Dalangnya Londo ya Pak

67

Mei 28, 2011 oleh sedjatee

Guru Darto pusing bukan kepalang. Nyaris setiap Selasa bertambahlah jumlah uban di kepalanya. Itu semua karena setiap Selasa ia harus mengajar pelajaran Bahasa dan Sastra Jawa. Jujur saja, meski ia adalah seorang Jawa tulen yang lahir dan besar di Jawa, ia tak begitu faham dengan struktur bahasa Jawa, terlebih lagi jika disangkutkan dengan sastra Jawa, khususnya wayang. Maklum, di masa sekolah ia tak suka pelajaran itu. Itulah mengapa Guru Darto lebih memilih bertemu jin iprit daripada harus menjawab pertanyaan murid-muridnya tentang wayang yang tidak begitu dia kuasai.

Inilah yang sulit. Menjadi guru sekolah dasar rasanya harus menjadi profesor segala tahu. Mengajar semua pelajaran, sementara anak-anak sekarang makin cerdas dan daya nalarnya tinggi. Selasa pekan lalu Guru Darto kelabakan menjawab pertanyaan seputar struktur bahasa Jawa. Demi melihat wajah gurunya yang mendadak culun itu, tawa murid-muridnya malah semakin keras tanpa rasa iba sedikitpun.

***

Tapi Selasa pagi ini Guru Darto siap membuat takjub para muridnya. Kepada muridnya ia telah mengatakan rencana mengajak anak-anak itu ke sebuah pentas wayang kulit di alun-alun kabupaten pekan depan. Dan pagi ini, Guru Darto telah menyiapkan sebuah kejutan khusus. Kemarin ia membeli dua wayang kulit di pasar mainan. Sebenarnya ia hanya ingin membeli wayang Hanuman, satu-satunya wayang yang ia kenal. Tetapi karena pedagang mainan berjanji memberi diskon jika ia membeli dua, membuat Guru Darto akhirnya membeli satu wayang lagi. Lalu ia memilih Sengkuni.

“Pak Darto mau mendalang dimana to? Bawa dua wayang saja kok nggak nyambung gitu” begitu kepala sekolah mengomentari kehadiran Darto dan kedua wayangnya pagi tadi.
“Nggak nyambung gimana to Pak?” tanya Darto polos.
“Lha sampeyan bawa Hanuman sama Sengkuni itu mau mbabar lakon apa, baru kali ini ada jejer Hanuman tampil bareng Sengkuni” lanjut Kepala Sekolah sambil tersenyum. Darto pusing tujuh keliling.

Tetapi Darto tetap percaya diri. Memasuki kelas, murid-muridnya bersorak riuh rendah melihat kedatangan Darto membawa dua benda yang mereka anggap sebagai mainan. Ketika dengan bangga Darto menjelaskan bahwa dua “mainan” itu adalah wayang kulit, makin keraslah tawa murid-murid cerdasnya itu. Darto semakin senang.

“Anak-anak, inilah wayang kulit yang pertunjukannya akan kita lihat minggu depan”
Wajah Darto semakin berseri-seri ketika anak-anak itu bersorak “Horeee…”
“Coba lihat .. yang ini namanya Hanuman, seekor kera sakti, berwatak pemberani membela yang benar. Hanuman adalah prajurit kesayangan prabu Rama” ujar Darto sambil mengangkat wayang ditangan kanannya. Anak-anak tak kenal wayang itu memandang dengan takjub, Darto bahagia.
“Hanuman punya bapak enggak ya?” tanya muridnya
“Punya donk.. “jawab Darto sekenanya.
“Trus kalo yang satunya siapa donk?” tanya murid lain dengan gaya acuh.
“Yang ini.. mmm.. kalo gak salah namanya Sengkuni” jawab Darto ragu sambil mengingat ucapan kepala sekolah pagi tadi.
“Ooo… berarti dia rombongan pelawak juga ya Pak, sama dengan Gareng dan Bagong ya Pak?”
“ya benar” ucapnya sekenanya namun penuh percaya diri.

***

Pertunjukan Wayang Kulit di alun-alun kabupaten ini digelar dalam rangka ulang tahun kabupaten, sekaligus pentas kerjasama budaya dengan negara Perancis. Setelah tadi malam dalang lokal telah mementaskan wayang kulit semalam suntuk, acara pagi ini adalah giliran seniman-seniman Perancis mendemonstrasikan kebolehan mereka menggelar wayang kulit. Semua awak pertunjukan, mulai dalang, penabuh gamelan hingga sindennya berasal dari Perancis.

Darto dan murid-muridnya telah berada di deretan kursi paling dekat dengan panggung. Maklumlah, tontonan wayang selalu sepi karena tak begitu menarik minat masyarakat. Orang-orang lebih tertarik pada tayangan sinetron di tipi atau orkes dangdut yang bisa dinikmati sambil berjoget. Para pejabat bergiliran memberi sambutan, anak-anak mulai bosan, memilih untuk mengerubungi pedagang makanan, Darto kewalahan.

Pertunjukan dimulai. Dalang Perancis itu hanya mementaskan adegan Goro-goro selama dua jam yang juga diisi kebolehan para sinden mengalunkan tembang-tembang. Goro-goro sedang berlangsung, Darto dan murid-muridnya kembali mendekat ke panggung. Tiba-tiba seorang muridnya berseru “Dalangnya Londo… hei, lihat. Itu dalangnya Londo”.
“Iya” jawab yang lain “horeee…” tiba-tiba anak-anak itu bersorak gembira
“Dalangnya Londo ya Pak?” tanya salah satu muridnya, “Iya” jawab Darto.
Seorang anak kembali berseru “Pak, Pak.. Yang main Petruk sama Bagong, Pak”
“Kok Hanuman sama Sengkuninya belum keluar ya Pak?”
“Iya.. tunggu saja, sebentar lagi Sengkuninya muncul” jawab Darto asal bunyi.

Adegan perkelahian Bagong melawan Gareng memperebutkan sebungkus rokok terlihat ramai. Kalimat demi kalimat muncul dari mulut dalang bule itu. Bahasa yang kaku berlogat asing membuat penonton tertawa riuh. Murid-murid tak faham wayang itupun senang melihat suasana pertunjukan menjadi meriah.

“Dalang Londo sama Sinden Londo itu kok bisa pinter ya Pak?”
“Itu karena mereka tekun belajar wayang. Makanya kalian harus serius belajar. Ya”
“Bukan gitu Pak. Mereka pinter main wayang karena wayang itu asalnya dari negara Londo”
“Iya juga ya. Mungkin benar juga kalo wayang berasal dari Londo”
Tiba-tiba, wayang lepas dari pegangan sang Dalang Londo. Plaaak, jatuh tepat di wajah Darto. Murid-murid tertawa, hiyaa….

***

sedjatee – semoga wayang tambah dicinta
Fakta : meski telah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia, sebagian besar generasi muda Indonesia tidak mengenal wayang (hasil riset akan saya tulis kemudian)
Sumber gambar : kompasiana.com

67 thoughts on “Dalangnya Londo ya Pak

  1. sedjatee mengatakan:

    beberapa waktu lalu saya melakukan sebuah survey kecil-kecilan pada generasi muda, dengan sebagian objek (responden) adalah mahasiswa saya. survey tentang wayang itu membuat sebuah hipotesis fantastis. apakah itu? insyaAllah tulisan mendatang akan jelas… hehehe..

    sedj

    • arif mengatakan:

      ditunggu hasil surveynya😀. sebetulnya saya juga malu sbg generasi muda asli jawa ndak banyak ngerti ttg kesenian sendiri. btw, klo di kampung saya, purworejo, ada dalang yg lg terkenal, karna dia adalah dalang cewek😀

    • Masbro mengatakan:

      Wah, Mas Sedjatee bikin penasaran nih, hehe..

      Tulisannya bagus dan menggelitik kita semua sebagai generasi bangsa ini. Sukses selalu Mas..

    • tresna mengatakan:

      saya adalah salah satu mahasiswa yang di survey, hahhaha
      dapat dapat pertanyaan :
      “dimana terjadinya perang baratha yudha?”

  2. anikrahayu mengatakan:

    NUMPANG INFO YA BOS, bila tidak berkenan dihapus saja🙂

    LOWONGAN KERJA PENAWARAN GAJI SAMPAI 15 JUTA/Bulan

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan, Yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, dikantor/diwarnet yang memiliki koneksi internet
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta RUPIAH
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA per data Rp10rb rupiah, “Bila Anda Sanggup” mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50data=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan = Rp500rb x 30hari = Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://entrydatagroup.blogspot.com/

  3. 'Arief mengatakan:

    Ditunggu kelanjutannya yg fantastis dari Pak Dosen. Bisa jadi suatu saat, kita belajar wayangnya ke perancis. Sdangkan saya yg penggemar keris (tosan aji) paham, tiap bulan saja berapa ribu keris t0mbak lawasan dibawa ke eropa sana (kalo pas pemb0r0ng kulit putihnya dateng). Dengan harga ‘untingan’, per bilah bisa 25rb 50rb mgkn lebih murah lagi. Empu ne nek menangi po ora semaput kuwi . .
    Jaman memang sudah berubah. Wong jowo ilang jowone, karena memang tidak ada lagi bangsa jawa, yg ada ya satu bangsa endonesa. Rahayu . . .

    • sedjatee mengatakan:

      saya prihatin dengan kabar itu Mas
      tapi saya yakin kondisinya memang telah begitu parah
      tiada pemaknaan lebih baik lagi pada warisan budaya
      selain keris, wayang salah satunya…

  4. Asop mengatakan:

    Waduh, pemain gamelannya…😳

  5. Arif Bayu mengatakan:

    Wah tidakkah malu kita sebagai orang indonesia tetapi malah negara lain yang belajar & memahai kebudayaan kita….. semoga kedepannya generasi bangsa ini lebih mencintai budayanya sendiri ya kang……..amin…….:)

  6. Mabruri Sirampog mengatakan:

    ributnya kalau sudah diakui negara lain, baru deh kita ngotot itu kepunyaan kita, tapi untuk menjaganya aja enggan…. renungan buat saya sendiri…😦

    • sedjatee mengatakan:

      yup… sepertinya musti dikerjain dulu sama orang lain ya Kang…
      kalo negara lain udah klaim budaya kita,
      barulah kita merasa punya warisan budaya
      padahal tak sepenuhnya kita mencintai budaya kita sendiri

  7. monda mengatakan:

    pernah posting artikel Museum Wayang, alhamdulillah setelah itu ada aja pencarian dengan kata kunci aneka jenis wayang, misal wayang sadat, wayang beber dll,

    bisakah itu menunjukkan masih banyak yang cinta wayang?

  8. apikecil mengatakan:

    suka sekali sama pesan moral di akhir tulisannya
    semoga wayang selalu dicinta..
    sukses selalu ya ms..

  9. Lidya mengatakan:

    kesenian ini harus dilestarikan tapi kok ya disekolah2an kita jarang sekali ada ya

  10. guru rusydi mengatakan:

    saya salut ama semangat belajarnya orang2 londo gitu. bener2 semangat mengetahui negara lain. saya juga pengen belajar ngedalang, di sini ada wayang sasak, tapi sampai sekarang gak kesampaian. alasan klasik

  11. Anas mengatakan:

    benar pak sedjatee sangat disayangkan sekali,, padahal di luar negeri orang-orang pada mempelajari wayang..😦 perlu adanya pendidikan wayang yang masuk kurikulum sekolah..

  12. fitr4y mengatakan:

    dalangna londo ya mas,, weee seru,, tapi malu uga ya ,, masa anak muda kita malah menyukai sinetron hingga yg jadi dalang datang dari perancis ..

  13. personal health care mengatakan:

    qu belom pernah nonton wayang secara langsung,,

  14. ¤ HILAL ALIFI mengatakan:

    semasa saya kuliah,
    pagelaran wayang diadakan dikampus saya.
    saya perhatikan,
    yang nonton penduduk setempat (hampir) semua,
    orangnya udah pada tua2.

    temen2 kampus cuma datang-pergi sebentar2.
    termasuk saya…

  15. pakde sulas mengatakan:

    mungkin pakde ini slah satu orang yang bukan penikmat wayang kulit , bukan tidak suka, mungkin karena ceritanya sejak dulu itu-itu juga

    sedang pakde sendiri penikmat lagu-lagu campursari

  16. adetruna mengatakan:

    itulah kondisi terkini masyarakat jawa…

  17. Pendar Bintang mengatakan:

    Ini postingankedua tentang Wayang dalam bulan ini yang Hani baca Mas…dan jujur Hani…meski tak suka…dan sebenarnya tak suka bukan karena tak bangga tapi belum tahu dna belum kenal…makanya berlahan ingin kenal…

    Dulu, saat kecil papa sih suka ajakin nonton wayang di TV dan ceritain apa maksud dari cerita wayang itu,,….tapi setelah lulus SMA Hani udah keluar rumah jd kebiasaan itu sudha hilang…

  18. r10 mengatakan:

    saya komen foto kedua saja yah, pemainnya bule cantik😀

  19. HALAMAN PUTIH mengatakan:

    Kalau keadaannya semakin menyedihkan bisa2 kekayaan budaya yang ada di negeri kita ini habis diangkut orang ke mancanegara. Kawula muda kita justru lebih dekat dengan budaya barat dalam keseharian mereka.

  20. mamung mengatakan:

    inget dulu pas SMP ada pelajaran Pewayangan, jd tau apa itu blencong, knp gunungan diputer 7 kali, knp hrs pake debog pisang dll..

    prihatin jg skrg perhatian generasi muda sgt kurang terhadap budaya, wayang salah satunya..

  21. ysalma mengatakan:

    ditunggu hasil surveynya Pak,
    karena dipastikan, saya juga ga begitu kenal dengan wayang, kecuali sisa-sisa ingatan membaca buku baratayuda😦

  22. achoey el haris mengatakan:

    wow
    orang bule aja suka budaya kita
    ayo kita pun mencintainya🙂

  23. Mega mengatakan:

    sebenarnya prihatin juga.. tetapi masalah informasi / sosialisasi serta sarana dan prasarana yang mendukung juga kurang

  24. lintasberita mengatakan:

    Wah orang londo ae bisa ngedalang jangan sampai kita yang memiliki budayanya sampai ga ngerti..salam kenal ya kalau berkenan untuk tukar link disini aja Tukar Link Otomatis

  25. popi mengatakan:

    knapa ya. .orang asing lebih gemar semua budaya kita, sementara kita sendiri (‘kitaa??””…saya engga loh! 😀 ) engga begitu care ama budaya sendiri! hm..

  26. rochman mengatakan:

    Hebat londo lodonya, Jawa hebat penemuan wayangnya.
    Generasi mudanya ?

  27. dmilano mengatakan:

    Saleum,
    walaupun saya orang aceh, namun saya suka akan cerita wayang, namun saya sukanya wayang golek… hehehe….
    saleum dmilano

  28. ichsan mengatakan:

    Alhamdulillah saya masih ingat sama wayang, tp iya juga ..
    knp generasi saya kurang mendukung ini yah -_-”
    kebanyakan ntn hollywood jd lupa sepertinya !

  29. mamah Aline mengatakan:

    saya tunggu risetnya mas sedjatee… soal wayang, memang saat inikurang sekali minat anak muda untuk menonton pertunjukkan bahkan menjadi pedalang.
    Kalo di keluarga saya,kami pupuk dulu rasa suka pada wayang golek bobodoran yaitu wayang yang gak terlalu pakem mengikuti alur cerita tapi banyak lawakannya . yang penting suka dulu, baru dikenalkan pada profil tokoh wayang, cerita, pakem yang baku

  30. Abi Sabila mengatakan:

    Pak Guru Darto tuh saya banget.

    Pertama nda mudeng babar blas dengan tokoh dan cerita wayang ( beruntung ada Mas Sedjatee yang dengan keahlian mengolah kata dan penguasaan cerita wayang yang tak diragukan, saya mulai banyak mengambil hikmah dari cerita wayang. Ini bukan echo, bukan sekedar muji, ini asli…sli..sli..heheheh )

    Yang kedua, Pak Guru Darto sama seperti saya, ubannya terus bertambah, hanya saya belum sempat melakukan riset setiap hari apa warna hitam di rambut kepala saya berubah warna. Hahahha

    Dan pesan buat pembaca tulisan ini, ketiga dalang sedang menyajikan goro-goro, jangan sekali-kali membuat gara-gara, kalau tak ingin bernasib sama seperti Pak Darto, Plaaak! Hehehe…

    Tidak semua yang lama itu jelek, seperti juga tidak semua yang baru itu bagus. Lestarikan yang bagus, tinggalkan yang jelek. Salut untuk komitmen mas Sedjatee pada wayang.

  31. Suke Semarang mengatakan:

    Iya mas, warisan budaya kita melimpah, namun sepertinya kita taruh di tempat sampah, namun klo dipungut bangsa lain, kita teriakin dia maling, agak malu jadi endonesa….

  32. TUKANG CoLoNG mengatakan:

    di Bali sendiri aku rada miris liat orang pendatang lebih mengenl budaya sendiri daripada warga aslinya..

  33. chocoVanilla mengatakan:

    Saya memang belum pernah nonton wayang kulit, lebih senang membaca kisahnya😦

    Semoga kita semua makin peduli dengan warisan budaya ini ya, bukannya ribut dan marah-marah klo sudah diklaim bangsa lain.

  34. gerhanacoklat mengatakan:

    walah kang, saya koq ya penasaran sama tokoh Sengkuni ini belom pernah denger lho

    • sedjatee mengatakan:

      @ Kang Semarang : sepakat Kang, lumayan memalukan
      @ tukang colong : wadhuh, parah juga ya..
      @ chocovanilla : berarti harus mencintai sepenuh hati
      @ Julie gerhana : lihat politikus busuk Jul, mereka sengkuni

  35. sawali tuhusetya mengatakan:

    makin kacau kalau pak guru darto njawab pertanyaan muridnya asal2an, mas sedj. guru sd menjadi rujukan peserta didik. jangan2 mereka nanti tdk percaya kalau wayang itu budaya asli indonesia. bener2 repot!

  36. Salesman Jogjakarta mengatakan:

    Mudah mudahan Generasi Muda kita Masih tetep cinta Wayang…Ntar kalau ada yang ngaku budaya Negeri Seberang Baru Ramai.

  37. Goda-Gado mengatakan:

    wah wah wah..
    bener2 SEDJATEE
    bener2 pegiat pewayangan sedjate
    sy sejak sd jujur memang tidak terlalu suka dg pewayangan
    bs jd karena adanya film jepang
    bisa juga krn guru2 saya tidak bisa menceritakan kisah pewayangan dg baik

    namun sy pernah memperoleh cerita ttg Rama dan Hanoman oleh guru saya dr awal sampai akhir,
    dan hasilnya memang sy dan kawan2 saat itu menjadi lebih senang dg wayang dan selalu menunggu cerita dongeng dr pak guru itu setiap pelajaran.
    barangkali, kesimpulannya memang kemasan dlm bercerita sepertinya jg penting

    klo wayang di digitalisasikan cocok g mas?🙂

    • sedjatee mengatakan:

      wayang digital? ide menarik
      tapi akan ada yang tak tersampaikan dari format wayang posmoderen
      bdw, seneng juga ya dah pernah dapet cerita wayang

      sedj

      • Goda-Gado mengatakan:

        lho sy malah iri sama sampeyan ini
        sy dulu sering dikasih cerita tp gak tahu ceritanya lagi
        dah lupa😦

        ya tentu saja pasti akan ada sesuatu yg hilang
        tp barangkali itu bs menjembatani modern dg klasik

        krn khan dunia berkembang
        drpd punah begitu saja bukankah lebih baik jika dimodernisasi?

  38. ratansolomj9 mengatakan:

    Wayang memang O .. Yee …

  39. video syur mengatakan:

    Pesindennya cantik ya?

  40. Sugeng mengatakan:

    Wayang sekarang bukan hanya menjadi konsumsi dalam negeri, namun sayangnya pemerhati wayang di negeri ini masih kurang. Malah di banding di luaran sono, lebih banyak gaungnya. Mungkin harus ada seorang yang memang yang idealis untuk membuat wayang menjadi lebih maju lagi. JAngan setelah di caplok negara lain kita baru marah2 gak karuan.😦

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  41. eiklil mengatakan:

    saya sangat berharap.. kang sedj ini membuat sebuah karya.. dengan tulisan yang ringan.. gampang dicerna… dan lebih baiknya lagi dengan lakon pewayangan..jujur, samapi sekaga belum paham ttg lakon pewayangan apalgi memerankannya…. hehehe kasian guru darto nya tuh…

  42. jarwadi mengatakan:

    “Lha sampeyan bawa Hanuman sama Sengkuni itu mau mbabar lakon apa, baru kali ini ada jejer Hanuman tampil bareng Sengkuni” lanjut Kepala Sekolah sambil tersenyum. Darto pusing tujuh keliling.

    saya berhenti baca dulu ngakak mengutip pada kalimat ini LD

  43. akhnayzz mengatakan:

    manteb pokoke sedjateene,,
    mrono-mrene sopo seng melu sedjatee
    monggo-monggo disumonggoaken,
    kesengsem karo wayange aq..

  44. kang ian dot com mengatakan:

    karena saya berasal dari ranah parahyangan sya paling suka dengan wayang golek apalagi kalau udah bodorrannya heheheh

  45. Paintsplash mengatakan:

    I seemed to be aware about this already, however there was clearly a few helpful pieces that concluded the picture to me, thank you!

  46. mushola graha mengatakan:

    sangat perlu sekali untuk dikembangkan dan pelestariannya warisan budaya kita, terutama terhadap para siswa pelajar dari generasi yang masih di tingkat dasar sampai berikutnya, sebab orang luar (asing) pun mau mendalami seni budaya di negeri ini, kenapa justru masyarakat dan generasi kita sepertinya malah semakin berkurang,,,,
    (salut buat dalang londonya ,,,,,, )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: