Revolusi dan Wayang Lebay

Beberapa hari terakhir suguhan berita dunia wayang dipenuhi kisah seputar revolusi yang sedang terjadi di Astina. Rakyat Astina, sebagaimana pewarta dunia mengabarkan, menggelar revolusi untuk menggulingkan rezim Duryudana, penguasa yang telah 30 tahun berkuasa di negeri para Firaun itu. Menurut kabar burung, Duryudana bersikap represif kepada para demonstran, salah satunya dengan mendatangkan tentara wayang dari negeri Plasajenar untuk menghadapi pengunjukrasa tersebut.

Kabar bergejolaknya situasi di Astina terdengar hingga negeri Mandraka yang aman dan damai. Menyikapi revolusi di Astina, Burisrawa yang menjabat Wakil Ketua Dewan Perwakilan Wayang dengan gagah berani mengatakan bahwa kader partainya bahu-membahu berpartisipasi dalam revolusi menggulingkan rezim Duryudana di Astina. Dengan bangga dia menyebut bahwa ia punya 6000 kader yang bermukim di Astina aktif membantu revolusi disana. Padahal pada pemilu lalu partainya, Partai Kezaliman Sengsara, hanya mendulang 1500 suara. Buntutnya ia mengoreksi bahwa kadernya di Astina hanya berjumlah 600an saja. Lebay.

Media wayang pun sepertinya menyukai ocehan para politisi lebay. Dengan segera celoteh Burisrawa tersiar kemana-mana, termasuk ke Astina yang sedang bergolak. Mendengar kabar itu, antek-antek Duryudana terkejut bukan kepalang, tak menyangka bahwa negeri Mandraka menyokong pergolakan di negeri Astina. Sebagai reaksi, dikabarkan bahwa tentara Duryudana merazia warga Mandraka yang masih di Astina. Tak sedikit yang disakiti, atau setidaknya terhambat proses evakuasi untuk pulang ke Mandraka.

Banyak pihak menyayangkan klaim mulut Burisrawa tentang kadernya yang membantu revolusi di Astina. Salah satu warga negara Mandraka yang bermukim di Astina menyebut klaim itu sebagai bualan semata. Menurutnya, evakuasi warga Mandraka untuk pulang dari Astina lebih banyak dibantu oleh mahasiswa, bukan oleh kader Partai Kezaliman Sengsara seperti bualan Burisrawa. Lebih mengenaskan adalah nasib mahasiswa Mandraka yang sedang kuliah di Astina. Pernyataan Burisrawa memicu penangkapan mahasiswa Mandraka. Secara tegas perwakilan mahasiswa mengecam pernyataan ngawur itu karena berpotensi membunuh para mahasiswa yang tak bersangkut-paut apapun dengan revolusi di Astina.

“Politisi memang lebay” demikian pendapat Prof. Mbilung Sarawita, pakar komunikasi Universitas Wayang. Mbilung tak habis pikir dengan watak politisi belakangan ini. Tega-teganya mereka membuat pendapat ngawur. “Apa untungnya dia membuat klaim seperti itu, bukankah itu berresiko tidak hanya pada nasib warga negara Mandraka di Astina, tetapi juga nasib hubungan kedua negara. Astina akan menuduh negara kita berada di belakang aksi makar itu. Citra negara kita yang netral dan cinta perdamaian akan ternoda oleh pendapat itu.”

Senada dengan pendapat Mbilung, menurut Prof. Togog Tejamantri, para politisi dari sekte manapun punya kecenderungan untuk menjadi pendusta. Menurut guru bangsa wayang ini, rakyat wayang sudah terlalu sering dibohongi oleh politisi, baik yang duduk di eksekutif maupun yang masih berkutat di legislatif. ”Politisi terobsesi dengan pencitraan, sehingga mereka gampang mengucapkan kata-kata manis atau klaim atas prestasi tertentu. Ketika politisi tidak dapat membuktikan kata-kata mereka, dengan mudah para politisi menyalahkan media massa yang dituduh memelintir perkataan mereka.”

Mungkin benar pendapat kuno yang sering kita dengar bahwa dalam politik yang ada adalah kepentingan abadi. Hasrat berkuasa ini membuat politisi akan berbuat apapun, kalau perlu berdusta. Demokrasi yang mendasarkan kekuasaan pada suara terbanyak, menuntut politisi untuk pintar membual, meski ia mencitrakan diri sebagai kelompok relijius sekalipun. Kebiasaan berjanji kemudian tidak ditepati, kebiasaan pencitraan meski tak didukung fakta, telah menjadikan para politisi lebay menjadi tak beda dengan tabiat makelar karcis, suka mencari keuntungan ditengah kepanikan orang lain.

sumber gambar : picasaweb.google.com

Iklan

53 pemikiran pada “Revolusi dan Wayang Lebay

      1. Lho…
        SENGKUNI sbg saudara ipar Begawan/Resi Drestarata, ‘beliau’pun layak sejajar sbg Begawan/Resi…

        He he he…

  1. ternyata watak2 burisrawa sesungguhnya berseliweran di sekitar kita juga, mas sedj. dunia pewayangan secara simbolik terlah memberikan gambaran sedemikian jelas. sayang sekali, politisi kita sering “alergi” menonton pakeliran wayang.

  2. Benar banget. Negara lain yang bergejolak tapi negara kita hebohnya minta ampun menanggapi hal itu. Lebih baik mengurus hal2 yang lebih penting seperti peningkatan kesejahteraan rakyat atau pengungkapan kasus korupsi yg belum juga beres

  3. Waahhh…mangstab tenan…

    Ini namanya…
    DAGELAN FILOSOFIS atau
    FILOSOFI DAGELAN…
    Didalamnya ada
    FILOSOFI PLESETAN & PLESETAN FILOSOFIS…

    Tapi…
    Bagi ZOMBIE…apa bisa memaknai ya?!?

  4. ”Politisi terobsesi dengan pencitraan, sehingga mereka gampang mengucapkan kata-kata manis atau klaim atas prestasi tertentu. Ketika politisi tidak dapat membuktikan kata-kata mereka, dengan mudah para politisi menyalahkan media massa yang dituduh memelintir perkataan mereka.”

    sangat setuju dengan ini mas… 🙂

    miris.. 😦

  5. Berpegang pada ingat dan waspada jangan biarkan lobang lengah dalam jiwa, ikuti segala nasehat yang berguna untuk selalu mencari pengetahuan dengan berdasar bukti dan kenyataan, agar kita tidak menjadi wayang yang lebay mudah dipermainkan.

    Dengan mengatasi permaslahan yang kecil; maka, negeri ini akan dapat mengatasi permasalahan yang besar.

    Salam

    “Ejawantah’s Blog”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s