Revolusi dan Wayang Lebay

53

Februari 9, 2011 oleh sedjatee

Beberapa hari terakhir suguhan berita dunia wayang dipenuhi kisah seputar revolusi yang sedang terjadi di Astina. Rakyat Astina, sebagaimana pewarta dunia mengabarkan, menggelar revolusi untuk menggulingkan rezim Duryudana, penguasa yang telah 30 tahun berkuasa di negeri para Firaun itu. Menurut kabar burung, Duryudana bersikap represif kepada para demonstran, salah satunya dengan mendatangkan tentara wayang dari negeri Plasajenar untuk menghadapi pengunjukrasa tersebut.

Kabar bergejolaknya situasi di Astina terdengar hingga negeri Mandraka yang aman dan damai. Menyikapi revolusi di Astina, Burisrawa yang menjabat Wakil Ketua Dewan Perwakilan Wayang dengan gagah berani mengatakan bahwa kader partainya bahu-membahu berpartisipasi dalam revolusi menggulingkan rezim Duryudana di Astina. Dengan bangga dia menyebut bahwa ia punya 6000 kader yang bermukim di Astina aktif membantu revolusi disana. Padahal pada pemilu lalu partainya, Partai Kezaliman Sengsara, hanya mendulang 1500 suara. Buntutnya ia mengoreksi bahwa kadernya di Astina hanya berjumlah 600an saja. Lebay.

Media wayang pun sepertinya menyukai ocehan para politisi lebay. Dengan segera celoteh Burisrawa tersiar kemana-mana, termasuk ke Astina yang sedang bergolak. Mendengar kabar itu, antek-antek Duryudana terkejut bukan kepalang, tak menyangka bahwa negeri Mandraka menyokong pergolakan di negeri Astina. Sebagai reaksi, dikabarkan bahwa tentara Duryudana merazia warga Mandraka yang masih di Astina. Tak sedikit yang disakiti, atau setidaknya terhambat proses evakuasi untuk pulang ke Mandraka.

Banyak pihak menyayangkan klaim mulut Burisrawa tentang kadernya yang membantu revolusi di Astina. Salah satu warga negara Mandraka yang bermukim di Astina menyebut klaim itu sebagai bualan semata. Menurutnya, evakuasi warga Mandraka untuk pulang dari Astina lebih banyak dibantu oleh mahasiswa, bukan oleh kader Partai Kezaliman Sengsara seperti bualan Burisrawa. Lebih mengenaskan adalah nasib mahasiswa Mandraka yang sedang kuliah di Astina. Pernyataan Burisrawa memicu penangkapan mahasiswa Mandraka. Secara tegas perwakilan mahasiswa mengecam pernyataan ngawur itu karena berpotensi membunuh para mahasiswa yang tak bersangkut-paut apapun dengan revolusi di Astina.

“Politisi memang lebay” demikian pendapat Prof. Mbilung Sarawita, pakar komunikasi Universitas Wayang. Mbilung tak habis pikir dengan watak politisi belakangan ini. Tega-teganya mereka membuat pendapat ngawur. “Apa untungnya dia membuat klaim seperti itu, bukankah itu berresiko tidak hanya pada nasib warga negara Mandraka di Astina, tetapi juga nasib hubungan kedua negara. Astina akan menuduh negara kita berada di belakang aksi makar itu. Citra negara kita yang netral dan cinta perdamaian akan ternoda oleh pendapat itu.”

Senada dengan pendapat Mbilung, menurut Prof. Togog Tejamantri, para politisi dari sekte manapun punya kecenderungan untuk menjadi pendusta. Menurut guru bangsa wayang ini, rakyat wayang sudah terlalu sering dibohongi oleh politisi, baik yang duduk di eksekutif maupun yang masih berkutat di legislatif. ”Politisi terobsesi dengan pencitraan, sehingga mereka gampang mengucapkan kata-kata manis atau klaim atas prestasi tertentu. Ketika politisi tidak dapat membuktikan kata-kata mereka, dengan mudah para politisi menyalahkan media massa yang dituduh memelintir perkataan mereka.”

Mungkin benar pendapat kuno yang sering kita dengar bahwa dalam politik yang ada adalah kepentingan abadi. Hasrat berkuasa ini membuat politisi akan berbuat apapun, kalau perlu berdusta. Demokrasi yang mendasarkan kekuasaan pada suara terbanyak, menuntut politisi untuk pintar membual, meski ia mencitrakan diri sebagai kelompok relijius sekalipun. Kebiasaan berjanji kemudian tidak ditepati, kebiasaan pencitraan meski tak didukung fakta, telah menjadikan para politisi lebay menjadi tak beda dengan tabiat makelar karcis, suka mencari keuntungan ditengah kepanikan orang lain.

sumber gambar : picasaweb.google.com

53 thoughts on “Revolusi dan Wayang Lebay

  1. Vulkanis mengatakan:

    Mantap ulasannya Mas.. 😀

  2. sedjatee mengatakan:

    iya Kang
    orang lebay memang menarik untuk diulas
    salam sukses

    sedj

  3. marsudiyanto mengatakan:

    Selalu ikut menyimak kalau ngomongin wayang

  4. fizer0 mengatakan:

    politik memang penuh intrik..:D

    salam kenal…

  5. setiaonebudhi mengatakan:

    hahahah,
    keren postingannya,
    kalo ada wayang lebay, pasti temennya fitri tropika..😀

  6. dedekusn mengatakan:

    Wayang di era sekarang emang pada lebay ya mas…, dari atas sampai bawah… banyak yg lebayyyy…😀

  7. ysalma mengatakan:

    politik kalo lurus2 aja katanya bukan politik,,
    kalo diwayang ada dalangnya, dipolitik juga ada berarti yaa..

  8. monda mengatakan:

    apik pak, banyak tokoh lebay asal nyablak memang ya

  9. joe mengatakan:

    dalam politik memang tak ada yang abadi melainkan kepentingan, maka tak heran kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi kawan

  10. The dark anco mengatakan:

    Wuih keren mas.,satuju lah mas…
    Politik memang tempat kumpulnya bajingan tengik

  11. BERAU SI JUMBO mengatakan:

    Lebay nggak ya yang posting ini hehehe
    kidding sob😆

  12. Ade Truna mengatakan:

    togog profesor, ya…ngerti sekarang mah….😆

  13. Majalah Masjid Kita mengatakan:

    jika segala macam permasalahan di dunia ini sudah terkena efek politisasi, maka kita harus bersiap untuk menderita… saya suka istilah mas nya.. wayang lebay :p

  14. sawali tuhusetya mengatakan:

    ternyata watak2 burisrawa sesungguhnya berseliweran di sekitar kita juga, mas sedj. dunia pewayangan secara simbolik terlah memberikan gambaran sedemikian jelas. sayang sekali, politisi kita sering “alergi” menonton pakeliran wayang.

  15. Ifan Jayadi mengatakan:

    Benar banget. Negara lain yang bergejolak tapi negara kita hebohnya minta ampun menanggapi hal itu. Lebih baik mengurus hal2 yang lebih penting seperti peningkatan kesejahteraan rakyat atau pengungkapan kasus korupsi yg belum juga beres

  16. Adi mengatakan:

    Huwah saya ndak paham apa itu politik dan sejenisnya, tapi nice post, salam..

  17. wardoyo mengatakan:

    Analogi, simbolisasi atau apapun namanya, yang jelas para tokoh wayang memang benar-benar “bayang”an citra manusia Indonesia…
    Hebat.

  18. goenawanb mengatakan:

    keren mas artikelnya….
    mengambil filosofi jawa yg penuh dengan keanekaragaman cerita…..

    salam sukses…

    goen

  19. Kelabang's Blog mengatakan:

    Baru nyari popularitas aja udah main bohong, apalagi pas nyari jabatan, pasti banyak bohongnya, baik pemilu yang dulu maupun pemilu yang akan datang. Emang payah kalau udah jadi polyTIKUS.

  20. julianusginting mengatakan:

    ternyata di dunia perwayanganpun ada revolusi ya mas..

  21. M A Vip mengatakan:

    peristiwa yang ternyata mirip dengan yang terjadi di negri saya. sejarah memang hanya berputar putar, ketemu itu lagi ketemu itu lagi.

  22. sikapsamin mengatakan:

    Waahhh…mangstab tenan…

    Ini namanya…
    DAGELAN FILOSOFIS atau
    FILOSOFI DAGELAN…
    Didalamnya ada
    FILOSOFI PLESETAN & PLESETAN FILOSOFIS…

    Tapi…
    Bagi ZOMBIE…apa bisa memaknai ya?!?

  23. wits mengatakan:

    cerita wayang yang sarat pesan tersirat..

  24. advertiyha mengatakan:

    ”Politisi terobsesi dengan pencitraan, sehingga mereka gampang mengucapkan kata-kata manis atau klaim atas prestasi tertentu. Ketika politisi tidak dapat membuktikan kata-kata mereka, dengan mudah para politisi menyalahkan media massa yang dituduh memelintir perkataan mereka.”

    sangat setuju dengan ini mas…🙂

    miris..😦

  25. mamah Aline mengatakan:

    analogi yang pas untuk sebuah negeri yang penuh intrik politik ya… para politisi dan petinggi pada saat seperti itu kalo gak jadi pendusta ya jadi bermuka dua

    • sedjatee mengatakan:

      setuju Mah…
      telah terbukti jelas
      orang yang ngaku paling alim pun menjadi culas
      dengan berpolitik, ambisi menjadi prioritas
      tak peduli harus melawan etika
      hehehe…

  26. david mengatakan:

    politik identik dengan rebutan kekuasaaan, saling manjatuhkan, saling berprasangka buruk (walaupn sbnrnya memang tdk bisa disangkat baik, he2…

  27. Goyang Karawang mengatakan:

    dalam pulitik ga da teman sejati.. yg ada adalah kepentingan sejati.. betul mas?🙂

  28. gaya hidup mengatakan:

    di pagelaran wayang kan selalu ada dalangnya .
    apakah gitu juga ya kalau di pagelaran politik ?😛
    salam

  29. Berpegang pada ingat dan waspada jangan biarkan lobang lengah dalam jiwa, ikuti segala nasehat yang berguna untuk selalu mencari pengetahuan dengan berdasar bukti dan kenyataan, agar kita tidak menjadi wayang yang lebay mudah dipermainkan.

    Dengan mengatasi permaslahan yang kecil; maka, negeri ini akan dapat mengatasi permasalahan yang besar.

    Salam

    “Ejawantah’s Blog”

  30. Miftahgeek mengatakan:

    Ahaha, kalo untuk jadi politisi cukup dengan lebay, saya mau ah daptar jadi politisi😀

  31. wi3nd mengatakan:

    iyah bener banged,dalam politk yang ada hanya hasrat untuk berkuasa dan sebanyak mungkin mengeruk keuntungan pribadi,lain tidak

    miris!

  32. iam mengatakan:

    Bener banget. Politikus saat ini hanya untuk kepentingan pribadi >.<

  33. TuSuda mengatakan:

    seru juga ceritanya ya, kalau di dunia wayang sudah ada masalah politik sejak dahulu kala…

  34. archer mengatakan:

    para politisi memang lebay, kita udah bosen deh dengernya, mending ntar gak usah ikut pemilu, mumet hehe.. uraian kisah di atas enak banget disimak🙂

  35. Kakaakin mengatakan:

    Wah.. kasihan banget yang terhambat proses evakuasinya… Gara2 mulut yang lebay😦

  36. ¤ HILAL ALIFI mengatakan:

    susah ngapalin nama-nama di pewayangan itu, kang. Apalagi wayang yang politisi… :p

  37. hudaesce mengatakan:

    Beberapa tahun ni saya malah udah gak pernah lagi nonton wayang😦

  38. Sriyono Semarang mengatakan:

    weladalah kok ceritane dadi wayang to, wayang uwong tapi yo…🙂

  39. mario mengatakan:

    ekekeke, ngakak2 baca tulisannya, memang politik kadang lebay tp kita butuh….manteb pa’e

  40. Lauren Lamberty mengatakan:

    My spouse and i obviously must think far more in that course and see a few things i can do over it.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: