Ojo Kagetan, Ojo Gumunan, Ojo Dumeh

Adegan Goro-goro belum berakhir. Setelah berbagai tembang disenandungkan dan banyolan penuh edukasi dilontarkan oleh para punakawan. Saatnya kita menyimak penuturan Ki Lurah Semar kepada ketiga anaknya, tentang sebuah nilai hidup, tentang sebuah ajaran kearifan, tentang ojo kagetan, ojo gumunan dan ojo dumeh.

Ojo kagetan, jangan gampang terkejut. Segala kejadian di alam dunia telah tercatat dalam skenario besar Tuhan Yang Maha Pencipta. Tidak mudah terkejut salah satunya dapat dimaknai sebagai sifat tawakkal pada kekuasaan Yang Maha Kuasa. Watak ojo kagetan mendidik kita untuk tidak berbesar kepala menyikapi keberhasilan, dan juga tidak putus asa menghadapi kegagalan. Sisi lain dari nilai ojo kagetan adalah mengimani takdir. Dengan selalu sadar bahwa semua kejadian adalah skenario Tuhan, ojo kagetan mendidik kita untuk tidak latah berandai-andai, ”ah… seandainya tadi demikian dan demikian”. Tidak gampang menuduh orang lain ”ah, ini pasti gara-gara si anu”. Tidak gampang mengutuk dan tidak takabur.

Ojo gumunan, jangan mudah takjub. Ini adalah sebuah ajaran untuk menyikapi peristiwa hidup dengan bijak, arif, jauh dari prasangka, mengambil sikap yang wajar sesuai dengan proporsinya, dan tidak berlebihan. Dalam dunia yang semakin rumit, banyak tipu daya yang bisa merugikan kita manusia. Sikap ojo gumunan mengingatkan kita untuk eling dan waspada. Banyak hal yang terlihat baik, terlihat manis, namun ternyata acapkali menjerumuskan manusia ke situasi yang bisa menghancurkan martabat. Jangan larut pada hal-hal yang terlihat indah, tetaplah mempertimbangkan kebenaran dan akal sehat.

Nilai kedua dari ojo gumunan adalah ajaran untuk menjauhi watak tamak, serakah dan menuruti hawa nafsu. Sifat-sifat buruk itu salah satunya dipicu oleh mudahnya manusia terhipnotis oleh bujuk rayu dunia. Seseorang yang gampang takjub, akan mudah terangsang pada hal-hal duniawi dan pada akhirnya muncul hasrat untuk memiliki, menguasai alias tamak dan serakah.

Sisi lain yang terpelihara oleh premis ojo gumunan ini adalah agar kita tidak menjadi orang yang gampang kecewa. Orang yang gampang takjub akan mudah terpengaruh, gampang diperdayai, gampang dijerumuskan. Pada akhirnya, ketika kenyataan tak sesuai harapan, orang yang gampang takjub akan merasa kecewa, bahkan bisa membenci sesuatu yang awalnya dikagumi.

Ojo dumeh, jangan mentang-mentang. Ini adalah pesan untuk selalu rendah hati, sabar dan mengendalikan diri. Masing-masing kita memiliki status, yang rawan menjebak kita pada situasi untuk merasa istimewa, merasa lebih hebat dari orang. Tak sedikit orang yang merasa berkuasa lalu timbul ambisi untuk memperkaya diri atau memperbudak orang lain. Ada orang yang merasa hebat lalu terbiasa meremehkan dan merendahkan orang lain.

Dunia kita adalah alam yang dinamis. Apapun bisa saja terjadi. Semesta ini adalah semesta yang senantiasa berputar. Sesuatu yang kemarin berada di bawah, hari ini mungkin berada di atas. Dan sebaliknya apa yang kemarin di atas bisa saja besok atau lusa terhampar di bawah. Hari ini boleh jadi terlihat hebat dan berkuasa, besok mungkin saja ia terhinakan oleh karena tindak perbuatannya. Jangan terlalu banyak tertawa ketika senang, jangan gampang mengutuk di kala susah.

Pada sisi lain. Hakikatnya tiada kemustahilan selama manusia berupaya dengan tawakkal dan sungguh-sungguh. Kita tak boleh menyerah pada keterbatasan. Sesuatu terkadang terlihat sulit, hanya karena kita belum mencobanya. Sesuatu terkadang terlihat menarik, padahal banyak tipu daya di belakangnya. Mari kita jalani hidup secara lebih arif, jangan mudah terkejut, jangan mudah takjub dan jangan mentang-mentang.

sumber gambar : deviantart.com

Iklan

73 pemikiran pada “Ojo Kagetan, Ojo Gumunan, Ojo Dumeh

  1. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Semoga kita dapat menjalani hidup secara lebih arif, tidk mudah terkejut, tidak mudah takjub dan tidak mentang-mentang.

      1. Terimakasih banyak saya ucapkan kepada MBAH JENGGOT atas bantuannya yg telah memberikan saya anka jitunya yaitu (2425) dan alhamdulillah berhasil,berkat bantuan MBAH saya sudah bisa melunasi semua hutang2 saya di BANK BRI bahkan saya juga sudah punya modal usaha sendiri sekali lagi makasih yaa MBAH,anda mau bukti bukan kata2 silahkan hubungi (0852=9982=9111)MBAH JENGGOT,nomor ritual MBAH JENGGOT memang tidak ada duany*!!*<!!*<

  2. Benar banget. Sesuatu yang indah belum tentu bagus. Kadang bisa saja ia menipu. Sikap rendah hati dan ikhlas akan menjadikan kehidupan kita damai tentram dan jauh dari sikap sombong

  3. Wlo saya bukan orang Jawa, tapi saya suka dengan 3 istilah itu mas, sangat mudah mengingatnya, terutama Ojo Dumeh, sering baca di gerobak baso hehehe …

  4. Filosofi yang sangat keren kang, memang kita mesti jauhi sifat yang seperti itu……… 3 istilah diatas hampir sama dengan peribahasa jawa Adigang,adigung,adiguno yang selama ini selalu saya ingat……..:)

  5. BAGONG: “bagaimana kang Samin, setelah membaca artikel yg diposting pak Sedjatee tentang ajaran kearifan romo Semar diatas? Ada komentar?!?…
    Lho…kang Samin? Kok diam bertopang-dagu, sakit ya?”
    Samin: “mmm…iya GONG, mbok saya diantar atau dipanggilkan dokter atau orang-pintar.”
    BAGONG: “lha…yang dirasakan bagaimana?”
    Samin: “mmmbuh.., rasanya aneh kok GONG. Coba, beberapa minggu yl ada nasabah bank meninggal dianiaya debt-collector, ada berbagai pembobolan-bank. Disamping itu, solah-tingkah orang2 jaman sekarang ‘sing becik..disirik, sing ålå..dadi bålå’, dan juga ‘ora melu nandur.. ananging ndhisik’i ngunduh’. Melihat/mendengar semua itu.., saya kok sama-sekali ‘ora gumun’, ‘ora kaget’. Coba pikiren GONG, saya ini sakit atau ‘ketèmpèlan’ apa to GONG?”
    BAGONG: ?!*#*!? “waaahh saya jadi bingung dan takut kang Samin. Jangan2 nanti dokter atau orang-pintarnya…malah ketularan.
    Kalau begitu saya pulang dulu laporan romo Semar, minta ‘update’ wejangan beliau.”

  6. Saleum,
    saya teringat semasa masih SMP dulu, liat Semar dkk di layar TVRI diacara Ria Jenaka, walaupun lucu namun pesan moral yang disampaikan akan selalu membekas dihati saya.
    saleum dmilano

    1. @tunsa yth,
      Kalau nggak salah di Bali nama2nya :
      Tualen = Semar,
      sedangkan ‘anak2nya’ adalah
      Merdah,
      Delem, dan
      Buyut.

  7. saya suka gambarnya mas, mengingatkan saya pada wayang orang yang telah lama saya tak saksikan.
    tapi bukan berarti tak suka dengan ojo kagetan, ojo gumunan lan ojo dumeh. saya senang diingatkan begini, apalagi pake basa jawa yang sudah jarang saya pakai.

  8. Ikutan belajar wayang yang sarat akan makna yang terkandung. Bagiku ojo dumeh itu yang selalu membekas, makasih Kang atas sharing nya.

    Salam hangat serat jabat erat selalu dari Tabanan

  9. tiga wejangan ini yang penting banget tapi sering dilupakan.. jaman sekarang banyak orang lupa daratan..
    makasih mas udah posting tulisan ini, semoga akan banyak yang mengambil pelajarannya..
    jauuuhh lebih bagus dan bermanfaat Punakawan dari pada OVJ, humor yang bukan hanya lucu tapi juga memberikan pelajaran tentang kehidupan..
    salam..

  10. dulu pak harto pas mau meninggal dunia sering mengucapkan kalimat ini…

    tp sebelumnya memang kalimat itu sudah menjadi falsafah khas orang Jawa….

    semoga masih byk yg meresapi maknanya
    bukan sekedar untaian kalimat bijak biasa…

    terutama yg Ojo dumeh,

  11. 3 kunci filosofi ini yang harus kita pelajari dan terapkan dlm keseharian, agar bisa meikmati hidup dgn rasa syukur pd Sang Maha Segalanya ya Mas.
    terimakasih banyak utk tulisan yg sangat indah dan tentunya bermanfaat sekali, utk saya pribadi dan keluarga utk segera memperbaiki kualitas diri dan kualitas hidup
    sukaaaa…….. dgn tulisan2 Mas Sedjatee yang seperti ini
    salam

  12. Petuah kyai semar membuat saya berpikir kembali tentang arti hidup yang biasa saja. Tidak gampang kaget, tidak gampang gumun dan tidak sok. Yang biasa-biasa saja, yang sederhana saja, tidak berlebihan.

  13. dulu gak pernah doyan nonton wayang..
    lebih suka berantem2an, Om..
    eh, setelah tahu banyak pesan tersimpan
    dalam pertunjukan wayang..
    nyesel juga ni jadinya..
    hehe..

    ojo kagetan [uda suka yang ini, hampir mewakili dua yang lainnya]

  14. Mas Djati,

    Postingan dengan gambar 4 punakawan itu dari kanan ke kiri: di mata saya yang nampak adalah 1. Prabu Suryandhadhari, 2.Prabu Pathokol Baworsari, 3. Prabu Belgedhuwelbeh, dan paling kiri 4. Prabu Pandhu Pragola. Dalam kehidupan saya saya alami pernah berperan sebagai Nala Gareng yang punakawan. Namun pernah pula beberapa tahun menjadi Prabu Pandhu Pragola. Ha, ha, haaa

  15. jadilah pribadi yang mumpuni, sehingga menjadi panutan bagi sekelilingnya.. budaya, baiklah itu dari Jawa dan dari daerah manapun mempunyai kearifan lokal sendiri-sendiri yang berguna bagi kita semua..

    Seneng udah bisa mampir kesini, salam hangat dari Irak.. ya, Irak yang masih meledak-ledak itu..

  16. tiga falsafah hidup dari semar ini baik sekali diterapkan pada jaman sekarang ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh…. menjadi bijak dan menjadi manusia yang arif….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s