Jikun dan Hadiah Nobelnya

Kantor Paguyuban Sikil Telu terlihat lengang. Beberapa becakers terlihat merokok, membaca koran Wall Street Journal atau menonton siaran CNN. Wajah becakers kini terlihat sumringah, kontras dengan kesuntukan mereka beberapa waktu lalu ketika sindikat konglomerat multinasional merongrong kewibawaan. Jikun duduk di kursi presiden, mengamati iPad yang sedang berselancar ke situs ESPN. Tiba-tiba pintu kantor paguyuban diketuk. Seorang bule yang datang menaiki becak Kasno Paing menyapa, “Good Afternoon Mister Jikun”. Lalu kedua insan itu terlibat diskusi dalam bahasa Inggris logat Skandinavia. Setelah sejam Bule itu berpamit pergi, meninggalkan satu undangan untuk Jikun.

Undangan itu adalah dari Markas Besar The Nobel Foundation di Oslo, Norwegia. Beberapa waktu lalu, perwakilan dari The Royal Swedish Academy dan The Norwegian Nobel Committee melakukan kunjungan ke markas besar Paguyuban Sikil Telu. Interviu dengan beberapa becaker, para penguasaha kecil, para turis dan masyarakat terkait kala itu ditindaklanjuti dengan sebuah undangan mengejutkan untuk mereka: Jikun meraih Nobel Perdamaian.

Rekan Blogger. Itulah ending saga Jikun dan paguyubannya. Pada mulanya saya menghadirkan Jikun sebagai Presiden Paguyuban yang eksistensinya sedang diganggu oleh konspirasi terkutuk. Lalu Kang Andri mengutus Kasno Paing dan Slamet Bodong untuk melakukan investigasi terhadap konspirasi tersebut. Akhirnya Kang Hilal meringkus sang provokator sekaligus membedah konspirasi hitam yang mengancam eksistensi paguyuban.

Mengapa Kang Andri dan Kang Hilal? Pertanyaan itu menggelitik saya ketika embrio naskah Mozaik Asa sedang mencapai kekentalannya. Saya harus mencari dua orang asing untuk melibatkan paguyuban itu dalam konflik lalu menyelesaikannya secara elegan. Walau hanya mengenal dari tulisannya, saya menggamit Kang Andri dan Kang Hilal. Bagi saya, kedua blogger ini adalah penulis yang fantastis dengan tulisan yang menghipnotis. Maka saya beruntung ketika keduanya membuka tangan dan menuntaskan saga ini. Jadilah kami, Punakawan, sebagai kontestan Kecubung 3 Warna.

Mengapa Jikun dan Paguyubannya? Sebuah retorika yang pasti terjawab jika rekan blogger mendalami tulisan-tulisan saya, Kang Andri dan Kang Hilal. Secara kebetulan, kami bertiga banyak menulis tentang masyarakat marjinal, alias wong cilik, alias kaum proletar, alias rakyat jelata, alias KAMI SENDIRI. Maka ketika frame di kepala kami telah berresonansi, kami merasa telah berada pada frekuensi yang sama untuk saling bertukar gagasan dan melanjutkan tulisan.

Akhir saga ini? Simetris dengan Jikun dan hadiah Nobelnya, Trilogi Sikil Telu yang kami usung ternyata memenangi Kontes Kecubung 3 Warna sebagai juara pertama dengan skor 366, sedikit diatas skor juara kedua (342 poin) dan skor juara ketiga (341 poin). Saya merasa bangga bahwa kisah-kisah dengan tema rakyat jelata masih mendapat tempat di hati pembaca. Bahwa problematika masyarakat kelas bawah yang sederhana, jauh dari ambisi dan sepi dari pamrih masih bisa mendapat atensi.

I’m nothing without you. Paling pantas saya mengucapkan terimakasih kepada kompatriot saya yang entah berada dimana, Mas Hilal dan Mas Andri, atas kerjasama, keikhlasan dan totalitasnya. Juga kepada Begawan Kuis Blogger Indonesia, Pakdhe Cholik dan laskar Blogcampnya, juga Tim Juri penuh dedikasi: Advertiyha, Mandor Tempe dan Choco Vanilla yang telah menggelar hingar bingar paling unik di alam semesta ini. Terimakasih kepada juru komeng yang telah menghiasi “Mozaik Asa Diatas Tiga Roda” dengan 88 komentar. Semoga persahabatan ini terus berlanjut dan menjadi prasasti.

Iklan

74 pemikiran pada “Jikun dan Hadiah Nobelnya

      1. tak diragukan lagi, kang
        (dan mungkin kang andri bakalan setuju)
        jika ada yang harus dipuji
        Kang sedjatee lah orangnya

  1. Dulu begitu baca ceritanya waw panjang banget, eeeehh ga tahunya jadi pemenang, asyik nih!
    Saya baca tadi di Newblogcamp! Waw No 1, hebat pisan si akang.
    Selamat ya, semoga bermanfaat untuk menjadikan semangat kedepan

  2. Juri dan saya kayaknya sama rasa sama suka. Saya juga kepincut dengan cerita panjenengan itu lho.

    Namun demikian para juri tetap mandiri, saya hanya nunggu sambil lesehan ndengarkan campursari saja.

    Selamat ya mas.

    Tali asih yang berupa buku akan segera dikirim ke alamat masing-masing agar saya tahu siapa dan dimana alamatnya. Eee…siapa tahu kalau saya jalan kesana-kemari bisa kopdaran dengan mereka, tentu akan menambah paseduluran.
    Salam hangat dari Surabaya.

  3. Sugeng sonten Mas Sedjatee,

    Selamat atas kemenangan Sedjatee Cs dalam kontes Kecubung 3 Warna. Ada reply komentar mas Sedjatee di blog saya. ada permintaan tolong saya, silakan di baca dan mohon jawabannya. Matur nuwun

  4. cihuy..ada yg lg seneng nih..karyanya laku keras, sampe juara pertama lagi. emang tulisan2 mas itu kental sama budaya jawanya ya, artistik seperti itu.selamat ya!

    baru bbrp wkt absen bw ke sini, templatenya udah diperbarui ya, biar lbh fresh y mas, hehehe..

    ya, sayang ya foto 3 org di atas gak diberi nama lsng dibwh fotonya, jadi sy gak tau tiap2 foto tuanny mn..

  5. Selamat Kang,sekali lagi selamat..!!

    Semoga selamanya tetap berdansa dengan pena, dan menjadi penyampai pesan untuk orang2 arus bawah,,

    Salam jreng jreng jreng…

  6. Alhamdulillah, wa syukurillah. Selamat untuk Bang Sedjate dan grup Punakawan yang telah terpilih sebagai juara K3W. Sejak pertama kali membaca cerita Trilogi Sikil Telu, saya sudah merasa bahwa cerita ini sangat sangat layak jadi juara. Sungguh, meski tidak setiap hari bisa sowan di sini, saya selalu merasa perlu banyak belajar dari tulisan Kang Sedjatee.

    Sekali lagi selamat, 100% saya mendukung keputusan juri K3W.
    Oh ya, ide menjadikan tulisan K3W sebagai ebook, sangat cerdas dan saya dukung penuh. Tentunya, saya juga berharap bisa mendapaktannya. Boleh..boleh..boleh?! matur suwun

  7. mantab mas.. selamat ya mas..
    saya turut berbahagia 😀
    setidaknya ini jadi bukti bahwa blogger bisa jadi corong suara rakyat jelata yang selama ini hanya dijadikan komoditas oleh media konvensional

  8. wahhh,…senangnya…
    alhamdulillah, saya juga merasa senang, hehe..
    semoga tetap sukses kang.
    Saya masih perlu belajar banyak menulis kepada blogger2 hebat seperti pak sejati.
    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s