Ibadah dan Harapan Perubahan

47

Desember 21, 2010 oleh sedjatee

Kanjeng Nabi menunaikan haji wada, haji perpisahan, bersama kurang lebih seratus ribu jamaah. Mereka yang kebanyakan datang dari Madinah, berjalan kaki bersama Kanjeng Nabi yang pada momen itu menerima wahyu terakhirnya, diiringi ratusan ribu ekor domba yang akan disembelih dalam rangka qurban dan dam.

Fenomena seratus ribu jamaah haji pada masa Rasulullah telah menjadi ukuran bahwa setidaknya ada seratus ribu kaum muslim yang telah mencapai kesempurnaan beragama. Dan benar, saat itu juga kafir Quraiys langsung bertekuk lutut, dan tak lama kemudian menyusul Imperium Persia dan Rumawi yang takluk. Kesempurnaan beragama mereka zaman itu didasarkan pada pemahaman yang tepat tentang ibadah.

Demikian halnya dalam hal Qurban, yang dimulai oleh Ibrahim Khalilullah Alaihissalam. Makna harfiahnnya adalah mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan pesan terdalam dari prosesi Qurban Ibrahim adalah keikhlasan. Ibrahim dengan ikhlas memberikan harta terbaiknya yaitu Ismail, sebagai bukti kecintaannya kepada Allah melebihi segalanya. Wajar jika dalam alQuran yang kita baca setiap hari, Allah hanya dua kali memberikan titel Uswatun Hasanah yaitu kepada Ibrahim (al Hajj 34) dan Muhammad (al Ahzab 21).

Daging dan darah binatang Qurban itu, tidak akan mencapai Allah (al Hajj 37). Namun ketaqwaan kitalah yang sampai kepadaNya. Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah memaknakan ini dengan dua sisi yaitu kesanggupan dan keikhlasan. Terkadang, ada yang sanggup tetapi tidak ikhlas, sehingga binatang pincang atau kurapan disodorkan sebagai persembahan untuk Allah. Terkadang, ada yang berkeikhlasan tetapi tidak sanggup menunaikannya. Rasulullah sendiri pernah mempersembahkan Qurban seratus ekor unta, namun satu saat beliau hanya berQurban seekor sahaja.

Sepuluh Dzulhijjah yang baru lalu, empat belas abad setelah peristiwa haji wada, jutaan muslimin melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Rasulullah. Mereka menyerukan talbiyah seperti Rasulullah dan para sahabat yang mulia melakukannya empat abad lalu. Diantara mereka ada pelaku maksiat, koruptor, pemangkir zakat, pemakan riba dan entah siapa saja.

Jutaan muslim melakukan wukuf di Arafah, sama sebagaimana rasulullah melaksanakannya. Pelajarannya adalah replika kejadian padang Mahsyar, dimana semua manusia berkumpul dalam tanpa busana dan hanya menyebut AsmaNya. Mereka adalah orang-orang yang diberikan Allah kesanggupan, tetapi hati mereka datang dengan cita-cita yang berbeda. Perbedaan itu karena perbedaan kefahaman dalam ibadah. Sedangkan seruan haji bagi yang sanggup (Ali Imran 97) adalah kesanggupan dalam hal tubuh, harta dan kefahaman.

Kita prihatin. Kendati tiap tahun ada ratusan ribu tamu Allah datang dari negeri ini, belum ada perubahan signifikan terhadap kondisi masyarakat muslim di negeri ini. Mungkin karena kita bermuka dua dalam penghambaan kita kepada Allah. Cendekiawan Masdar F Mas’udi menyebut bahwa haji dan qurban, termasuk shalat dan puasa kita, sering kali dijalani hanya sebagai sebuah ritual belaka. Tak ada kesan sedikitpun, alih-alih berupa perubahan karakter. Ia bahkan mengindikasikan bahwa terkadang ibadah haji dan shalat acapkali dipakai sebagai kedok sosial, sebuah penyamaran identitas, sebuah penyembunyian watak.

Maka tak usah heran jika masih banyak ditemukan orang-orang yang rajin melaksanakan ritual agama, namun masih banyak melakukan kemaksiyatan. Mereka menjadi benalu masyarakat, mereka tak bisa memancarkan aura rahmat yang menjadi identitas insan beribadah. Boleh jadi itulah yang menyebabkan jauhnya rahmat Allah dari negeri yang kaya raya ini. Kita ingin nasib bangsa ini berubah, lalu kita melakukan taubat, namun di saat yang sama kita masih melakukan kefasikan. Kita jauh dari karakter

Ibadah yang kita lakukan adalah penghambaan kepada Sang Pencipta, demikian pula, kehidupan ini adalah penghambaan kita kepada Gusti Allah. Alangkah ironis jika dalam penghambaan ini kita masih menjadi orang yang arogan, mau menang sendiri, takabur dan otoriter. Idul Adha belum lama berlalu. Mari kita jadikan sebagai momentum perubahan kolektif bangsa kita. Kita berharap, spirit ibadah haji dan qurban dapat terjaga dalam hidup bermasyarakat. Bangsa ini berharap banyak pada mereka-mereka yang telah menjalani fase paripurna dalam berislam, pada mereka yang telah menunaikan haji, sebagai pionir perubahan bangsa ke arah yang lebih terpuji.

sumber gambar: cosmosq.ci

47 thoughts on “Ibadah dan Harapan Perubahan

  1. ysalma mengatakan:

    betul sekali Pak,, kalau semuanya sesuai dengan tujuan ibadah tersebut,, takkan ada kemiskinan di negeri makmur ini😦

  2. aldy mengatakan:

    Andai saja ibadah itu dilaksanakan benar-benar sesuai dengan tujuan awalnya, maka alangkah indahnya dunia ini. Cuma sayang, seringkali ibadah hanya kamuflase😦

  3. andinoeg mengatakan:

    semoga kita termasuk orang-orang yang menjalankan ibadah dengan baik dan benar

  4. ummurizka mengatakan:

    apabila ibadah kita jalani dengan niat yang lurus,penuh keikhlasan dan hanya ALlah yang menjadi tujuan, Insya Allah perubahan menuju kebaikan akan selalu terwujud.

  5. didta7 mengatakan:

    semoga saya bisa menjadi hamba Allah yang benar2 bertaqwa

  6. choirunnagim mengatakan:

    assalamu ‘alaikum
    ibda’ binafsih..
    kalo bukan kita siapa lagi…?

  7. ratansolomj9 mengatakan:

    Harapan Mas Sedjatee adalah harapan kita semua.

    Salam dari Solo

  8. julicavero mengatakan:

    ibadah dijalankanlah dengan benar..sehingga efeknya ada bagi kita

  9. aciid mengatakan:

    yg pnting semuana berasal dri hati dan niat untuk mendekatkan dri kepad-NYA

  10. aciid mengatakan:

    yg pnting semuana berasal dri hati dan niat untuk mendekatkan dri kepad-NYA..

  11. fitr4y mengatakan:

    semoga yg di harapkan mampu menjadi teladan kita pak ..

  12. bundadontworry mengatakan:

    masih banyak yg harus diperbaiki dlm pemahaman ttg ritual keagamaan dan aplikasinya dlm kehidupan dunia dan akhirat.

    ketika beragama dan ritualnya hanya dilakukan sebatas di bibir saja, maka jgn harap ada perubahan dlm tingkah laku maupun akhlak bagi manusia nya .

    agama adalah hati.
    jika hati msh kotor, maka agamapun gak akan tampak dr perbuatannya .
    salam

  13. iam mengatakan:

    Tapi sayangnya masih banyak manusia yang lalai dalam beribadah. Maka nggak heran jika negara kita seperti ini >,<

  14. r10 mengatakan:

    saya prihatin dengan banyaknya jamaah haji yg pergi haji untuk “membeli” surga

    tetapi setelah tiba di tanah air mereka kembali berbuat dosa, sholat di masjid misalnya malas, padahal waktu di tanah suci rajin sholat di masjid

  15. Easy Speak mengatakan:

    A Fast Growing National English Language Consultant is hunting for :

    ENGLISH TUTORS!!!

    Qualifications:

    1. Competent, experienced, or fresh graduate
    2. Proficient in English both spoken & written
    3. Friendly, Communicative, & Creative

    Placement :
    Balikpapan – Makassar – Samarinda – Pekanbaru – Batam – Denpasar

    Send you resume to : easyspeak.hunting@gmail.com as soon as

    possible.
    Visit http://www.easyspeak.co.id for further information.

  16. TUKANG CoLoNG mengatakan:

    sayang banget ada yg meninggal pas menunaikan haji ya..

    • atmokanjeng mengatakan:

      kalaupun ada yang meninggal sewaktu menjalankan ibadah..subhanallah, itu merupakan anugrah tersendiri..
      kehidupan ini bukanlah tujuan dari ibadah..
      tapi adalah jannah, atau surga..

  17. fitrimelinda mengatakan:

    naik haji skg kaya suatu hal yg biasa aja skg mbak..ga keliatan hasilnya setelah pulang haji..

  18. choirul mengatakan:

    semoga kita semua bisa memaknai secara benar ibadah yang sudah kita lakukan

  19. TuSuda mengatakan:

    harapannya semoga semua tuntunan ibadah itu bisa dijalankan dengan baik dan tulus…
    salam…

  20. achoey el haris mengatakan:

    Ya, semoga Haji mampu berkontribusi pada perbaikan negeri ini.
    Amin.🙂

  21. lyna riyanto mengatakan:

    benar sekali mas sedjati
    Kadang saya berpikir,apa harus menunggu bala bencana yg lebih besar lagi, agar mereka menyadari kesalahan dan kekeliruan mereka selama ini.

  22. Goyang Karawang mengatakan:

    kadang kala ada sifat pengen dilihat manusia ketika beribadah, mungkin manusiawi..

  23. uni mengatakan:

    berharap hidup ini hanya UntukNYA saja🙂

  24. jumialely mengatakan:

    mampir mengucapkan selamat hari ibu untuk semua ibu dan calon ibu di keluarga sahabat

  25. Asop mengatakan:

    Kalo beridabah, harus berjamaah.😀

  26. Ifan Jayadi mengatakan:

    Ibadah memang harus benar2 diniatkan semata-mata karena Allah SWT. Kalau tujuannya sudah menyimpang, maka kita hanya tinggal menuju kehancuran saja. Kuncinya adalah ikhlas dan menyerahkan semata-mata kepada Allah SWT.

  27. ber-TanyaJawab mengatakan:

    Makasih nih ceritanya, menjejaki kehidupan karya anda ini. Terima Kasih sobat..

  28. Rama mengatakan:

    Ritual belaka??
    waduh… saya jadi kepikiran diri saya sendiri,
    malu rasanya sudah shalat bertahun-tahun masih
    kayak gini

  29. Sukadi mengatakan:

    Terkadang kita (saya) salah mempersepsikan ibadah, sering kali ibadah terkotori niat yang lain (sengaja maupun tidak).
    Seperti ibadah haji, sebenarnya sekali saja sudah cukup, tapi terkadang (bagi yang punya uang) menunaikan ibadah haji lebih dari sekali, memang tidak ada larangan, toh seandanya biaya haji digunakan untuk ibadah yang lain juga bisa, dan secara tidak langsung berimbas pada mereka yang belum dan ingin melaksanakan ibadah karena keterbatasan kuota.
    Kemudian, yang sering jadi pertanyaan saya, kenapa setelah menunaikan ibadah haji hampir selalu di beri identitas H (Haji). Padahal Rasulullah sendiri tidak pernah memakai identitas H. Muhammad

    *)dari sudut pandang saya

  30. info[dot]com mengatakan:

    pergi haji artinya menuju Allah yang esa, membawa hati dan diri yang hina….

  31. sawali tuhusetya mengatakan:

    subhanallah, sudah demikian banyak jejak nabi yang bisa kita teladani. namun, ternyata perubahan itu belum datang juga. semoga berkah ibadah haji secara bertahap mampu menjadi warna dan dinamika perjalanan bangsa pada masa2 mendatang. salam sukses.

  32. @helgaindra mengatakan:

    mungkin ibadah yang udah kita lakukan slama ini perlu diikuti dengan perubahan sikap untuk menjauh dari kemaksiatan yang juga udah kita lakukan selama ini🙂

  33. sikapsamin mengatakan:

    berangkat haji tanpa hati dan niat yang suci..?!
    bagaimana setelah pulang nanti..?!

    berlagak menjadi ‘begawan atau resi’…
    namun mempunyai watak sengkuni…

    mahir mengolah ayat-ayat suci…
    dijadikan komoditi jual-beli…

    dikemas bagaikan kemasan ekstasi…

  34. Dangstars mengatakan:

    Saya salut Mas dengan isi artikel disini..terimakasih atas semuanya ..

  35. Dangstars mengatakan:

    Waduh kena spam Mas…

  36. Bali Property mengatakan:

    Semoga kita termasuk orang-orang yang bertakwa ya.
    dan semoga kita nanti juga bisa menjalankan ibadah Haji. seperti yang telah dilakukan rosulullah.
    Bali Villas Bali Villa

  37. elmoudy mengatakan:

    haji mabrur adalah tujuannya…
    kalau hanya niat haji…tanpa berharap mabrur…ya sama saja kagak haji… yg penting mabrur…sehingga bisa mengubah kualitas diri menjadi lebih taqwa..gitu kale ya🙂

  38. Vacuum mengatakan:

    Sesungguhnya shalatku aktivitas hidupku hanya untuk Allah

  39. choirunnangim mengatakan:

    assalamu ‘alaikum
    saya dapet cerita Haji.. ternyata butuh toeransi yang sangattinggi ketika saat melaksanakannya

  40. MENONE mengatakan:

    yupz bnr bgt orang berangkat haji niat-nya emag beda2, ada yg murni pingin cari pahala namun ta jarang juga yg pingin cm nyari titel sebagai haji……..

  41. […] setelah kemaren dapat award pertama, berturut-turut Ummu Rizka yang merupakan istri dari Om Sedjati , atasan saya di kantor dan Mbak Fitray juga bagi-bagi award! Jadinya sampai saat ini saya punya 3 […]

  42. z4nx mengatakan:

    Kegiatan yang harusnya jadi ibadah, seakan cuma ritual aja, saya setuju dengan ini, sepertinya emang banyak terjadi di sekitar kita

  43. volver mengatakan:

    berarti ada yang salah dong , terhadap tujuan sebenernya ke tanah suci?

  44. HALAMAN PUTIH mengatakan:

    Ibadah semestinya dilakukan atas dasar niat dan hati yang ikhlas karena Allah bukan karena ingin disanjung ataupun niat2 yang lainnya. Sebab hakekat tujuan ibadah yang sebenarnya hanyalah Allah…

  45. adetruna mengatakan:

    doa itu otaknya ibadah, mk kmbalikan niat pada awalnya saat mau ibadah.. Trmasuk haji, kaji kembali haji mabrur itu apa dan bgmn…hrs spt saat awal waktu ingin haji, atau tdk berdoa? *allohumma balighna makata warjukna hajjal mabrur…
    Slmt malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: