramaian. Mereka terkadang membawa alat musik, atau hanya sekadar tepuk tangan, lalu menamai diri mereka sebagai pengamen. Terkadang mereka bermodal wajah sangar, tato di badan, tindik di daun telinga dan kata-kata mengancam. Mereka tak lebih terhormat dari peminta-minta yang menjual wajah memelasnya.

Samuri pernah muda. Ia dahulu berbadan kuat. Namun ia mencari nafkah dengan jalan terhormat. Ia tak sudi memeras orang. Ia tak mau menjual belas kasihan. Di masa tuanya, Samuri tetaplah orang dengan harga diri dan kehormatan. Ia mengais rezeki pada jalan yang terpuji. Sedikit atau banyak yang didapatkan, itu bukanlah ukuran. Rasa syukur yang selalu dirasakan membuat Samuri tak pernah merasa kekurangan.

Mari kita belajar kepada Samuri. Hidup harus dijalani secara terhormat dan penuh harga diri. Tuhan menyediakan berbagai pintu rezeki bagi hambaNya yang bersungguh-sungguh. Jangan menyerah, jangan berputus asa, jangan berpangku tangan. Jangan kita menutup sendiri pintu keberkahan yang sebenarnya Tuhan sediakan untuk kita. Hidup yang serba terbatas bukanlah alasan untuk tidak berbagi. Samuri hanya bisa memberi pisang-pisangnya, karena hanya itulah yang ia bisa berikan. Namun begitu Samuri mengajarkan satu nilai yang acapkali kita lupakan saat ini: tangan diatas lebih terhormat daripada tangan dibawah.

32 thoughts on “Pernah Muda

  1. […] Pernah Muda « Jejak Kehidupan Sejati […]

  2. lanthing mengatakan:

    stiker di spakbor motor itu membuat saya tercekat sejenak untuk kemudian tersenyum. tertulis dengan jelas di situ:
    ‘harga diri seorang lelaki adalah bekerja’

  3. Danu Akbar mengatakan:

    Inspiratif banget.
    usia bukan pantangan untuk tangan mengadah.
    tapi berusaha malah menjadi semangat untuk berusaha.
    bagi kita yang masih muda, harus bisa mentauladani beliau.

    Thanks buat tulisannya.

    Salam, Danu Akbar.

  4. Ade Truna mengatakan:

    sosok pejuang sejati ya seperi bapak Samuri…

  5. fitr4y mengatakan:

    smoga kita di jauhkan dari sifat pengemis …

    salam🙂

  6. Lozz akbar mengatakan:

    hem.. hampir aja mbrebes mili banyu motoku kang.

    Kira-kira para koruptor itu punya pikiran ora ya sama orang kecil macam Pak Samuri saat dia tilep duit rakyat?

  7. ratansolomj9 mengatakan:

    Seperti peribahasa dalam basa jawa, Mas Sedjatee …
    Sing sapa gelem obah, mesti mamah.
    Tolong jelaskan bagi sobat yang ingin tahu makna paribasan ini … he ..he ..

    Salam dari Solo

  8. alamendah mengatakan:

    Salut buat Kakek Samuri. Di usianya yang mulai tua tetap berusaha bekerja pantang menyerah.

  9. aldy mengatakan:

    Sekarang, sulit mencari sosok seperti beliau, tampil dengan segala kesederhaan dan kejujuran.

    Yang tumbuh dan berkembang saat ini justru bagaimana memanfaatkan kesempatan yang ada, bila perlu injak kepala tetangga😦

  10. popi mengatakan:

    semarang belah mana nih? saya kemarin ke semarang loh! (suami kan orang sana!) sapa tau kalo kesana ketemu bapak ini. hehe…

  11. M A Vip mengatakan:

    saya jadi malu, masih belum tua tapi sudah malas rasanya berpayah-payah. ampun…

  12. ummurizka mengatakan:

    Pernah beli pisangnya belum? jika beli jangan ditawar ya🙂

  13. safe our healthy mengatakan:

    saluut….semoga kakek samuri banyak rejeki…salam

  14. volver mengatakan:

    Nah gini dong yang aku demen, daripada orang minta minta aka pengemis ckck

  15. sikapsamin mengatakan:

    RASA-MALU…

    Satu hal yang sekarang ini menjadi sangat-sangat langka, tapi masih tetap dimiliki oleh Kakek Samuri…
    Semoga Gusti Ingkang Maha…tansah paring kanugrahan dan karahayon untuk beliau & klg

  16. Goyang Karawang mengatakan:

    pernah muda tapi belum tentu kita akan mengalami tua.. karena umur hanya Tuhan yang tahu..🙂

  17. joe mengatakan:

    memang memberi lebih baik dari pada menerima … setuju

  18. ysalma mengatakan:

    kuncinya rasa syukur yang selalu ada dalam diri pak samuri ya Pak,,

  19. choirul mengatakan:

    salut dengan pak samuri…. patut dicontoh

  20. Kakaakin mengatakan:

    Harga diri?
    Semoga banyak lelaki yang jauh lebih muda dan kuat dari Pak Samuri bisa memahami arti “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”

  21. Berjuang demi sebuah kebuthan dan harga diri tanpa mengenal batas usia. Dan hal ini dapat dijadikan contoh untuk generasi muda.

    Dengan mengatasi permasalahan yang kecil, maka; kita dapat mengatasi permasalahan yang besar.

    Salam

    Ejawantah’s Blog

  22. z4nx mengatakan:

    jiwa-jiwa seperti pak samuri, sangat menarik bila mulai di tanamkan di sekolahan

  23. Mufti AM mengatakan:

    Salut buatmu pak tua, di usia senja masih juga aktif bekerja. Beda dengan yang hanya menengadahkan tangan tanpa mau bekerja, terutama kaum muda. Pak Samuri masih memiliki etos kerja tinggi…

  24. dwiewulan mengatakan:

    orang seperti pak samuri selalu membuatku teraduk2 perasaannya deh…iba, haru, salut, kagum, hormat,dll dan akhirnya..
    daku membeli walo tak butuh… hiks… rasanya kok cuma itu cara untuk menunjukkan empati…

  25. MENONE mengatakan:

    mumpung kita2 masih muda marilah berusaha agar hari tua tinggal menikmatinya………….janagn lupa kita tiru perjuangan bapak samuri dengan berusaha dijalan yg lurus dan terhormat

  26. volver mengatakan:

    blogwaaaaaalking

  27. elmoudy mengatakan:

    sungguh berat hidup yang dijalani pak tua samuri itu… semoga ia selalu dikuatkan raganya…jiwanya…selalu diberi kesehatan hingga akhir hayatnya…🙂

  28. kang ian dot com mengatakan:

    masya alloh kasian banget jd inget sm bapa huhu

  29. choirunnagim mengatakan:

    assalamu ‘alaikum
    ya itu realita yang sedang dan telah lama terjadi di belahan Indonesia pada umunya, yang perlu diingat bagi kita kalangan menengah keatas adalah, mari berbagi dan berbagi. dan yang lebih penting dalah ….
    jadikanlah hidupMu sederhan, karena tidak mungkin bagi kita menganjurkan terhadap kaum papa untuk lebihh sederhana lagi bukan..?

  30. Asop mengatakan:

    Pernah muda…
    Lagunya BCL…😳

  31. @helgaindra mengatakan:

    saya paling suka ngebaca cerita yang beginian
    nyentuh banget ceritanya
    huhuhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: