Bukan Mimpi Semusim

Dua puluh tahun yang lampau ia berangkat, meninggalkan kampung halaman Brebes yang dicintainya. Ia menuju sebuah tempat yang diyakininya menyimpan segala harapan. Giman, pria lulusan sekolah dasar itu pergi untuk meraih harapannya. Ia ingin mengubah nasib. Ia ingin kehidupan berkualitas seperti kaum bergaji di kampungnya. Maka ia merantau ke tempat yang disebutnya sebagai Jakarta.

Namun ternyata Jakarta tak sepenuh hati menerima kehadirannya, dengan terpaksa Giman menepi. Ia lalu terdampar di Jurangmangu, Pondok Aren, sebuah titik nun jauh di pinggir selatan Jakarta. Disana ia menemukan harapannya bak selobang jarum yang kemudian ditekuni selama dua puluh tahun sebagai sandaran hidupnya, menjadi pedagang gorengan.

Kampus STAN dan mahasiswanya adalah harapan Giman. Dengan pikulan seadanya ia terus menggoreng di pintu masuk kampus, tempat yang sama dengan ketika saya membeli gorengannya lima belas tahun yang lalu saat saya masih berstatus mahasiswa. “Saya pengen punya lahan disini Mas. Mau saya bangun kos-kosan mahasiswa.” demikian katanya lima belas tahun lalu.

Setelah belasan tahun berlalu, saya kembali ke kampus dan bertemu Giman di tempat dahulu ia berjualan. Ia masih menggoreng diatas pikulan kayunya. Ia masih memakai kaos kumalnya seraya menebar senyum kepada para pembeli. Juga Giman masih setia pada mimpinya sejak pertama ia mengenal tempat ini. Giman masih terobsesi dengan sebidang tanah untuk kemudian ia ingin membangun tempat kos. Sebuah mimpi yang belum jua sampai ke pelukannya.

“Sekarang pedagang gorengan makin banyak. Disini aja ada tiga” ucap Giman. Ia sadar, orang berdagang akan berurusan dengan persaingan. “Sekarang seharian paling banyak dapetnya dua ratusan ribu. Kalau untungnya, ya sekitar tiga puluhan ribu” Giman tak pernah menyerah. Dua puluh tahun ia bermimpi, namun sebidang tanah impiannya tak pernah berhasil diraihnya. “Harga tanah disini makin mahal aja. Ngumpulin duit gak pernah cukup buat beli. Jadinya ngontrak melulu”

Ia bukan tak menabung. Tetapi tuntutan hidupnya tak memungkinkan ia menjadi orang kaya di jakarta. “Tabungannya dikirim ke kampung. Bangun rumah di Brebes. Juga buat nyekolahin anak-anak. Disini kita ngontrak aja” lalu Giman bercerita tentang kedua anaknya yang bersekolah di Brebes. “anak saya yang gede udah kelas dua SMA. Sekarang saya dorong-dorong biar rajin belajar. Pengennya sih ntar anak saya bisa ngedaftar disini. Lumayan kan, gak bayar kuliah, ntar lulus gawe sama pamarentah” begitu Giman menuturkan mimpinya yang lain.

Giman adalah karakter orang yang pantang menyerah. Hari ini ia tetaplah Giman pedagang gorengan, bukan Giman juragan kos. Tetapi ia tak putus asa. Selama kampus dan mahasiswanya masih ada, Giman akan terus berperan, meski hanya dengan pikulan dan penggorengannya. Mimpi Giman belum berakhir. Kini ia punya mimpi baru lainnya tentang masa depan anaknya. Giman tak akan berhenti bermimpi. Karena dengan mimpi itu ia akan terbangun untuk kemudian ia bekerja.

gambar: giman dan para mahasiswa pelanggannya
gambar diambil dari makalah ekonomi makro mahasiswa kelas 2K jurusan akuntansi pemerintah sekolah tinggi akuntansi negara

Iklan

70 pemikiran pada “Bukan Mimpi Semusim

  1. jangan malu untuk ber’mimpi’, jangan takut untuk bermimpi dan jangan juga menyepelekan mimpi, meski tak semua mimpi dapat kita wujudkan di dunia nyata, mungkin tidak sekarang, tapi bisa jadi di generasi berikutnya, anak cucu kita, jadi jangan ragu untuk ‘mewariskan’ mimpi, tentu saja mimpi yang membawa kita lebih dekat dengan penciptanya.

    banyak hal besar berawal dari sebuah ‘mimpi’ atau dianggap mimpi. Awali dengan niat yang lurus, perjuangkan dengan ikhtiar dan doa yang tiada putus, sandarkanlah hasilnya pada Allah dan tetaplah berbaik sangka pada Nya, maka bukan tidak mungkin satu saat orang-orang akan takjub dan terpana, hingga terucap dari bibir mereka ” ini bagai sebuah mimpi” padahal nyata adanya.

  2. Ada banyak Giman di sekitar kita. Atau bahkan mungkin Giman adalah gambaran dari diri kita sendiri. Entahlah, dia yang gigih berproses demi sebuah mimpi, itulah Giman.

  3. Saya mengenal banyak Giman yang lain
    Yang tanpa ragu terus menggenggam cita dan harapan
    Meskipun rasanya harapan itu sulit dijangkau
    Siapa pun kita, sebagai apa pun peran kita saat ini
    harus punya semangat, kegigihan dan mau berkerja keras.

  4. Saya juga tak berhenti bermimpi dan menyemangati diri meski ada beberapa orang yang menjatuhkan dan berpikir takmungkin tapi saya menjawab cibirannya dengan senyum dan yakin (dalam hati) bahwa ALLAH akan memudahkan, menjadikan nyata impian seorang hamba yang mau berusaha,…

    harapan untuk mimpi itu tak pernah mati kecuali atau kita sudah berhenti berharap….

    Karena apa yang ada sekarang aalah buah dari impian, ayo jangan takut bermimpi 🙂

  5. Meski saya berusaha menghindar untuk tak ke Jakarta tapi karena ada tugas ya ke sana juga. Tak tahan dengan macetnya Jakarta, apalagi sekarang ini sudah semakin macet kalau sore bubaran kerja.

  6. agak telat masuk sini nih,
    😀
    mantap ceritanya,
    inspiratif bgt,
    ada pepatah bilang “stop dreaming start action”
    tapi saya gak setuju dgn hal itu,
    yg benar seharusnya “keep dreaming keep action”
    Salam sukses

  7. Mimpi memang harus dipegang erat. Karena dengan mimpi itulah kita punya kekuatan dan harapan untuk terus bergerak. Pak Giman, salut untuk Anda, dan juga penulis blog ini yang telah menuturkannya dengan sangat apik … ^_^

  8. di komplek rumahku, ada juga tukang bakso -yg dari saya masih remaja sampai sekarang – masih setia jual bakso dorong keliling! kadangkala saya berpikir: kok hidup mereka ga berubah ya? sementara sekitarnya udah banyak berubah!
    btw..lulusan STan toh, Mas?

  9. Luar biasa yah perjuangan pak Giman. salut.. nggak ada alasan buat bekerja keras, wlaupun emang latar belakang pendidikan nggak memenuhi.

    inilah mengapa Tuhan membukakan pintu rejeki dari tempat yang tidak disangksa-sangka hambaNya

  10. kegigihan Giman patut jadi contoh bagi kita semua ya Mas
    bunda mau ikut mengunjungi Giman akh,
    rumah bunda deket kok kalau ke kampus STAN 🙂
    pingin ngobrol dan belajar kehidupan dr Giman yg hebat ini.
    semoga mimpi Giman jadi kenyataan melalui anak2nya ,amin
    salam

  11. Ketekunan dari Giman lah yang patut kita tiru dan selayaknya jadi inspirasi semua orang untuk tidak malu dengan keadaan diri. Asalkan halal tidak ada alasan bagi kita menyembunyikan diri. Memang tidak mudah karena harus berhadapan dengan ego dan gengsi kita

  12. salute dengan semangat giman.. 🙂
    kita, layaknya bisa mencontohnya, bahkan di kesempatan yang sempitpun dia tak mematikan mimpi2nya… tetap optimis…

    makasih postingan yang membangun semangat ini mas.. 🙂

  13. liat gambar di atas… bisa dibayangkan……suasana yg guyub…sumringah..dan gurih sambil makan singkong goreng panas haha…dengan mimpi yang menjadi sumber segalanya..

  14. semoga orang-orang seperti Giman diberi kemudahan dalam setiap urusan.. amien..

    eh Kang tak pikir tu fotone sampean, sekali-kali lah pajang foto ndiri.. aku kan pingin ngerti sampean Kang.. yah sapa tau kita ketemu di jalan kan bisa rangkul-rangkulan hahaha

  15. Semangat pak Giman ini sama dgn supir taxi yg ketemu kemarin. Beliau sekolah hanya sampai smp, tp 2 anak telah selesai pendidikan tinggi. 1 tamat S2, 1 tamat S1. Tinggal si bungsunya yang masih sekolah.

  16. wah, postingnya udah agak lama y, udah ada posting baru. Tp, it’s ok, krn ceritanya mengharukan aku tetp mo komenin. SEMANGAT buat Mas Giman, mdh2an mimpinya dikabulkan Allah, amin..
    Yang pasti semua orang pasti punya mimpi 🙂

  17. Wah ternyata benar ini Mas Is….

    Saya sudi mas, prodip 1 angkatan 8, temennya Aris Subiyanto…

    Posisi sekarang di mana ?

    aku sekarang di kantor pusat, (jadi programmer) :mrgreen:

  18. Nama Giman mengingatkanku pada dua sosok yang kurang lebih mempunyai karakter n spirit yang sama dengan Giman Brebes ini:
    1. Sosok pertama adalah seorang ayah yang telah melanglang buana dari Magetan ke Malang, Batu, Jombang, Kedhiri, Jakarta, dan balik ke Ponorogo untuk sebuah tugas mulia menafkahi istri n anak2nya. Berkat kerja keras ga kenal lelahnya, kini putri tertuanya telah lulus Akademi Kebidanan, yang kini telah Beliau serahkan amanah kepemimpinannya kepada saya.
    2. Sosok kedua adalah tetangga depan rumah saya di Ponorogo. Pria asal pelosok gunung yang hanya lulusan SD ini hanya mengandalkan kerja ototnya sebagai pekerja harian. Namun, dari sedikit demi sedikit menabung sisa upahnya tiap hari, kini senuah rumah telah berdiri di depan rumah ibu saya. Dua tahunan lalu, ketika waktunya buah hatinya membutuhkan motor ternyata tabungannya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan itu secara kontan.

    Salut untuk Keduanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s