Bunga dari Langit

Sosok itu memberiku serangkai bunga. “Selamat datang mujahid” begitulah lisannya menyambutku ditengah dentuman senjata. Palestina memanggil kami, mempersaudarakan diriku dan dirinya. Lalu kami mengisi hari dengan perjuangan, cinta dan doa untuk Palestina.

Setahun lalu, saat akad nikahku terucap di tengah desing peluru, sosok itu hadir dengan bunga dan doa. “Lekas kembali, Saudaraku, Palestina menanti jihad dan semangatmu”. Lalu kepadanya aku berjanji, untuk Palestina aku pasti kembali.

Sebulan lalu sebuah serangan menghancurkan pasukan Palestina. Ledakan meriam memupuskan raganya. Dipelukku sosok itu berbisik “aku telah melihat syurga, kutunggu engkau dilangit ketujuh”. Ia pergi menyongsong janji, aku mengantarnya ke pusara para mujahid dengan karangan bunga.

Sore ini sebutir peluru menembus dadaku. Orang-orang mengusung jasadku ke pemakaman. Malaikat berjubah putih menyunggingkan senyum, memberiku sepasang sayap. Kini aku terbang, meninggalkan lelah, sedih dan sakitku. Kulihat sosok itu menaburi makamku dengan bunga dari langit. Sosok itu membentangkan sayapnya, mengirim pesan untukku, betapa janjiNya begitu indah.

Iklan

80 pemikiran pada “Bunga dari Langit

  1. Indahnya mati syahid… tapi banyak orang yang takut dan menganggapnya nggak pas untuk saat ini…

    **aku jadi ingat masa-masa tahun 2001 dulu mas (liqo)…
    mas Slamet sekarang di mana ya ?

    1. iya mamah aline
      mereka yang berjihad betulan tak pernah menyebut diri sebagai mati syahid
      tetapi orang yang bunuh diri sembari membunuh orang lain malah menyebutnya syahid
      hehehe… just kidding mama…

      sedj

  2. Indahnya jika seseorang menjemput ajal dalam keadaan mati syahid membela agama Allah SWT. Tetapi kebanyakan dari kita kadang ketakutan menghadapi maut yang berasal dari perang peluru dan senjata

  3. Kalau sudah ahlinya nulis pasti akan ada hikmah yang didapat. Sukses kang, jai menerawang masuk memimpikan sambutan Sosok itu yang begitu Indah.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  4. Waduw…berarti si akang udah tewas ni di medan perang? 😀
    Ah..indahnya ya kalau emang seperti itu.
    Pasti bakal bersyukur dan sukacita banget 🙂

  5. dalam islam tidak ada karangan bunga kan, yang ada di agama hindu, di hindu orang meninggal dunia diberi bungga karena bunga melambangankan dewa-dewa mereka. 😀 😀
    ………………………….. heeee ….. heeeeee
    untungnya cuman fiksi ……. heeee … nggak masalah lah
    yang jelas kau SENENG BANGET, ceritanya BAGUS kang, IDEnya ispiratif, semoga sukses yooooo

  6. assalamu ‘alaikum…
    semoga Sang pahlawan menjadi pembela islam yang tidak tercampuri dengan niat yang lain…
    kita mesti banyak bnbersyukur karena kita di Indonesia kita dalam keadaan aman..

  7. Tema yang tidak ada duanya. Pilihan kata muantep tenan. Kematangan usia memang berbicara.Sukses Pak Bos.

    Bapak Blogger Kepegawaian memang pantas disematkan pada beliau.

    kanglurikisdead

  8. “menaburi makamku dengan bunga dari langit”

    kalimat ini betul2 membius,
    bikin imajinasi saya tak beranjak ke yang lain.

    fuihh…

  9. yes, alhamdulillah. ketemu mbak..

    Palestina
    Jalur Gaza dibombardir pasukan Israel. Ribuan orang meregang nyawa, sementara di sini aku tertawa.

    Syahid
    Tubuhnya hancur dihantam meriam serdadu Isarel. Ia pulang dengan terbang sambil tersenyum berteriak menang.

    Syahid
    Pagi ini, Sutrisno pamit menjemput bidadari. Beberapa jam kemudian, ia pulang membawa peluru tersarang di badan.

    Syahid
    Peluru tajam menembus jantungnya hingga ia roboh. Namun ia bangkit lagi dan tetap hidup mengeluarkan aroma wangi.

    Syahid
    1 tahun silam, Sutrisno meninggalkan Titin menuju medan palagan. Semalam ia pulang membawa 72 bidadari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s