Ibadah dan Harapan Perubahan

Kanjeng Nabi menunaikan haji wada, haji perpisahan, bersama kurang lebih seratus ribu jamaah. Mereka yang kebanyakan datang dari Madinah, berjalan kaki bersama Kanjeng Nabi yang pada momen itu menerima wahyu terakhirnya, diiringi ratusan ribu ekor domba yang akan disembelih dalam rangka qurban dan dam.

Fenomena seratus ribu jamaah haji pada masa Rasulullah telah menjadi ukuran bahwa setidaknya ada seratus ribu kaum muslim yang telah mencapai kesempurnaan beragama. Dan benar, saat itu juga kafir Quraiys langsung bertekuk lutut, dan tak lama kemudian menyusul Imperium Persia dan Rumawi yang takluk. Kesempurnaan beragama mereka zaman itu didasarkan pada pemahaman yang tepat tentang ibadah.

Demikian halnya dalam hal Qurban, yang dimulai oleh Ibrahim Khalilullah Alaihissalam. Makna harfiahnnya adalah mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan pesan terdalam dari prosesi Qurban Ibrahim adalah keikhlasan. Ibrahim dengan ikhlas memberikan harta terbaiknya yaitu Ismail, sebagai bukti kecintaannya kepada Allah melebihi segalanya. Wajar jika dalam alQuran yang kita baca setiap hari, Allah hanya dua kali memberikan titel Uswatun Hasanah yaitu kepada Ibrahim (al Hajj 34) dan Muhammad (al Ahzab 21).

Daging dan darah binatang Qurban itu, tidak akan mencapai Allah (al Hajj 37). Namun ketaqwaan kitalah yang sampai kepadaNya. Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah memaknakan ini dengan dua sisi yaitu kesanggupan dan keikhlasan. Terkadang, ada yang sanggup tetapi tidak ikhlas, sehingga binatang pincang atau kurapan disodorkan sebagai persembahan untuk Allah. Terkadang, ada yang berkeikhlasan tetapi tidak sanggup menunaikannya. Rasulullah sendiri pernah mempersembahkan Qurban seratus ekor unta, namun satu saat beliau hanya berQurban seekor sahaja.

Sepuluh Dzulhijjah yang baru lalu, empat belas abad setelah peristiwa haji wada, jutaan muslimin melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Rasulullah. Mereka menyerukan talbiyah seperti Rasulullah dan para sahabat yang mulia melakukannya empat abad lalu. Diantara mereka ada pelaku maksiat, koruptor, pemangkir zakat, pemakan riba dan entah siapa saja.

Jutaan muslim melakukan wukuf di Arafah, sama sebagaimana rasulullah melaksanakannya. Pelajarannya adalah replika kejadian padang Mahsyar, dimana semua manusia berkumpul dalam tanpa busana dan hanya menyebut AsmaNya. Mereka adalah orang-orang yang diberikan Allah kesanggupan, tetapi hati mereka datang dengan cita-cita yang berbeda. Perbedaan itu karena perbedaan kefahaman dalam ibadah. Sedangkan seruan haji bagi yang sanggup (Ali Imran 97) adalah kesanggupan dalam hal tubuh, harta dan kefahaman.

Kita prihatin. Kendati tiap tahun ada ratusan ribu tamu Allah datang dari negeri ini, belum ada perubahan signifikan terhadap kondisi masyarakat muslim di negeri ini. Mungkin karena kita bermuka dua dalam penghambaan kita kepada Allah. Cendekiawan Masdar F Mas’udi menyebut bahwa haji dan qurban, termasuk shalat dan puasa kita, sering kali dijalani hanya sebagai sebuah ritual belaka. Tak ada kesan sedikitpun, alih-alih berupa perubahan karakter. Ia bahkan mengindikasikan bahwa terkadang ibadah haji dan shalat acapkali dipakai sebagai kedok sosial, sebuah penyamaran identitas, sebuah penyembunyian watak.

Maka tak usah heran jika masih banyak ditemukan orang-orang yang rajin melaksanakan ritual agama, namun masih banyak melakukan kemaksiyatan. Mereka menjadi benalu masyarakat, mereka tak bisa memancarkan aura rahmat yang menjadi identitas insan beribadah. Boleh jadi itulah yang menyebabkan jauhnya rahmat Allah dari negeri yang kaya raya ini. Kita ingin nasib bangsa ini berubah, lalu kita melakukan taubat, namun di saat yang sama kita masih melakukan kefasikan. Kita jauh dari karakter

