Silakan Administrasinya, Pak

Sore itu, sebuah nomor tak dikenal membuat ponsel saya menggeletar hebat. Sederet nomor asing dari orang asing muncul di layar. Meski ia benar menyebut nama dan gelar saya dengan lengkap, saya tetap yakin tak pernah mengenalnya. Penelfon itu, ajudan pejabat kementerian X sebuah kantor di Kalimantan Timur, mengutarakan niatnya agar saya, dengan cara apapun, dapat membantu anak si pejabat untuk diterima pada perguruan tinggi kedinasan tempat saya bertugas.

Well, sebuah lagu lama berkumandang kembali. Rayuan gombal itu bisa mengandaskan sebuah harga diri bila kita hanya punya integritas yang rapuh. Karena malas meladeni pembicaraan yang menjurus amoral ini, saya memilih berbicara sedikit-sedikit. Bukannya jera, gaya bertahan saya membuat sang juragan turut nimbrung. Jika itu adalah permainan catur, mungkin saya memainkan pertahanan Caro-kann, Guicho Piano dan pertahanan Nimzovich sekaligus. setelah sekian lama akhirnya diskusi via ponsel itu berhenti. Saya merasa telah “menang”, tetapi diujung sana merasa permainan berakhir remis. Lalu keluarlah jurus serangan terakhirnya, sebuah sms berbunyi “tolonglah Bapak usahakan, berapapun administrasinya akan kami siapkan.”

Administrasi. Tiba-tiba kata itu muncul dalam konotasi paling vulgar: bersangkut paut dengan uang. Padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diantara makna administrasi adalah usaha dan kegiatan yg berkaitan dg penyelenggaraan kebijakan untuk mencapai tujuan; atau berkaitan dg penyelenggaraan pemerintahan; atau kegiatan kantor dan tata usaha. Maka, jika saya membantu orang lain berkaitan dengan jabatan saya, lalu ia memberi saya uang, apakah itu disebut administrasi? Sepertinya tidak. Dalam arti leksikalnya, administrasi tidak menyebut kata uang, walau masyarakat telah lumrah menggunakannya untuk hal-hal yang berhubungan dengan uang. Ataukah kata administrasi telah menjadi sebuah istilah permisif untuk gratifikasi binti korupsi? Mari kita kaji.

Salah satu prestasi fenomenal bangsa ini pada tahun-tahun terakhir adalah korupsi. Menurut Transparansi Internasional, kita termasuk kelompok negara dengan indeks persepsi korupsi tertinggi, alias gerombolan negara paling korup. Beberapa pengamat bahkan menyebut korupsi sebagai tradisi, bahkan budaya. Dalam UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, termasuk modus korupsi adalah gratifikasi yaitu pemberian yang meliputi uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, dll. Dan setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.

Maraknya pemberian atau suap kepada aparat adalah suatu indikasi merajalelanya praktek korupsi. Amplop kepada panitia proyek, cek untuk anggota dewan, uang trimakasih untuk petugas pajak, parsel untuk pejabat, pada hakekatnya adalah gratifikasi. Bahkan, sembako dan rokok kepada pemilik suara menjelang suatu coblosan adalah suap. Tetapi yakinlah, meski hal itu gentayangan di depan wajah kita tiap harinya, bangsa ini belum punya cukup nyali untuk menyebutnya sebagai suap. Kasarnya, bangsa ini belum punya cukup harga diri untuk menyebut itu sebagai korupsi. Kita masih menyebutnya sebagai “administrasi” bukan “gratifikasi”. Maka tak usah heran bila kita tetap cuek dengan predikat bangsa yang korup, karena bangsa ini tidak membudayakan korupsi, suap atau gratifikasi tetapi administrasi. Segala urusan kongkalikong dan keculasan diselesaikan dengan satu kata: administrasi.

Bukan kali ini saja saya dikejutkan dengan pemaknaan yang salah atas kata administrasi. Sebagai warga negara yang baik, beberapa waktu lalu saya mengurus KTP dan Kartu Keluarga setelah pindah domisili. Di depan kantor kelurahan terpampang tulisan tentang pengurusan KTP gratis, tukang parkir buta huruf pun hafal tulisan itu. Maka saya pun merasa benar-benar puas ketika akhirnya KTP dan KK saya akhirnya kelar, meski layanan sangat terlambat dan saya merasa seperti bola ping-pong yang dipantul-pantulkan kesana kemari. Dengan polos saya meninggalkan kelurahan dengan memberi ucapan terimakasih dan senyum yang tulus. Namun di pintu keluar seseorang (pegawai keluarahan itu juga) berkata dengan wajah memelas dan penuh harap “silakan administrasinya, Pak” katanya sambil menyodorkan sebuah benda mirip kotak infak di masjid. Saya hanya bengong mendapat satu pelajaran baru, bahwa di kantor ini, administrasi adalah sebuah benda dari kayu berbentuk kotak dengan sebuah lobang kecil diatasnya dan gembok yang tergantung di pinggirnya. Itulah administrasi.

Sumber gambar: fellowshipofminds.wordpress.com dan facebook.com

Iklan

72 pemikiran pada “Silakan Administrasinya, Pak

  1. He he he…”administrasi”

    Malah ingat kalau mengadakan hajatan/kenduri dilingkungan kampung, hampir selalu ada warning…Jangan lupa lho siapkan WAJIB’é utk pak modin…

    Dan…yang mengherankan, apabila menyangkut UANG…apakah hasil administrasi, korupsi atau WAJIB…belum pernah ada fatwa atau label HALAL/HARAM/SESAT…ya?!?

  2. haha..kasian banget! sampe2 harus sediain kotak amal depan kantor, kayak di mesjid aja? berarti ngasihnya sukarela besarannya donk ya? Rp500 perak ga nolak toh? 😀

  3. jadi Bapak ngajarnya dimana?
    kalo ga mau administrasinya, saya titip aja deh dengan terimakasih 🙂
    # teruskan sikap tegasnya Pak, semoga menular ke yang suka administrasi berbeli #

  4. sepertinya fenomena seperti itu menjamur di seluruh pelosok negeri ini lho..

    temen saya kemarin pas bikin ktp jg diminta membeli korek api gas harganya 5ribu yang ditempeli kertas berstempel kecamatan.. payah banget yakin..

  5. Mending pak administrasinya pake kotak amal,seikhlasnya.
    Tahun kemaren saya buat KTP saya disuruh bayar 30ribu. Itu pun lama banget siapnya.
    Trus belum lama ini KTP sempet hilang, disuruh denda 50ribu + administrasi 30ribu lagi. Cape deh… 😀

  6. wah klo masalah administrasi ampun deh…kemana2 pasti ada uang administrasinya..itu sudah menjadi jati diri bangsa kayaknya..

  7. Baru saja menikmati mengurus beberapa dokumen tanpa si administrasi, meski lewat jalur berliku, meja ke meja, berjam bahkan berhari menunggu, plus dapat senyum aneh dari petugas, tapi puassssss banget dan berharap semoga negeri ini bisa berbenah diri dengan memperbaiki diri -diawali- dengan memahami makna “administrasi”…

  8. huahahaha, la yo ngono kuwi is, repot.

    La di tempat RT administrasi bukan kotak kayu, tapi bisa diartikan kaleng bulat yg dilubangi mirip celengan, terus ada tulisane :

    Tak ada receh, ribuan boleh 🙂

    wis awak dewe ngene kudu ngati2 tenan…ndek kantorku podo mati mudo, saking was-was-e le kerjo 😦

  9. Baru tau juga administrasi bentuknya kotak kotak 🙂

    mungkin administrasinya itu kotak kecil berwarna kuning berkilauan

    tapi ya itulah yang sangat sulit di hilangkan di negeri ini, butuh orang-orang yang tegas terhadap dirinya sendiri

  10. syukurlah akhirnya bs bertahan menghadapi ujian sang ajudan. anda akan mendapatkan sesuatu yg hebat satu saat kelak.
    Hal yg paling pasti adalah anda akan menjadi seorang yg akan terus berdiri ditempat anda sekarang,ketika org lain jatuh dlm kenistaan.
    Sy janji ttg itu,krn sy pernah membuktikannya.

  11. Mas Sedj. …

    Dari dua postingan terakhir anda, saya coba bikin juice yg ramuannya sbb :
    – PELAYANAN GRATIS… 250cc,
    – silahkan administrasinya, pak… 5cc,
    – bius itu adalah May… 0,5cc.
    ———————–
    diblender selama 7-menit…
    Jadilah…Juice GRATISIFIKSI siap disajikan
    Artinya PELAYANAN-GRATIS HANYA FIKSI

    ooo…nasiiib bangsaku…

  12. administrasi, sukarela, seikhlasnya,adalah beberapa contoh pungli…
    Memang berat banget godaannya saat bekerja di tempat pelayanan masyarakat, yaitu godaan tuk menculasi masyarakat…

  13. kunjungan perdana..
    masalah administrasi?… saya pernah ngalami pada saat itu saya diundang jadi MC ULTAH murid saya…pd saat mau pamit..saya diberi uang itupun dengan cara memaksa sambil bilang BUAT SARAT pak!!!
    dan dng terpaksa uang tsb saya terima dan besoknya uangnya saya belikan buku dan saya bagikan untuk satu kelas

  14. Sepanjang yang saya ketahui administrasi erat kaitannya dengan surat menyurat. Entah bagaimana mulanya kok sekarang jadi dikait-kait pula dengan keuangan. Apakah sebegitu halusnya bangsa ini sehingga pandai memelintir istilah yang tidak pas dipergunakan.

  15. Saya juga suka dikejutkan oleh hal-hal kaya gini, awalnya saya ini orangnya emang terkesan ngikutin aturan, jika tertera gratis ya gratis….kalau ada embel2nya saya bakal betanya sampai yang berasngkutan bilang “ya sudahlah tak usah bayar” karena mereka capek tak bisa jawab jujur.
    Bukannya saya pelit..ah…hanya berpikir, kan udah dapat gaji perbulan….

    Pertanyaan saya karena ketidak mengertian “untuk apa?” yang dikatakan administrasi itu?

    Tapi, karena saya tahu bakal menemui hal-hal sulit begitu, maka saya langsung to the point aja, kalau emang ada duit langsung kasih uang sekian yang penting KTP cepet beres….toh UUD (ujung-ujungnya Duit) juga mereka…..

    Ngurus paspor malah terang2an lho…”kalau Mbak ngurus sendiri seminggu dua minggu baru jadi Mbak, tapi kalau lewat calo bisa tiga hari” Kantor Immigrasi milik calo yah… :mrgreen:

  16. emg susah sih mas, dmn2 ‘uang tip’ seperti itu seakan berlaku, meski udah dibilang gartis, tp tetep aja ada yg minta.
    kira2 kita yg memberi itu duit, ikutan dosa gak ya?kan krn keadaan(keterpaksaan)

  17. duh gusti…betapa bobroknya moral negara ini…semoga Engkau tetap limpahkan barokah atas negeri ini…bimbing kami atas petunjuk-Mu ya Allah….
    kami masih mencintai negeri Indonesia, tetap berharap akan Baldatun Tyoyyibatun Wa Robbun Ghafur….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s