Dhadhung Kepuntir

Ini adalah salah satu lakon legendaris Dagelan Mataram kreasi sang maestro, Basiyo the Jokefather, yang paling berkesan bagi saya. Di masa lalu saya berulang-ulang mendengarkannya tanpa bosan melalui pita kaset yang diputar di tape recorder. Sekarang dengan sedikit melek teknologi, saya bisa mengulangnya sambil bekerja di depan komputer dalam MP3 player. Seperti biasa, tema lawakan ini adalah seputar kehidupan perdesaan, yang kali ini berkaitan dengan tradisi kawin-mawin di tengah masyarakat. Tak sekadar berkelakar, kisah Dhadhung Kepuntir menyindir watak kikir, egois dan materialis yang mulai menggejala di tengah masyarakat ketika itu.

Kisah ini diawali dengan gerutu seorang pemuda tentang ayahnya yang kikir dan egois. Pemuda itu menilai sang ayah sebagai otoriter, terutama ia beranggapan sang ayah menghalangi niatnya untuk menikah. Pemuda yang merasa cukup umur ini beropini bahwa ayahnya, yang berstatus duda setelah berpulangnya sang ibu, masih punya hasrat untuk berpendamping lagi. Dengan kata lain, kendati memiliki anak lelaki yang telah cukup umur, si ayah tidak memikirkan masa depan anaknya dan menumpuk harta untuk kesenangan sendiri. Mendengar niatan anaknya bermaksud menikah, sang ayah bukannya memfasilitasi ataupun mendukung anaknya, niatan itu justru memacu hasratnya untuk kembali menikah. Adegan bapak dan anak itu diakhiri dengan pengusiran sang anak dari rumah orang tuanya setelah didahului dengan serangkaian adu mulut yang memancing gelak tawa.

Sepeninggal sang anak, duda lanjut usia itu kedatangan seorang gadis yang mengaku mencari pekerjaan. Gayung bersambut, pria yang tengah kesepian itu pun segera melancarkan rayuan gombal khas perdesaan dengan jurus-jurus spontanitas khas dagelan mataram yang kocak, segar dan inspiratif. Singkat cerita, rayuan maut itu menuai sukses ketika si gadis menyatakan bersedia disunting pria tua bangka itu, dengan syarat ia akan meminta izin terlebih dahulu kepada orang tuanya. Maka pulanglah gadis itu diiringi pria tua yang hendak menjadi suaminya.

Pada adegan lain, pemuda yang diusir ayahnya kini terdampar pada pengembaraannya di sebuah rumah yang dihuni seorang janda paruh baya. Janda tua kesepian itu ditinggal pergi oleh anak gadis yang disebutnya ’susah diatur dan mau menang sendiri’. Menyikapi kedatangan seorang pemuda yang cukup umur dan berstatus jomblo, janda tua itu girang bukan kepalang. Pemuda yang sedianya hanya ingin menumpang duduk dan meminta setetes air itu ditawari sebuah pilihan: menjadi suami janda makmur yang kesepian. Maka jawabnya pun mudah ditebak, sang pemuda bersedia menjadi suami janda tua itu.

Perjalanan bocah gadis dan duda tua itu kini sampai dirumah. Sang ibu menyambut sekaligus berkenalan dengan calon menantunya. Adegan pertemuan yang jenaka dan mengaduk-aduk urat tawa kita itu semakin seru ketika pada saat yang sama ibu si gadis juga bermaksud memperkenalkan calon suami baru kepada anak gadisnya. Siapa lagi kalau bukan pemuda anak duda tua calon suami si gadis. Dunia serasa terbalik-balik. Duda tua yang diperankan Basiyo menyebutnya sebagai ’dadunge kepuntir-puntir’ alias tali yang terbelit-belit.

Dagelan lucu ini tak sekadar hiburan untuk menguras tawa kita. Kisah Dadung Kepuntir adalah sebuah piwulang (pelajaran) dan piweling (nasehat). Dadung Kepuntir menelanjangi karakter egois, kikir dan hedonis yang muncul di masyarakat. Tokoh janda dan duda adalah watak picik, tak mau mengalah dan berfikir pendek. Karakter otoriter itu akhirnya terkoreksi sendiri pada kala pertemuan antara kedua anak dan orangtua. Si janda dan duda akhirnya menyadari bahwa sebenarnya yang lebih layak untuk melangsungkan pernihakan adalah anak-anak mereka. Para orang tua itu malu dan bersepakat berbesan alias menikahkan anak-anak mereka. Kisah sederhana ini sepertinya tak masuk akal, namun menyisipkan sebuah pesan bagi kita untuk berempati, berfikir jauh ke depan dan mengikis egoisme. Sebuah pesan yang sangat bermanfaat untuk siapapun.

sumber gambar: thetopsecret.wordpress.com dan facebook.com

Iklan

37 pemikiran pada “Dhadhung Kepuntir

  1. Kalo di Jawa Timur, dagelan ini sepertinya mirip dengan dagelannya Kartolo CS khas Suroboyoan ya mas Sedjatee sebab aku yo seneng juga dengerin dagelan-dagelannya kartolo cs meskipun aku sebenarnya bukan orang Jawa he he he

    1. bener banget mas Aldy
      dagelan Basiyo memakai bahasa jawa sebagai lingua franca. jadinya terkesan jadul banget. padahal temanya selalu relevan, bahkan hingga di zaman kini.. salam sukses..

      sedj

    1. buat mas sawali,
      tepat sekali, beliau adalah komedian kultural yang cerdas dan berwatak. dagelannya tak sekadar banyolan, namun penuh dengan pesan moral. jika mas sawali kangen menikmati dagelan Basiyo, terdapat banyak taut untuk mengunduhnya. monggo cari di internet, hehehe… matur nuwun dan salam sukses..

      sedj

  2. banyak hal yang bisa diambil dari cerita yang kadang hanya kita anggap sebagai lelucon.

    *saya jadi penasaran, mau tanya mbah google mp3 cerita ini.. 🙂
    terimakasih

  3. wkwkwkwkwwkwk……… klo menone nich tiap mlm dengerin radio yg tiap jam 11 sll memutar dagelan kartolo cs…….lumayan bisa bikin ketawa plus temen menjelang tdr……

  4. Wah, nostalgia banget ya bisa mendengarkan kembali dagelan ini melalui MP3 yang awalnya hanya bisa didengarkan melalui kaset. Saya pribadi belum pernah mendengarkan dagelan dari pelawak ini. Saya itu rasanya cuma pernah ngederin lawakan kaset dari srimulat saja di masa lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s