Ibadah yang kita lakukan adalah penghambaan kepada Sang Pencipta, demikian pula, kehidupan ini adalah penghambaan kita kepada Gusti Allah. Alangkah ironis jika dalam penghambaan ini kita masih menjadi orang yang arogan, mau menang sendiri, takabur dan otoriter. Idul Adha belum lama berlalu. Mari kita jadikan sebagai momentum perubahan kolektif bangsa kita. Kita berharap, spirit ibadah haji dan qurban dapat terjaga dalam hidup bermasyarakat. Bangsa ini berharap banyak pada mereka-mereka yang telah menjalani fase paripurna dalam berislam, pada mereka yang telah menunaikan haji, sebagai pionir perubahan bangsa ke arah yang lebih terpuji.

sumber gambar: cosmosq.ci

Iklan

47 pemikiran pada “Ibadah dan Harapan Perubahan

  1. Andai saja ibadah itu dilaksanakan benar-benar sesuai dengan tujuan awalnya, maka alangkah indahnya dunia ini. Cuma sayang, seringkali ibadah hanya kamuflase 😦

  2. masih banyak yg harus diperbaiki dlm pemahaman ttg ritual keagamaan dan aplikasinya dlm kehidupan dunia dan akhirat.

    ketika beragama dan ritualnya hanya dilakukan sebatas di bibir saja, maka jgn harap ada perubahan dlm tingkah laku maupun akhlak bagi manusia nya .

    agama adalah hati.
    jika hati msh kotor, maka agamapun gak akan tampak dr perbuatannya .
    salam

  3. saya prihatin dengan banyaknya jamaah haji yg pergi haji untuk “membeli” surga

    tetapi setelah tiba di tanah air mereka kembali berbuat dosa, sholat di masjid misalnya malas, padahal waktu di tanah suci rajin sholat di masjid

  4. A Fast Growing National English Language Consultant is hunting for :

    ENGLISH TUTORS!!!

    Qualifications:

    1. Competent, experienced, or fresh graduate
    2. Proficient in English both spoken & written
    3. Friendly, Communicative, & Creative

    Placement :
    Balikpapan – Makassar – Samarinda – Pekanbaru – Batam – Denpasar

    Send you resume to : easyspeak.hunting@gmail.com as soon as

    possible.
    Visit http://www.easyspeak.co.id for further information.

  5. Ibadah memang harus benar2 diniatkan semata-mata karena Allah SWT. Kalau tujuannya sudah menyimpang, maka kita hanya tinggal menuju kehancuran saja. Kuncinya adalah ikhlas dan menyerahkan semata-mata kepada Allah SWT.

  6. Terkadang kita (saya) salah mempersepsikan ibadah, sering kali ibadah terkotori niat yang lain (sengaja maupun tidak).
    Seperti ibadah haji, sebenarnya sekali saja sudah cukup, tapi terkadang (bagi yang punya uang) menunaikan ibadah haji lebih dari sekali, memang tidak ada larangan, toh seandanya biaya haji digunakan untuk ibadah yang lain juga bisa, dan secara tidak langsung berimbas pada mereka yang belum dan ingin melaksanakan ibadah karena keterbatasan kuota.
    Kemudian, yang sering jadi pertanyaan saya, kenapa setelah menunaikan ibadah haji hampir selalu di beri identitas H (Haji). Padahal Rasulullah sendiri tidak pernah memakai identitas H. Muhammad

    *)dari sudut pandang saya

  7. subhanallah, sudah demikian banyak jejak nabi yang bisa kita teladani. namun, ternyata perubahan itu belum datang juga. semoga berkah ibadah haji secara bertahap mampu menjadi warna dan dinamika perjalanan bangsa pada masa2 mendatang. salam sukses.

  8. berangkat haji tanpa hati dan niat yang suci..?!
    bagaimana setelah pulang nanti..?!

    berlagak menjadi ‘begawan atau resi’…
    namun mempunyai watak sengkuni…

    mahir mengolah ayat-ayat suci…
    dijadikan komoditi jual-beli…

    dikemas bagaikan kemasan ekstasi…

  9. haji mabrur adalah tujuannya…
    kalau hanya niat haji…tanpa berharap mabrur…ya sama saja kagak haji… yg penting mabrur…sehingga bisa mengubah kualitas diri menjadi lebih taqwa..gitu kale ya πŸ™‚

  10. Ibadah semestinya dilakukan atas dasar niat dan hati yang ikhlas karena Allah bukan karena ingin disanjung ataupun niat2 yang lainnya. Sebab hakekat tujuan ibadah yang sebenarnya hanyalah Allah…

  11. doa itu otaknya ibadah, mk kmbalikan niat pada awalnya saat mau ibadah.. Trmasuk haji, kaji kembali haji mabrur itu apa dan bgmn…hrs spt saat awal waktu ingin haji, atau tdk berdoa? *allohumma balighna makata warjukna hajjal mabrur…
    Slmt malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s