Di Tangannya Sebilah Kapak

Tak ada yang berubah pada raut wajahnya. Boleh jadi brahmana itu tak melihat segala sesuatu yang baru saja terjadi di rumahnya. Tetapi mata hati seorang Maharesi dengan terang benderang memberitakan apa yang tadinya tersembunyi. Pria itu, Resi Jamadagni akhirnya bergumam lirih, ”taman yang dahulu kubangun, pernah tumbuh indah dan sangat kucintai, tetapi kini air yang kotor telah merusak semuanya.” Resi Jamadagni kembali terdiam, namun sengal nafasnya tak mampu menutupi gejolak rasa yang sebenarnya. Sang isteri tak kuasa menatap mata brahmana suci itu. Sekujur tubuhnya menggigil, berkeringat dingin karena takutnya. Parasnya pucat pasi menahan malu, sesal dan rasa bersalah yang berkecamuk. Tak sepatah kata mampu terucap, mulutnya terkatup rapat, itu semua karena rasa bersalah. Ia merasa berdosa.

”Apa yang terjadi pada ibunda, Ayah?” pertanyaan kelima anaknya membuat Resi Jamadagni semakin tercabik hatinya. Lalu ia menjelaskan bahwa seorang ksatria dari Kerajaan Martika telah menodai cinta ibu mereka. Sang Resi lalu bertitah ”anak-anakku, siapa masih menjunjung tinggi darma kebaikan, turuti perintahku, bunuhlah ibumu”. Renuka terdiam dalam rasa bersalah, kelima orang anaknya ternganga dalam kaget dan gamang. Hanya anak terkecilnya yang selalu menyandang kapak, terlihat melangkah kedepan menuju busur dan panahnya. ”Ramaparasu, bunuhlah ibumu untuk membersihkan kesalahannya” perintah Jamadagni. Maka bocah itu, Ramaparasu, dengan kebencian kepada golongan ksatria menarik busurnya, sepucuk panah tertancap di dada Renuka.

Resi Jamadagni terkagum pada ketegaran hati putera terkecilnya, ”katakan apa yang menjadi keinginanmu, Ramaparasu”.
Dan Ramaparasu menjawab tentang permintaan agungnya, ”Ayah, hidupkan kembali ibunda tercinta, maafkanlah dosanya dan kuharap ayah melupakan kesalahan yang dilakukan. Lalu janganlah perbuatan membunuh ibunda tadi dianggap sebagai dosa. Lalu jadikan ananda seorang yang sakti tanpa tanding, berumur panjang dan Dewa Wisnu sendiri yang menjemput kematian ananda”
”Permintaan yang mulia, Ramaparasu. Engkau akan mendapatkannya” jawab Resi Jamadagni.

***

Namun tak ada sesuatu yang abadi. Kebahagiaan Jamadagni bersama keluarganya diakhiri oleh suatu malapetaka. Raja Hehaya menyerang pemukiman Resi Jamadagni ketika Ramaparasu sedang berburu di hutan. Hancur hati Ramaparasu melihat ayahnya tewas ditangisi ibu dan saudaranya. Ia berhasil menyusul lalu dengan senjata kapaknya menumpas ksatria Hehaya dan pasukannya, tetapi itu tak menghapus kesedihannya atas tewasnya Resi Jamadagni.

Para brahmana dan para resi merawat jasad Jamadagni. Jasad itu disucikan, lalu diletakkan diatas unggun kayu cendana, percikan api suci segera menyempurnakannya. Ramaparasu datang menatap jasad mendiang ayahnya, menghormat penuh takzim, lalu berkata lantang.
“Ayahku seorang raja, yang memilih menjadi brahmana karena benci pada kelompok ksatria yang mengusung hasrat dan ambisi dibalik setiap darmanya. Kini ia berpulang oleh karena orang-orang yang dibencinya. Kini aku, Ramaparasu, bersumpah, demi kesejahteraan hidup. Sekiranya aku tahu tentang adanya kelompok ksatria, maka aku akan mendatangi dan memusnahkannya. Saksikanlah wahai bumi dan langit, bahwa aku akan terus memerangi bangsa ksatria, mulai saat ini juga.”

Ramaparasu mengakhiri sumpahnya lalu pergi untuk menjelajah semua negeri. Angin pegunungan berembus mengiringi langkahnya. Pepohonan bergetar karena dilaluinya. Binatang hutan menjauh, setan dan iblis menyingkir pergi. Ramaparasu melangkah membawa amarah, dan sebilah kapak di tangannya, serta satu pusaka tersandang di bahunya, Bargawastra.

sedjatee – Ramaparasu akhirnya menemui ajal di tangan Wisnu dalam diri Ramawijaya
sumber gambar : flickr.com

Iklan

64 pemikiran pada “Di Tangannya Sebilah Kapak

  1. sosok yang gagah berani dari Ramaparasu yg tidak menghendaki adanya kesewenang2an seorang pemimpin…

    senang bisa baca2 tulisan seperti ini,, ditunggu cerita2 selanjutnya pak…

    salaam

  2. Wah pengalaman mas sedjatee dalam pewayangan luas banget saya bahkan tidak tahu siapakah tokoh ini namun mencerna ceritanya ternyata hikmahnya benar-benar sangat istimewa….. matur nuwun kang……..:)

    1. Jujur, saya juga nda tahu satu persatu tokoh pewayangan, namun saya berusaha mengambil hikmah dan pelajaran yang disampaikan, dan ternyata memang bukan sekedar cerita kosong belaka

  3. lagi2 hasrat utk mendapatkan sebuah filosofi dr kehidupan didapatkan dr sajian tulisan Mas Sedjatee 🙂
    selalu suka dgn tulisan mengenai perwayangan 🙂
    terimakasih Mas,utk tulisan yg indah ini 🙂
    salam

  4. “Ayahku seorang raja, yang memilih menjadi brahmana karena benci pada kelompok ksatria yang mengusung hasrat dan ambisi dibalik setiap darmanya.”

    Salut buat resi Jamadagni, dia endapkan kegelisahannya menjadi sebuah sosok: Ramaparasu. Sosok inilah yang kemudian menjadi solusinya. Sebuah pelajaran yang penting.

    salut juga buat kang sedjatee :p

  5. Demikianlah kehidupan, kebenaran(kesucian, brahmana) selalu mendapat perlawanan.
    “kelompok ksatria yang mengusung hasrat dan ambisi dibalik setiap darmanya” adalah sama kayak sebagian besar pejabat di negeri kita. sayagnya belum ada sosok Ramaparasu yang berjuang gigih menumpas para “ksatria” itu.

  6. Begitulah, apabila seorang pemimpin telah dirasuki keinginan untuk berbuat sewenang-wenang maka alamat kehancuran yang akan ia dapatkan. Dan penokohan dalam wayang tsb telah menggambarkan sosok tsb dengan sejelasnya

  7. wayang dizaman sekarang hampir tdk diminati anak muda, padahal dari ceritanya banyak pelajaran yang bisa dipetik dan dijadikan inspirasi untuk perubahan dan berbuat lebih baik..

  8. @mas Sedj.,

    Benar mas, jaman sekarang membutuhkan lebih banyak Ramaparasu…dan ber Triwikrama…

    BAGONG nyeletuk: “lha nanti kedepannya.., dalangnya kehabisan lakon, kang Samin?”

  9. Mantab…mantab…

    “Ramaparasu Gugat”…
    Apabila dialog, kritik, nasehat, saran, sarasehan, sentilan-sentilun…semua dijawab TIDAK!!!
    Hanya tinggal satu tindak pamungkas…”TRIWIKRAMA”

  10. apalagi saya yang masih bocah, tokoh2 pewayangan saja tak bisa ku kenali, hehe..
    tapi tulisan ini menumbuhkan tokoh wayang baru bagi saya.
    salam

  11. Ini cerita sempat membuat saya berfikir, apalagi disaat sekarang, apa mungkin “seorang raja, yang memilih menjadi brahmana” yang sekarang kursi menjadi sangat basah dan empuk 😀

    1. Sekarang ini..?!?

      Malah kelihatannya sdh ada brahmana ikutan berebut kursi basah dan empuk…

      makin ruwettt…

  12. berkali2 saya nymapaikan ide… kang sedjati nulis novel dong… yang terpenting pesan moralnya.. mantabh kang…. atau bikin kontest menulis kang.. jujur sy sedikit paham dengan cerita di atas… tapi ada yang mengganjal.. kenapa anak terkecil berani membunuh ibunya??? hmmmm 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s