Bius Itu Adalah May

Menurut artikata.com makna kata bius adalah membuat orang lain tidak sadar akan keadaan dirinya atau keadaan yg sebenarnya. Dan saya merasakan itu ketika membaca karya-karya Karl May. Ketika May bertutur tentang Winnetou, saya merasa seakan melihat Old Shatterhand membawa senapan pembunuh beruang menunggang kuda Hatatitla (berarti Kilat) membelah padang prairie bersama Winnetou yang menyandang senapan perak dan menunggang Iltschi (berarti Angin), lalu keduanya menuju perkampungan Indian di tepi Rio Pecos atau berburu bison dan memanggangnya di hamparan rerumputan. Kalau saya tidak salah.

Tentang karya May yang masyhur itu, fisikawan Albert Einstein mengatakan testimoni penuh apresiasi “My whole adolescence stood under his sign”. Testimoni itu adalah satu diantara ulasan tentang karya May yang diyakini sebagai salah satu tulisan fiksi terbaik yang digemari oleh banyak insan di bumi. Maka disini hanyalah kesan saya saja, sebagai penguat bahwa tak salah jika Prof Emil Salim mengatakan “benang merah yang ditonjolkan dalam buku-buku Karl May adalah kedamaian, keikhlasan, keadilan, kebenaran dan ketuhanan.”

Sudah pasti, tetralogi Winnetou adalah fiksi fenomenal yang meninggalkan kesan dalam bagi pembacanya, termasuk saya. Pertemuan Old Shatterhand dan Winnetou melalui rangkaian cerita pendahuluan yang sangat dramatis, sehingga tumbuhlah persahabatan kekal antara mereka berdua, dan keduanya menjadi saudara sedarah adalah sebuah sifat egaliter yang ditonjolkan May dalam menginspirasi kesetaraan segala ras, suku dan bangsa manusia di bumi. Saya terkesan pada bagaimana May, yang notabene seorang kulitputih, menuliskan semangat kesetaraan ras, sedikit bertentangan dengan arus pada masa yang terkadang sering memunculkan penindasan dan diskriminasi.

Nilai kemanusiaan yang kental pada karya May adalah semangat perdamaian dan saling menghormati. Pada era 1800 akhir, suku Indian yang mendiami daerah Amerika sebelum kedatangan bangsa Eropa, tergeser kedudukannya menjadi masyarakat marjinal. Mereka diburu, wilayah kekuasaan adat mereka direndahkan dan disepelekan oleh “mukapucat” yang menjadi pendatang di wilayah “kulitmerah”. Tetapi Old Shatterhand adalah pengecualian. Ia memasuki kawasan kulitmerah dengan sikap penuh persaudaraan. Ia membela hak-hak kulitmerah, termasuk mengubah pandangan mukapucat terhadap kulitmerah.

Lahir dan besar di negeri bangsa Aria tak membuat May menjadi seorang yang merasa superior daripada bangsa lainnya. Bila filsuf Freidrich Nietzsche yang hidup sezaman dengannya mengecam agama sebagai sumber dekadensi dan tragedi manusia, maka May adalah orang yang teguh kepada agama namun bukan seorang yang fanatik pada agama. Seruan Howgh! yang sering diucapkan oleh Winnetou ketika mengambil kebijakan penting atau memutuskan sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama, adalah pesan May agar manusia lebih dulu berfikir sebelum berkata, dan bertindak konsekuen atas kata-kata yang diucapkan.

Rasanya tak pula kita perlu ragu pada konten sastra di setiap karya May. Ia menulis detil setting ceritanya seakan ia berada di lokasi penuturan, padahal tidak. May baru berkesempatan mengunjungi negeri Paman Sam yang dikenal sebagai Wild West, justru setelah ia merampungkan novel-novelnya. Pun kunjungannya ke Afrika dan Timur Tengah, kawasan yang menjadi tempat petualangan tokohnya yang lain, Kara Ben Namsi. Persahabatan tokoh lintas ras dalam fiksi May adalah simbol egalitarian yang menghapus fanatisme kesukuan. Disini, tentu saja dalam pengertian lebih luas. Kepentingan egoisme kelompok atau individu dialihkan menjadi penghargaan humanisme.

Generasi sekarang mungkin tak begitu faham dengan novel-novel May. Tetapi bukan tak mungkin kekuatan cerita itu membius orang yang mencoba membacanya. Saya merasa melihat Old Shatterhand mengisap pipa perdamaian dari calumet Winnetou. Sebuah pesan bahwa manusia, pada hakikatnya, dilahirkan dalam kodrat dan kedudukan yang sama. Manusia dilahirkan untuk saling berkerabat, bersaudara satu dengan lainnya. Tetapi ambisi dan egoisme telah menjadikan saling bermusuhan, saling menindas. Karl May menyisipkan pesan kemanusiaan itu pada novelnya yang legendaris. Kini, lebih seratus tahun setelah novel itu ditulis, saya bisa dengan jelas membayangkan Old Shatterhand dan Winnetou berlalu dengan kedua kuda mereka di padang prairie, sejelas saya bisa menangkap pesan kemanusiaan yang dibisikkan May melalui pilihan kata-katanya. Howgh!

sumber gambar: flickr.com

Iklan

51 pemikiran pada “Bius Itu Adalah May

  1. Wow… seru sekali perjalanan orang ini… bisa eksis di kala masalah ras sangat sensitif waktu itu…

    btw ada nggak contoh judul novel-novelnya, mo cari di internet 😀

  2. wahh reviewnya bagus banget, bikin penasaran…
    selama ini paling baca buku-bukunya Michael Crichton aja (dapet di internet :mrgreen: )

    Nyari bukunya Karl May ahh, Thanks infonya 😛

      1. dan dia melakukannya dari dalam penjara… saya pernah membaca kalau semua tokoh dalam novel itu adalah karakter sang pengarang sendiri yang mempunyai ‘keganjilan terbelah kepribadiannya menjadi sosok yang berbeda-beda’…
        reviewnya mantap 😀

  3. ini Novel? oalah…
    Saya dulu pencinta novel karangan Jhon Grisham, yang novelnya berlatar belakang kehidupan petani amerika.. Bagus sekali ceritanya..

    Kalau May? Saya belum pernah dengar.. 😀

  4. seperti halnya karl marx, karl may juga luar biasa fenomenal ya mas.. apa yg bernama awal karl itu emang keren2 ya.. hehe.. kidding…
    yup. buku2 seperti ini memang penting untuk dibaca terutama untuk mengasah nalar

  5. Jujur sebelumnya saya belum tau banyak ttg Karl May! saya cuma kenal nama tanpa tau ceritanya. Nama itu pun pertama saya kenal karena bos menyebut nama itu! Saya masih inget, waktu bos cerita Karl May ke saya, saya malah menganggap yg sedang dia ceritakan Karl Max ! Jelas beda kan? walhasil obrolan jadi ga nyambung ! 😀

  6. duh, jadi ingat masa2 remaja , suka banget dgn karya2nya Karl May
    dan, paling sedih ketika membaca bukunya yg berjudul Winnetou gugur.
    akh, benar2 persahabatan ”sedarah’ yg mengharukan .
    salam

  7. penulis yg berbakat (Karl May )direview oleh pengulas yg berbakat (Kang Sedj), jdnya ya dahsyat.
    Yg menarik membaca ulasan di atas, cara May memengaruhi pembaca mengetengahkan stigma tokoh kemudian mengubahnya menjadi paradigma nyata utk pembaca…

  8. menone jg ga paham nich novel2 may heheheheheheh….. malah br denger sekarang sob, ato emang menone nich katrok bgt yow hahahahahahahaha……….

    salam persahabatan selalu dr MENONE

  9. tertegun kadang saat melihat film atau membaca kisa-kisa orang hebat. dibalik itu sebenarnya ada juga orang yang lebih hebat. siapa itu? penyaji cerita / penulis / sutradara.
    mas sejadti punya banyak waktu ya baca-baca buku seprti karya may …… enak dong banyak ilmunya
    …………………………
    tentang dik fika bisa di baca di
    http://bchree.wordpress.com/2011/03/24/duacare-bantu-dik-fika/
    terima kasih mas, mungkin bisa disebarkan ke sahabat yang lain

  10. jujur saja, saya belum klar baca karya2 karl may, mas sedj. namun, dari berbagai ulasan yang saya baca, hampir semua pengulas menyatakan bahwa karya2 fiksi karl may memang bukan fiksi biasa. salam kreatif.

  11. membaca ulasan cerita di atas menarik y mas, aku tak terlalu kenal dengan nama penulisnya. cuma aku pernah baca buku karyanya Marry Higgin Clark, keren pokonya, tentang kepribadian ganda..

  12. Salam Takzim
    Yang hebat mah menurut saya kang Sedjatee karena dari akang lah saya tau informasi ini semua akang adalah guru yang patut ditiru
    Maap kang baru aktif lagi nih karena sakit
    Salam Takzim Batavusqu

  13. Mudah2an nyambung dan…jawaban kita atas multiple-choice dibawah ini dapat mendeteksi ‘seberapa-parah’ kita terkena pengaruh BIUS yg dimaksud mas Sedj. diatas…
    Multiple-Choice nya begini :

    Siapakah diantara ketiga orang dibawah ini, yang benar2 bangsa/orang Amerika ?-
    1. Ronald Reagan ;
    2. Arnold Schwarzeneiger ;
    3. Winnetou.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s