Hikayat Mansyur

64

April 20, 2011 oleh sedjatee

“Tumben masih disini, gak balik makan, Beh?” tanyaku.
“Enggak. Disini dulu lah, mumpung orang lagi gak ada. Kalo dapet penumpang kan lumayan” jawabnya.

Hari telah melampaui maghrib, tetapi orang yang saya panggil Babeh masih duduk diatas motornya. Ia sendirian di pangkalan ojek itu. Ia berharap, penumpang akan datang, dan itu menjadi rejeki buatnya, satu-satunya tukang ojek yang sedang di pangkalan senja itu. Tetapi, sekian lama penumpang tak kunjung ada. Ketika pengojek lain kembali memasuki pangkalan setelah makan malam mereka, Babeh beringsut pulang. Harapannya mendapat penumpang kali ini menemui ruang hampa.

Babeh itu adalah Mansyur, salah satu sosok legendaris yang masih bercokol di pintu masuk Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dari arah Jalan Ceger Raya. Ketika masih berstatus mahasiswa, saya melihat debut Mansyur sebagai pionir gerakan Ojek Masuk Kampus. Maka sebagaimana Mansyur berkata “saya sudah lima belas tahun ngojek di sini”, benarlah perhitungan saya ketika hari ini saya masih melihat Mansyur setia di persimpangan dengan sepeda motor bersejarahnya.

Ia lahir dan besar di lingkungan Sarmili, Jurangmangu Timur, rumah yang sampai hari ini masih ia tempati di usianya yang 52 tahun. Maka boleh dikata, Mansyur adalah saksi setiap detil perkembangan Kampus STAN. Dari dahulu berupa sawah masyarakat, hingga sekarang dimana STAN telah melahirkan puluhan ribu alumninya. Mansyur adalah orang yang menikmati berkah keberadaan Kampus STAN dan para penghuninya. Dengan sepeda motornya itulah Mansyur berkontribusi, juga untuk mengais rejeki.

“Saya dulu nyoba dagang pakaian di Tanah Abang.” Demikian ia menuturkan masa lalunya. Hanya bermodal status lulusan Sekolah Dasar menjadikan Mansyur tak punya pilihan. Ketika datang peluang sebagai pedagang pakaian, ia mencobanya, meski hanya di lapak kaki lima. Tetapi kuatnya persaingan dan tingginya kenaikan harga dagangan sebagai imbas resesi panjang ekonomi Indonesia membuat Mansyur gulung tikar dan kembali terpinggirkan ke habitatnya. Mansyur meninggalkan percaturan dunia perdagangan Tanah Abang, lalu memasuki dunia pembangunan sebagai seorang kuli bangunan. Tak bertahan lama karena faktor kerumitan dan tenaga yang merapuh, profesi itu akhirnya juga ditinggalkan.

“Kalo ngojek disini saya sudah lima belas tahun” lalu Mansyur memulai sebuah kilas balik yang membuatnya sangat bahagia. “Dulu sehari disini bisa dapat seratus rebu lebih” ujarnya mengenang masa lalu. Tetapi “sekarang semakin susah. Tukang ojek makin banyak. Dapat dua puluh lima rebu juga udah seneng” katanya sambil menunjuk deretan beberapa sepeda motor pengojek lainnya. “makin banyak aja pengangguran disini” katanya menyimpulkan.

“Mahasiswa sekarang banyak yang punya motor. Pada ngebawa motor dari kampung. Kalo enggak ya beli sepeda.” Begitu Mansyur menganalisa penyebab sepinya order mengojek. Meski untuk mengantar ke dalam kampus para pengojek bersedia dibayar lima ribu, omset Mansyur dan koleganya belakangan menurun drastis. “Di sekitar sini ada beberapa toko sepeda. Udah gitu, mahasiswa yang lulus pada ngejual murah sepedanya ke mahasiswa yang baru. Jadinya kita tambah sepi deh” pungkasnya dengan wajah memelas.

Dalam masa-masa lumayannya Mansyur mengalami apa yang disebut sebagai trickle-down effect yang ada dalam literatur-literatur ekonomi. Sedangkan hari ini, masa sulit yang dialami Mansyur dan jajarannya adalah realita dari aksioma “the vicious circle of poverty” yang dicetuskan Ragnar Nurkse. Ekonom Estonia itu menyatakan bahwa keterbelakangan, ketidaksempurnaan pasar dan kurangnya modal menyebabkan rendahnya produktivitas warga miskin. Rendahnya produktivitas mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka terima. Rendahnya pendapatan yang mereka terima berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi. Rendahnya investasi berakibat pada keterbelakangan dan seterusnya seperti lingkaran yang tidak berujung. Maka benar pendapat orang alim bahwa, Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu berupaya mengubah nasib mereka sendiri.

64 thoughts on “Hikayat Mansyur

  1. so.. semangat menjalani hidup, jangan hanya terlena dengan kenyamanan saat ini. keep spirit.😀

  2. bundamahes mengatakan:

    setelah profil penjual gorengan, sekarang tukang ojek, mantab Om!

  3. ahsanfile mengatakan:

    Kalo ngojek nggak fleksibel Mas…
    kalo punya langganan juga susah percayanya, soale takut menyalah gunakan kepercayaan😀

  4. popi mengatakan:

    Mansyur masih ‘seperti yang dulu’ sementara sedjatee udah jadi ‘orang’..😀 ! Di komplek saya juga ada tuh tukang bakso keliling yang dari jaman saya sekolah sampai sekarang masih setia jualan bakso keliling! trus ada juga ibu2 yang jual sayur panggul yang setia dengan jualannya. Mereka sepertinya ‘stuck’ di usaha itu2 juga. Kenapa kalo orang2 turunan tionghoa usahanya bisa berkembang, mereka tidak ?

    • sedjatee mengatakan:

      ya begitulah Poy
      banyak orang tak mampu mengubah nasibnya
      atau: banyak yang mensyukuri apa yang ada
      tapi mereka terkadang bahagia dengan yang didapat

      sedj

      • popi mengatakan:

        mungkin orang2 kita cenderung berpikiran: yang penting bisa makan, hidup untuk hari ini! Beda sama orang2 turunan, mereka berpikirnya jauhh..kedepan.

  5. Orin mengatakan:

    Suka dg teori the vicious circle of povertynya mas Sedj😉

    • sedjatee mengatakan:

      ketika saya memelajari teori itu saat kuliah
      saya fikir: ah masak sih, orang mau melarat terus
      tapi faktanya banyak begitu yg saya temui
      jadi, teori terkadang ada benarnya ya Rin..

      sedj

  6. Anugrha13 mengatakan:

    ceritanya sgt menginspirasi,,,,

  7. Mabruri Sirampog mengatakan:

    salut buat mas sedj, mengangkat cerita2 orang di sekitar untuk dijadikan inspirasi kita semua dalam menjalani hidup ini, bahwa hidup harus terus dijalani bukan untuk dihindari,, kalau ada usaha Insya Allah akan ada jalan dariNya…

  8. Batavusqu mengatakan:

    Salam Takzim
    Kasihan sekali bapak Mansyur, kenapa ga beralih menjadi pengojek sepeda di Tanjung Priok pak, lumayan lah disana sampai sekarang masih banyak ko yang mengais rezeki dengan sepeda
    Semoga suara pak Mansyur dijabah oleh Allah SWT
    Salam Takzim Batavusqu

  9. 'Ne mengatakan:

    teorinya terbukti benar ya..
    dan di Indonesia masih banyak Mansyur2 yang lain..
    sedangkan wakil rakyatnya seolah tak melihat..

  10. Agung Rangga mengatakan:

    Selamat pagi… 8)

    Wah, saya salut dengan pak Mansyur ini…😀
    Bagaimana tidak, beliau sangat gigih dan bertahan pada profesinya yang sekarang ini…😉
    Yah, walau pun benar, sekarang orang lebih memilih angkutan umum/kendaraan pribadi daripada ojek…😦

  11. HALAMAN PUTIH mengatakan:

    Allah memberikan kebebasan dan keleluasaan bagi manusia untuk mengubah hidupnya. Tinggal manusianya sendiri, mau apakah tidak mengusahakannya. Karena ternyata selalu ada cara untuk tetap dapat bertahan hidup.

  12. tunsa mengatakan:

    beberapa kali ke jakarta, nggak pernah liat pak mansyur ya?:mrgreen:

  13. ummurizka mengatakan:

    banyak kisah mansyur2 yg lain, yg membuat kita menjadi kasian, smg mereka bisa bersabar dan bahagia dg yg didapat.

  14. Anas mengatakan:

    semangat ya pak mansyur.. jujur sebenarnya Anda salah satu motivator saya dalam berusaha..

  15. masyhury mengatakan:

    Wah.. untung saja namanya bukan Masyhury..
    hihi..😀

  16. sawali tuhusetya mengatakan:

    bang mansyur hanya sedikit dari sekian potret buram warga masyarakat yang ada di akar rumput, mas sedj. jika diadakan survey, hehe …. masih banyak saudara bang mansyur yang jauh lebih tragis nasibnya.

  17. personal health care mengatakan:

    iya mas,, kita nggak boleh duduk manis di satu tempat nyaman, karena besok tempat itu sudah tidak nyaman lagi ..

    salam 🙂

  18. fitr4y mengatakan:

    qu akan berhenti ngojek mas, besok ku mw jadi supir angkot aja .. heheh
    🙂

  19. lyna riyanto mengatakan:

    sosok sederhana pekerja keras yg banyak kita temui disekitar kita, menjadi teladan karena semangatnya menjalani hidup.

    meski sederhana mereka membuat bangga ya Pak🙂

    ngemeng2 poto Pak Sedjatee mana?? ^^

  20. ratansolomj9 mengatakan:

    Mudahnya memperoleh kredit kendaraan menjadikan semakin bertambahnya volume kendaraan pribadi, dan semakin berkuranglah lahan pendapatan penjual jasa ojek. Memang kita harus pandai2 menyiasati hidup …

    Salam buat Bang Mansyur Kang …

  21. layungwengi mengatakan:

    Mungkin perlu dikaji dari segi psikologi. Mengapa kebanyakan orang miskin sulit berkembang di jaman kini? Bisa jadi berawal dari bagaimana mereka menyikapi kerasnya kehidupan ini. Begitu sering kita mendengar wejangan-wejangan dari orang bijak semisal: syukurilah apa-adanya hidupmu, atau: jangan melihat ke atas, lihat ke bawah. Wejangan itu (bagi aku yang awam) merupakan euphimisme dari ucapan: jangan bermimpi muluk-muluk.

    Indonesia ini, bagaimana mau maju kalau tidak mencontoh negara-negara kaya. Dan nggak ada orang bilang begini: hei, indonesia, lu jangan lihat amerika, lihat aja aljazair!

    Bukankah itu malah bikin orang miskin enggan berusaha. mereka malah menyerah pada nasib. mungkin mereka akan bilang: ya sudahlah, aku terima hidupku begini saja. tak mungkin aku bisa jadi orang kaya.

    Mudah-mudahan aja semakin banyak warga miskin yang mengerti, bahwa hidup ini selain disyukuri, juga mesti diperjuangkan.

    Salam kenal, bang sedjatee.

  22. achoey el haris mengatakan:

    Yup, bener bgt
    Jadi kita berikhtar merubah nasib🙂

  23. harestyafamily mengatakan:

    Satu lagi variable independent yg mempengaruhi poverty mnrt saya: informasi.

    Informasi bukan cuma data mati, tapi jawaban dari “bagaimana caranya” itu juga info..

    Banyak sekali info yg hanya berkutat di lingkungan tertentu…’

    mgkin begitu Om Sedjatee

    Salam,
    Keluarga Harestya

  24. jumialely mengatakan:

    kemauan dan kerja keras serta doalah yang bisa mengubah nasib kita.

    salam untuk pak mansyur ya mas sed

  25. wits mengatakan:

    suka sm postingan ini..menggugah nurani

  26. reedai313 mengatakan:

    kayaknya ane kenal ni ama Pak Mansyur…
    Wajahnya amat familiar..
    sama penulis ini juga kayaknya saya kenal..
    Tulisannya amat familiar…😀

  27. atmokanjeng mengatakan:

    Maka benar pendapat orang alim bahwa, Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu berupaya mengubah nasib mereka sendiri.

    kadang didistorsikan tentang ayat ini. Sepertinya semua orang harus menjadi “kaya’ agar terlihat seorang itu berhasil, mempunyai kualitas, atau bahkan dirahmati Tuhan karena telah bekerja dan berusaha dengan ‘cara yang benar’ (karena orang indonesia tampaknya belum bisa dipercaya ya,.. heheh.”
    tapi adakalanya… saya yang lebih awam..(kurang setuju dengan layungwengi)..lebih percaya bahwa Tuhan itu emmberikan yang terbaik bagi kita… ketika kita berdoa dan langsung diberi apa yang ktia minta, kita pasti sedang diberi yang terbaik… tapi kalau kita berdoa dan belum diberi.. karena ada yang lebih baik bagi kita yang akan diberikan Tuhan untuk kita…
    Bukankah Tuhan maha pengasih kepada hambaNya yang meminta…

  28. bundadontworry mengatakan:

    maaf Mas , OOT nih:
    bunda dah kirim parcel juga utk Mas Sedjatee,
    tlg dicek, semoga berkenan🙂
    salam

  29. Harry mengatakan:

    is it fiction or reality?

  30. Itu persis surat Arra’du (13) ayat 11 ya mas?

  31. Wandi Sukoharjo mengatakan:

    Apa author sedjatee.wp.com namanya Mansyur mas?

  32. aryna mengatakan:

    Kelihatannya suka menulis profil seseorang ya, Mas ? Baguslah, semoga dapat menginspirasi orang banyak. salam ^_^

  33. Sugeng mengatakan:

    Tidak semua orang bisa menekuni sebuah profesi dengan langeng meskipun hasil yang di dapati minim, tapi abah Mansyur telah membuktikan pada dunia. Semoga rejeki seperti dulu bisa di dapati lagi :lol;

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  34. niQue mengatakan:

    harus ada yang bodoh agar yang ada yang dibilang pintar
    harus ada yang ekonominya biasa2 agar yang berlebih mau berbagi
    harus ada yang sakit agar yang sehat mensyukuri nikmat sehat
    begitu seterusnya🙂
    klo semua pintar, semua kaya, semua sakit, gimana dong?🙂

  35. layungwengi mengatakan:

    Belum posting lagi ya bang sedj?

    Pak atmokanjeng kurang setuju dengan komen aku, hehe… maaf, ya…

    yang aku tahu, agama justru menganjurkan orang yang selalu berusaha dalam hidupnya. ini bukan berarti orang harus mengejar dunia tanpa memikirkan akherat. bukan. berusaha untuk menafkahi keluarga, menyekolahkan anaknya tinggi agar kelak anaknya bisa berguna bangsa, negara dan agamanya, apakah jika ada orang miskin bercita-cita tinggi itu bisa menyebabkan kufur nikmat? Apakah perjuangan mencari nafkah keluarga selalu dikonotasikan dengan hasrat mengejar dunia?

    aku sering membayangkan kalau aku berada di posisi orang yang hidupnya melarat, karena memang hidup miskin dan papa. aku sering curhat sama temen-temen bahwa aku ingin merubah hidupku agar bisa menjadi lebih baik, karena jika hidupku lebih baik, tentunya aku bisa membangun keluarga yang lebih baik, dan jika keluargaku lebih baik, mudah-mudahan aku bisa membangun masyarakat yang lebih baik, dst, dst. tapi orang-orang malah menganggap aku kufur nikmat, orang-orang menganggap aku pemimpi tingkat. apakah salah seorang pemuda miskin memandang langit?

    marilah sahabat, selain kita harus saling mengingatkan, akan lebih baik (dan enak didengar telinga) kita juga mesti saling memotivas. berdoa kepada yang maha kuasa, tentu akan lebih afdol jika dibarengi usaha.

    makasih bang sedj.

  36. sikapsamin mengatakan:

    Yang seru adalah…

    PERGULATAN dan PERSAINGAN MENGUBAH NASIBNYA SENDIRI…SEKALIGUS ‘MENGUBAH’ NASIB ORANG LAIN…dengan MENGHALALKAN SEGALA CARA…

  37. zhaomoli mengatakan:

    trickle-down effect kayaknya emang gak bisa dihindariin lagi pada jaman kita ini, wish the best for pak mahsur dan semua orang yang mengalami ini

  38. kamal mengatakan:

    ini dia nich postingan yang penuh inspiratif.. gw suka bgt gaya penuturannya…mantapp.. tukang ojek pun bisa juga menjadi bahan post.. yang inspiratif,,.. sukses ya bro”

  39. Ade Truna mengatakan:

    kemiskinan melekat, dgn kejahatan bersejawat….
    Alhamdulillah pak mansyur memilih jalan halal….anak turunnya mudah2an memutus mata rantai kemiskinan beliau, amin.

  40. dhila13 mengatakan:

    pak Mansyur, suka ada ga mahasiswa STAN yang dianter ke kampus UIN? *nyebut kampus sendiri.. hehe

  41. Salesman Jogjakarta mengatakan:

    Maka benar pendapat orang alim bahwa, Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu berupaya mengubah nasib mereka sendiri.

    Setuju Banget Dengan Kalimat Ini…So Kita Musti Kerja Keras Prend

  42. r10 mengatakan:

    di komplek ku juga kaya gitu, warganya pada banyak yg punya motor, tukang ojek sepi order

  43. Dangstars mengatakan:

    Saya setuju dengan ini,, Mas <blockquote "Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu berupaya mengubah nasib mereka sendiri".</blockquote

    • Dangstars mengatakan:

      Wah salah html nya tes lagi mas

      marilah sahabat, selain kita harus saling mengingatkan, akan lebih baik (dan enak didengar telinga) kita juga mesti saling memotivas. berdoa kepada yang maha kuasa, tentu akan lebih afdol jika dibarengi usaha.

  44. widayanto bintang mengatakan:

    Inspiring…..

    Silaturahim bang

    SAlam Star

  45. jangkrik blog mengatakan:

    profile dari pak mansyur dapat dijadikan posting blog yang inspiratif…
    kurang modal dan dukungan memang merupakan kendala,bahkan yang lebih parah,kalau seharusnya mendukung malah melarang😀

  46. fizer0 mengatakan:

    saya jarang maen ke ceger, saya taunya cuma tukang ojek kalimongso dan pjmi…:p

  47. PuteriAmirillis mengatakan:

    tanggung jawab pemerintah tuh ya pak menciptakan lapangan kerja bagi warganya…
    lingkaran kemiskinan..andai kita bisa membebaskan satu saja dari permasalahan2 mereka…mungkin memberdayakan blogger2 pak,,,(ide sekejap…)

  48. jumialely mengatakan:

    ngambil tiker, selonjoran nunggu update an😀

  49. Catatan SederhaNa mengatakan:

    aq ngidam STAN ga kesampaian ini malah dah 52th,🙂

  50. […] batavusqu saja yang menilai demikian namun dari para senior blogger sekaliber omNH18, pakde Cholik, kang Sedjatee dan kang Achoy juga mengacungkan jempol terhadap tulisan […]

  51. Goda-Gado mengatakan:

    wah sy salut dg pak Mansyur..

    karena saat ini saya sedang merintis bisnis ojek di kampungku mas.😀 doakan ya bang…😀

  52. dwiewulan mengatakan:

    ngintip lagi.. selalu dpt hikmah disini…
    salam pak sejati..apa kabar…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: